Rabu, 30 Desember 2015

For My Beloved ELSA






















“Pemuja Rahasia”


          -Pukul 11:30 WIB, di Sentiong-

          Siang itu begitu terik, panas matahari sangat terasa menusuk kedalam kulit. Namun, ada pemandangan aneh di salah satu makam baru yang ada di bawah pohon rindang dekat pagar pembatas itu, di sana tampak seorang pemuda dengan baju serba hitam mulai dari atasan hingga bawahan pakaiannya, nampak jelas sekali bahwa pemuda itu sangat berduka atas kepergian orang yang terbaring di makam itu. Sebuah makam baru, yang jika aku tak salah ingat, itu adalah makam seorang gadis muda nan cantik, yang meninggal karena insiden yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh semua teman, keluarga, bahkan orang tuanya. Setahuku, gadis itu meninggal saat ia sedang berlibur ke salah satu objek wisata sungai di daerah Bengkulu Utara. Saat itu, -dari apa yang kudengar- ketika ia sedang berenang bersama teman-teman dan semua orang yang juga sedang berwisata kesana, tiba-tiba debit air sungai naik dan arus besar menyapu semua orang yang berada di aliran sungai itu, sehingga gadis itu, dan juga masih banyak orang lainnya hanyut dan terbawa arus sungai. Nahas bagi gadis itu, ternyata itu adalah saat-saat terakhir gadis itu bersama dengan teman-temannya, karena saat dia ditemukan oleh Tim SAR yang dibantu warga setempat, dia sudah terbujur kaku dengan luka lebam di sekujur tubuh, yang ku yakin itu disebabkan oleh benturan dengan bebatuan besar yang tersebar di seluruh tubuh sungai.
Telah lama sudah aku melihat pemuda itu berlutut di samping makam, tak kurang dari 60 menit sudah berlalu, sejak kulihat pemuda itu datang dengan membawa seikat bunga melati putih dengan baunya yang khas hingga tercium olehku yang berjarak sekitar 2 meter dari tempat pemuda itu. Kulihat, saat tadi dia datang dan berlutut di samping makam itu, saat dia mulai membacakan do’a, terlihat dari sudut matanya menetes perlahan titik-titik air mata yang mengalir di pipi merahnya –karena terbakar terik matahari-. Sesekali kulihat ia juga mengelap air matanya dengan sehelai tisu, sementara sayup-sayup kudengar ia mengucapkan kata,
Aku tidak menangis, kan kamu sendiri yang mengajari aku bahwa aku harus selalu kuat dalam menghadapi liku kehidupan, apapun yang terjadi
Aku tahu ia berusaha untuk tegar dan menerima takdir bahwa ia sudah tidak bisa lagi bertemu dengan orang yang namanya tertulis di nisan makam itu. Sepertinya dia sangat terpukul atas kepergian gadis itu, hal itu terlihat jelas terlebih saat tadi ia mengelap nisan makam gadis itu dan sesekali menciumnya. Suatu hal yang lazim dilakukan oleh orang yang merasa sangat merindu atas kepergian orang yang disayanginya. Apalagi memang gadis itu masih teramat muda dan berparas begitu cantik serta setahuku dia, almarhumah dahulunya adalah salah satu anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) tingkat Provinsi Bengkulu. Sebuah prestasi yang sangat membanggakan dan sebuah predikat yang ramai diincar oleh banyak teman-temannya  yang lain.
          Kurasakan sinar matahari semakin terik, jadi, aku memutuskan untuk mencari tempat agar aku bisa berangin dan mendinginkan kepalaku yang terasa panas karena sorotan matahari di musim kemarau.
          Tak lama waktu berselang, kulihat pemuda itu mulai berdiri dan sepertinya hendak beranjak dari makam gadis itu. Ku lihat dia berpamitan kepada gadis yang terbaring di makam itu, dan sekali lagi, dia mencium nisan putih itu dan perlahan membalikkan badannya berlalu meninggalkan makam. Gerak kakinya yang lamban menuturkan kalau dia sangat berat untuk pergi dan meninggalkan gadis itu sendiri. Namun, setelah ia berdiri terdiam, sekarang dia telah menentukan satu arah untuk berjalan, dan kulihat, dia berjalan menuju sebuah bangku panjang yang diduduki seorang pemuda yang berada tak jauh dari makam gadis itu. Dia berjalan ke arahku. Dengan sedikit menunjukan senyumnya, dia bertanya kepadaku,

          “ Boleh aku duduk di sini? “ tanyanya.

          “ Ohh.. tentu.. tentu saja. Adam juga pasti akan senang jika aku berbagi tempat duduk dengan orang lain. “ jawabku.

          “ Ohh, ma’af, kalau aku boleh bertanya, Adam, apakah dia orang yang spesial untukmu? “ tanya pemuda itu.

          “ Ia, dia adalah sahabat karib ku, kami mulai berteman sejak aku pindah ke Bengkulu, waktu itu kelas 2 SD. Jika pada umumnya anak baru di sebuah sekolah mendapatkan banyak teman, berbeda denganku, hari pertama aku masuk sekolah baruku, aku langsung mendapatkan musuh, dialah Adam Leelawadee, dia juga merupakan anak pindahan sama sepertiku, ayahnya asli Bengkulu, sedang ibunya asli Ambon. Namun, akibat disorganisasi keluarga, dia menjadi anak yang nakal, dan pembuat onar di sekolah. Meskipun begitu, aku tidak pernah dendam, malah, aku berusaha untuk menjadi teman dekatnya, meskipun sulit, tetapi akhirnya aku bisa melunturkan keras hatinya, aku bisa menjadi temannya dan ,menjadi sahabat dekat yang senantiasa menjadi mata dan telinganya, menjadi teman dan kakaknya. Sampai waktunya tiba, dia harus kembali kepada Pencipta kehidupan. Dia dipanggil oleh Tuhan saat dia berusia 16 tahun, saat itu kelas dua SMA, selama kami menjalin pertemanan, baru saat itulah aku tahu, bahwa dia memiliki prinsip tidak ingin merepotkan orang lain, selama kurang lebih 8 tahun kami berteman, ia tidak pernah sama sekali menceritakan kepadaku tentang penyakit yang dideritanya. Barulah saat ia tiba-tiba pingsan dan digotong ke Rumah Sakit, disanalah aku tahu kalau selama ini dia menderita kangker darah, dokter bilang kalau Adam telat dua bulan dari jadwal biasanya untuk cuci darah, sehingga ia tak bisa tertolong lagi.. “

Aku berhenti sejenak, tak kuasa mengingat kenangan masa lalu yang baru saja melintas di depan mataku. Dan tak terasa air mataku mengalir sendiri tanpa kusadari, mengingat kenangan yang begitu manis namun pahit di akhirnya.
Aku menghela nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan kembali ceritaku yang tadi, aku lihat dia masih dengan setianya menungguku menyelesaikan cerita, sepertinya dia tahu bahwa aku merasakan apa yang dia rasakan tadi saat dia berada di samping makam gadisnya. Setelah merasa cukup tenang, aku melanjutkan sedikit sisa ceritaku yang belum kuselesaikan.

          “ Dia, Adam, sudah mengajarkan aku banyak hal tentang cara untuk menjalani hidup dengan ikhlas, tanpa perasaan terpaksa. Dia adalah motivator, dia adalah inspirasiku, aku banyak belajar dari perjalanannya, bagaimana dia merubah 360 derajat kehidupannya, dari yang awalnya anak nakal, ketika remaja dan dewasa ia berubah menjadi pribadi yang baik, ramah, taat beribadah, dan sangat santun. Karena itulah, aku sangat menghormati sahabatku itu, aku selalu kemari saat aku merasa rindu dan saat aku membutuhkan bantuannya untuk melewati setiap kesukaran hidup yang aku temui. Meskipun sekarang dia tak ada di sampingku, tapi, aku merasa aku selalu bisa mendengar suaranya, karena itulah, aku tidak pernah merasa terpisah darinya. “

Sekarang aku sudah selesai menceritakan kisah menyenangkan yang aku alami bersama sahabatku itu, kulihat dia tersenyum, senyum yang begitu ikhlas, entah karena ia ikut merasakan apa yang aku rasakan, atau dia mencoba untuk menghiburku agar aku tidak terlalu larut dalam kesedihan seperti yang selalu dia lakukan sedari tadi. Tak banyak pikirku, aku ikut tersenyum kepadanya, dan sesaat kemudian aku memberanikan untuk bertanya kepadanya tentang hal yang sedari tadi membuatku penasaran, aku ingin tahu, siapa sebenarnya gadis cantik yang terbaring di makam itu.

          “ Mmm.. ma’af kalau aku lancang ingin tahu, tapi, boleh aku tahu siapa gadis yang tadi kamu temui? “ tanyaku.

Sambil menyunggingkan senyumnya, pemuda itu menjawab,

          “ Dia, Elsa, sahabat sekaligus wanita yang begitu spesial untukku, aku memang bukan siapa-siapa baginya, hanya mengetahui sebatas nama dan kelas, karena kami satu sekolah dan satu tingkatan. “ katanya.

Pemuda itu menghentikan ceritanya, dan menatap ke hamparan langit biru nan cerah. Aku mencoba untuk memberanikan diri sekali lagi bertanya kepada pemuda itu.

          “ Kenapa tadi kamu bilang kalau dia adalah wanita yang spesial untukmu? “ tanyaku.

Kulihat dia menatapku sejenak, entah apa yang dia pikirkan tapi aku mencoba untuk menebaknya, sepertinya dia berpikir bahwa apakah tepat jika dia menceritakan tentang temannya kepada orang lain yang bahkan baru di kenalnya beberapa waktu yang lalu. Tapi, yang membuat aku tak habis pikir, ternyata dia mau untuk berbagi cerita kapadaku.

          “ Elsa adalah cinta pandangan pertamaku, aku bertemu dengannya saat Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah, kami mendaftar di sekolah yang sama. Entah bagaimana bisa tapi kami selanjutnya menjadi lebih dekat setelah kami dipertemukan dalam satu regu saat Masa Orientasi Siswa.
          Saat itu, dia menjadi pemimpin kelompok untuk regu kami, hal itu sangat pantas karena dia memang memiliki background sebagai anggota Paskibra saat di SMP. “ katanya.

Kulihat dia mencoba mengingat-ingat sesuatu, tapi hal itu cepat dilupakannya dan kembali melanjutkan ceritanya.

          “ Selama masa MOS itu berlangsung, aku terus mencoba untuk mendekati dia, saat sedang istirahat makan, aku memberanikan diri untuk bertanya siapa namanya, darimana asal sekolahnya, dan aku bahkan bertanya kenapa dia memilih untuk mendaftar di sekolah ini. Dengan terus melepaskan senyuman, dia menjawab satu persatu pertanyaanku, dan hari itu, aku berhasil mengetahui namanya, Elsa Dava Selgia. “Nama yang benar-benar cantik, seperti orangnya” pikirku waktu itu. “  lanjutnya.

Pemuda itu kembali menghela nafas panjang, lalu kembali kedalam ceritanya.

          “ Waktu cepat berlalu, dan sekarang, kami sudah resmi menjadi siswa dan siswi SMAN 2 Bengkulu, setelah aku mengetahui ruang kelasku, aku langsung mencari ruang kelas wanita pujaanku itu, aku kembali ke papan pengumuman di dekat ruang guru, dan mencari satu-satunya nama yang ada dalam daftar teman baruku. Kulihat daftar nama siswa yang diterima di SMA itu, mulai dari kelas X IPA A sampai X IPS C, kuperhatikan dengan teliti, dan berhenti mencari, karena aku telah menemukannya, “ X IPA E “ kataku. Perasaan sedih bercampur sedikit senang waktu itu, sedih karena tidak bisa satu kelas dengannya, sedikit senang karena mengetahui letak kelasnya berhadapan dengan kelasku. Letak kelas yang berdekatan membuatku sering berkunjung ke kelasnya, namun karena aku berpikir bahwa aku hanya pemuja rahasianya, jadi setiap kali aku masuk ke kelasnya, saat warga kelas bertanya, yang aku bilang hanya, “ Aku ingin main bersama teman-teman SMP ku dulu “ padahal jelas sekali, meskipun akhirnya aku berkumpul dengan teman SMP ku, tapi pandanganku tak pernah lepas dari gadis itu, Elsa. Seperti kataku tadi, waktu cepat berlalu, hampir setiap hari kugunakan waktu istirahat untuk pergi ke kelasnya, hanya untuk melihat apakah dia masuk sekolah atau tidak. Setiap paginya, aku tak pernah lupa untuk bersiap diri di depan kelas, kapan dia datang aku langsung menyapanya dan di balas dengan senyumnya yang manis, itu cukup untuk membuatku tetap semangat menjalani hari-hari yang melelahkan selama jam pelajaran sekolah. Hari-hariku di sekolah tak pernah membosankan, karena setiap kali kebosanan merayap sekujur tubuhku, aku bisa saja setiap waktu menyapanya, dan melihat senyumnya yang indah bak mekarnya bunga mawar. “

Mendengar pemuda itu mengucapkan kata “ setiap kali aku melihat senyumnya, aku seperti mendapatkan semangatku kembali “ aku teringat dengan Adam, karena dalam menjalani suka duka hidupnya, Adam tak pernah mengecilkan senyum. Dan satu kalimat yang sampai sekarang selalu aku ingat yaitu dia pernah mengatakan padaku “ Teruslah tersenyum, karena setiap kali kamu tersenyum, satu masalah dalam hidupmu akan hilang “
Awan mulai menutupi matahari, dan menyamarkan sinarnya sehingga membuat udara terasa sejuk sekarang ini. Pemuda itu menyambung ceritanya yang tadi, entah mengapa dia berpikir dia harus menyelesaikan ceritanya, mungkin karena dia sudah merasa nyaman dengan kehadiranku sebagai telinganya disini, terka ku.

          “ Satu tahun berlalu, sekarang kami lebih dekat dari sebelumnya, meskipun hingga saat ini aku belum mengatakan padanya perasaanku yang sesungguhnya. Teman-teman ku yang satu kelas dengannya sudah mengetahui perasaan terpendam ku pada gadis itu, mereka bisa melihat dari gelagatku yang selalu salah tingkah jika dekat dengannya, selain itu aku sering bengong, menatap kearah gadis itu bahkan saat berkumpul dengan teman-temanku. Aku berpikir, cukuplah sebatas pemuja rahasia, tak perlu bermimpi untuk memiliki hubungan lebih jauh dengannya, karena aku sudah pasti bukanlah tipe nya, meskipun belum bertanya langsung. Dan sampai tangan Tuhan menjemputnya, aku tetap belum bisa mengatakan perasaan ku yang sebenarnya. Barulah saat ini, hari ini, aku memberanikan diriku, dihadapannya, aku bilang padanya, kalau aku sangat mengaguminya, aku sangat mengimpikannya menjadi bagian dari hidupku, menjadi tulang rusukku, menjadi pelengkap hidupku selamanya. Aku bilang padanya, aku benar-benar telah jatuh cinta padanya, aku.. mencintainya “

Dengan sedikit penekanan pada kata “Jatuh Cinta” , pemuda itu mengakhiri ceritanya padaku. Aku tersenyum melihatnya, air mata kembali terjatuh membasahi pipinya, kali ini dia benar-benar tidak bisa membendung kesedihan, dia jatuh dalam tangis, aku memberikan sehelai tisu untuknya dan mengulang kata-kata sahabatku yang selalu berhasil menjadi motivasi baru bagiku, kuharap itu akan berpengaruh baginya juga.

          “ Hei, tersenyumlah, karena setiap kali kamu tersenyum satu masalah dalam hidupmu akan hilang. “ kataku.

Pemuda itu seperti membeku, dia menatapku seolah-olah dia menemukan sumber kekuatan baru, kurasa sekarang dia tahu kalau sedari awal aku sudah mengerti perasaan yang dia rasakan.

          “ Mmm.. sepertinya hari sudah mendung, ayo kita pulang, biarkan mereka berdua istirahat disini, dan Elsa, setidaknya tadi kamu sudah mengungkapkan semua perasaanmu padanya, aku yakin dia sekarang sangat bahagia, karena dia tahu bahwa ada seorang pemuda baik nan ramah yang sangat mencintainya dengan sepenuh hati. “ kataku, “ aku yakin itu.” Lanjutku.

Pemuda itu tersenyum penuh keikhlasan mendengar kata-kataku tadi, aku yakin sekarang dia menjadi lebih tabah dan kuat lagi, selain sebelumnya telah di semangati oleh gadis pujaannya, sekarang dia menjadi lebih ikhlas karena dia yakin bahwa balasan bagi gadis baik adalah surga, dan Elsa akan bahagia selamanya, di sana, di sisi Penciptanya.

Pemuda itu dan aku berjabat tangan sebagai tanda bahwa kami sekarang sudah menjadi teman, dan sahabat, dan saudara. Aku berkata pada pemuda itu,
         
“ Kamu bisa menceritakan semua perasaanmu kepadaku, aku akan selalu siap menjadi telingamu, kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada, karena kita adalah sahabat. “ Kataku.

Pemuda itu mengangguk, dan tersenyum haru karena dia baru saja mendapatkan sahabat baru yang benar-benar mengerti perasaannya. Aku dan pemuda itu lalu beranjak pulang, tapi sebelum aku melangkah lebih jauh, pemuda itu memanggilku,

          “ Hei, katakan siapa namamu? “ tanyanya.

Aku tersenyum sendiri mengingat kenapa bisa tadi aku sampai lupa untuk mengenalkan namaku padanya,

          “ Oh, ia, Namaku Abi, Abi Muhammad Dirga, panggil saja Abi. “ jawabku.

          “ Dan, siapa namamu? “ tanyaku balik.

Pemuda itu menjawab,

          “ Namaku Ahmad Redho, tapi panggil saja aku Edho. “ katanya.

          “ Baiklah, Abi, sampai jumpa lagi. “ lanjutnya.

Aku seperti melihat Adam di dalam diri Edho,

          “ Sampai jumpa lagi, Adam.. “ jawabku.

Kami berdua pulang kerumah masing-masing segera setelah kami mengucapkan salam perpisahan tadi, aku tidak tahu kapan kami akan bertemu lagi, tapi yang aku tahu, Adam lah yang akan memanduku untuk bertemu dengannya lagi. Begitupun dengannya, Elsa lah yang akan memandunya untuk bertemu denganku lagi.


Kamis, 03 Desember 2015

Bahasa Cinta





Bila cinta memanggilmu, turutilah bersamanya.
Kendati jalan yang mesti engkau lalui sangat keras dan terjal.
Ketika sayap-sayapnya merangkulmu, maka berserah dirilah padanya.
Sekalipun pedang-pedang yang bersemayam di balik sayap-sayap itu barangkali akan melukaimu.

Ketika ia bertutur kepadamu, maka percayalah padanya.
Walaupun suaranya akan memporandakan mimpi-mimpimu laksana angin utara yang meluluh-lantakan tanaman.
Cinta akan memahkotai dan menyalibmu.
Menyuburkan dan mematikanmu.
Membumbungkanmu terbang tingi, mengelus pucuk-pucuk rerantingmu yang lentik dan menerbangkanmu ke wajah matahari.
Namun cinta juga akan mencekik dan menguruk-uruk akar-akarmu sampai tercabut dari perut bumi. Serupa dengan sekantong gandum, cinta menyatukan dirimu dengan dirinya.
Meloloskanmu sampai engkau bugil bulat.
Mengulitimu sampai engkau terlepas dari kulit luarmu.
Melumatmu untuk memutihkanmu.
Meremukanmu sampai engkau menjelma liat.

Lantas,

Cinta akan memelukmu ke kobaran api sucinya.
Sampai engkau berubah menjadi roti yang disuguhkan dalam suatu jamuan agung kepada Tuhan. Cinta melakukan semua itu hanya untukmu sampai engkau berhasil menguak rahasia hatimu sendiri. Agar dalam pengertianmu itu engkau sanggup menjadi bagian dari kehidupan.
Jangan sekali-kali engkau ijinkan ketakutan bersemayam di hatimu.
Supaya engkau tidak memperbudak cinta hanya demi meraup kesenangan.
Sebab memang akan jauh lebih mulia bagimu.
Untuk segera menutupi aurat bugilmu dan meninggalkan altar pemujaan cinta.
Memasuki alam yang tak mengenal musim.
Yang akan membuatmu bebas tersenyum, tawa yang bukan bahak, hingga engkaupun akan menangiskan air mata yanng bukan tangisan.

Cinta tak akan pernah menganugerahkan apapun kecuali wujudnya sendiri.
Cinta tidak sekali-kali menuntut apapun kecuali wujudnya sendiri.
Cinta tidak pernah menguasai dan tidak pernah dikuasai.
Lantaran cinta terlahir hanya demi cinta.
Manakala engkau bercinta,
jangan pernah engkau tuturkan, “Tuhan bersemayam di dalam lubuk hatiku“
namun ucapkanlah, “Aku tengah bersemayam di dalam lubuk hati Tuhan”.
Jangan pula engkau mengira bahwa engkau mampu menciptakan jalanmu sendiri.
Sebab hanya dengan seijin cintalah jalanmu akan terkuak.
Cinta tidak pernah mengambisikan apapun kecuali pemuasan dirinya sendiri.
Tetapi bila engaku mencintai dan terpaksa mesti menyimpan hasrat.
Maka jadikanlah hasratmu seperti ini :
Melumatkan diri dan menjelma anak-anak sungai yang gemericik mengumandangkan tembang ke ranjang malam.

Memahami nyerinya rasa kelembutan.
Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta.
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia.
Bangkit di kala fajar dengan hati mengepakkan sayap-sayap.
Dan melambaikan rasa syukur untuk limpahan hari yang berbalur cinta.
Merenungkan muara-muara cinta sambil beristirahat di siang hari.
Dan kembali di kala senja dengan puja yang menyesaki rongga dada.

Lantas,
Engkaupun berangkat ke peraduanmu dengan secarik do’a.
Yang disulurkan kepada sang tercinta di dalam hatimu.

Yang diiringi seuntai irama pujian yang meriasi bibirmu.

Puisi



Ada Apa Dengan Cinta ?


Perempuan datang atas nama cinta
Bunda pergi karna cinta
Digenangi air racun jingga adalah wajahmu
Seperti bulan lelap tidur di hatimu
Yang berdinding kelam dan kedinginan

Ada apa dengannya ?
Meninggalkan hati untuk dicaci
Lalu sekali ini aku melihat karya surga
Dari mata seorang hawa

Ada apa dengan cinta ?
Tapi aku pasti akan kembali
Dalam satu purnama
Untuk mempertanyakan kembali cintanya
Bukan untuknya, bukan untuk siapa
Tapi untukku

Karena aku ingin kamu, itu saja

Puisi



Di Ujung Hati


Sakit hatiku selama ini memendam cinta
Cinta sendirian yang ku rasakan.
Dan sampai itu tiba,
Saat aku hendak meluapkan semua isi hati,
Berusaha untuk mengungkapkan
Tapi semua sia-sia karena dirimu ilusi semata

Bayangmu selalu menghantuiku
Membuatku tak mampu menahan rasa rindu yang selama ini terpendam

Lelah rasanya hati ini bertahan menjaga cinta
Mencintaimu tanpa alasan
Sakit hati tanpa balasan
Ku ingin suatu saat nanti kau menyadari
Bahwa cintakulah yang sejati
Walaupun cintaku tak terbalas olehmu

Tapi, aku akan tetap mencintaimu

Jumat, 27 November 2015

Puisi


 Remember Love


Tersenyumlah saat kau mengingatku
karna saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
karna saat itu aku tak berada disampingmu
Tapi, pejamkanlah mata indahmu itu,
karna saat itu aku akan terasa ada didekatmu
Karena aku tlah berada dihatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisah lagi untukku
Selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulunya adalah miliku,
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu
Cintamu takkan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku tlah patah karnamu
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku
Hingga akhir hayatku,
Dan setelah kematian,
Hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi
Betapapun hati tlah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar redupku
Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain
Selain cintamu karna mereka tak tertandingi
Oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takkan pernah terganti
Bagai pecahan logam mengekalkan
kesunyian,kesendirian,dan kesedihanku

kini aku tlah kehilanganmu.

Puisi


The Power Of Love

Datanglah kepada orang seseorang
Yang dapat membuatmu tersenyum
Karna sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi terang
Mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan
Pergilah kemana kamu ingin pergi
Jadilah sesuai dengan keinginan kamu
Karna kamu hanya hidup sekali
Dan, satu kesempatan untuk melakukan apa yang ingin kamu lakukan
Bertindaklah seolah-olah setiap peristiwa memiliki tujuan
Sehingga, kamu juga memiliki tujuan hidup
Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain
Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu
Mungkin itu menyakitkan orang itu juga
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu
Sampai kamu melupakan kegagalan kamu, dan rasa sakit hati
Mema’afkan bagaikan wangi semerbaknya
Tercium dari uang tua                             
Terimalah secara total menjadi cinta tak bersyarat
Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan,kesabaran,dan romantis
Dalam suatu hubungan
Dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia
Jangan pernah berkata selamat tinggal  jika kamu masih ingin mencoba
Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak membiarkannya pergi
Hanya perlu 1 menit untuk menghancurkan seseorang
Hanya perlu 1 jam untuk melukai seseorang
Hanya perlu 1 hari untuk mencintai seseorang
Tetapi, membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang
Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri
Dan tidak membentuk mereka sesuai keinginan kita
Cinta yang tulus akan teruji dengan berjalanya waktu
Kita tidak bisa mengubah apapun
Kecuali kalau kita bisa memulainya
Apa yang membuat manusia merasa lebih baik,
Dicintai.......


                                                                                                                                                         

Kamis, 26 November 2015

Poem


The Peace

here I am
thousands of miles from the bustle
staked out on a mission
to find the inner peace
were swept away in a wave
were slammed by the wind
flying high
reaching a fever pitch
and than fall

here I am
with every step I take
strolling so casually
under the lamppost back on sixth street
hearing someone whisper through the phone
a voice that will never be forgotten
like streams
so smooth so sweet
and when she turned
I see a diamond in her eyes
she was the one I was looking for
peace felt in my soul

Move On


“Move On”

Bengkulu, 16 Februari 2006

“Ayo c’mon .. mari c’mon .. buat apa kita nge-down ... Move on.. Move on..”

                Yaa... kurang lebih begitulah lirik lagu yang sedari tadi kudengar, aku duduk di kursi halte, sedang menunggu bus yang akan mengantarku pulang. Waktu itu pukul 16:45 WIB saat sebuah bus berhenti di depan halte, dan kulihat mereka berdesakan, berebut untuk masuk terlebih dahulu kedalam bus. Aku tahu bus itu tak akan penuh, jadi aku bersantai saja, perlahan supaya tidak terjatuh, atau menginjak kaki orang lain.
                Benar sekali dugaanku, bus itu tidak penuh, masih ada satu bangku kosong, saat kulihat seorang gadis sedang duduk di samping bangku kosong itu. Segera aku duduk, karena bus akan jalan. Di perjalanan, aku tetap saja mendengarkan lagu kesukaanku yang sejak tadi kuputar. Musik itu sengaja aku buat menjadi mode repeat, karena aku sangat senang mendengarnya, bagiku lirik lagu itu memberikan sebuah motivasi. Apalagi sekarang tiba – tiba hujan dan dingin. Tak ada yang bisa kulakukan selain bersandar di kursi bus dengan i-Pod di telingaku.
                Disaat kurasakan tubuhku mulai menggigil kedinginan, bahkan bergetar karena dingin. Saat itulah wanita yang sedari tadi hanya duduk diam di sampingku menawari segelas kopi hangat instan yang ternyata ia bawa di dalam tasnya. Seketika dari suasana yang ramai dan bising di dalam bus menjadi hening, senyap, dan sepi, hanya terdengar suara rintik hujan yang terdengar semakin lebat dan udara di dalam bus semakin dingin. Aku masih belum berkata apa – apa selain kata “thank you” yang tadi aku ucapkan kepada wanita di sebelahku sebagai tanda hormatku atas kopi pemberiannya.
                “Pak Sopir, Berhenti !” teriak wanita di sampingku, aku hanya diam. Saat dia melihatku, aku ikut melihatnya, kulihat dia melontarkan senyumnya kepadaku, kemudian. “ excuse me !” katanya. Aku tersadar kalau posisi tas dan kakiku menghalangi ia untuk keluar. Tanpa bicara aku hanya bergeser untuk membukakan jalan supaya dia bisa pergi.
**
Bus kembali berjalan, namun aku baru sadar aku melupakan sesuatu, aku lupa menanyakan nama gadis yang tadi berbaik hati memberikanku kopi.
“Aagh..! sial..! kenapa bisa sampai lupa...!”
Aku bergumam sendiri, aku geram sendiri, kenapa tadi aku lupa bertanya.
“Semoga saja besok bisa kembali bertemu..”
Aku berbicara sendiri di dalam hati, aku sangat mengharapkan bisa kembali bertemu, dan mengobrol dengannya. Aku tidka apa, meski hanya 5 menit. 5 menit bersamanya, bagiku 5 jam.
“Haha’.. kok aku jadi tiba – tiba alay banget ya..”
Sama seperti tadi, aku lagi – lagi berbicara sendiri, dan sekarang ditambah aku tertawa sendiri.
“ehm..!”
 Aku tidak tahu kenapa, tapi orang tua yang duduk di sampingku terbatuk, mungkin dia illfeel  karena tingkahku yang dilihatnya aneh. Dan sejak itu, aku diam saja, tak memikirkan hal – hal aneh yang akan mengganggu orang lain.

**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...

                Jam tanganku berbunyi, kulihat saat itu pukul 17:15 WIB dan hujan sudah reda. Aku beranjak turun dari bus, mengetuk pintu rumah, dan kulihat kakek dan nenekku sedang duduk di sofa dengan televisi yang menyala memutarkan film HEART. Imajinasiku muncul, aku membayangkan kake dan nenekku saat mereka muda dulu. Aku juga membayangkan saat mereka melakukan segala hal bersama layaknya Farel dan Rachel, yaaah... begitulah setahuku nama dua tokoh utama dalam film itu.
**
                Hari ini aku baru pulang sekolah, seperti senin biasanya gerbang sekolah dibuka dan siswa diperbolehkan pulang pukul 14:45 WIB. Segera kuambil tasku dan langsung keluar menuju gerbang, karena aku tak ingin tertinggal bus. Mungkin jaraknya yang jauh, sehingga jarang ada angkutan umumyang menuju ke arah rumahku, mungkin mereka mempertimbangkan bahan bakar yang dibutuhkan sekedar bolak – balik dari pusat kota ke desa. Rumahku terletak di Bengkulu bagian timur, berjarak 30 kilometer dari pusat kota, di sebuah desa, dimana hutan masih sangat terjaga, udara sejuk, dan sunrise yang sangat cantik. Aku bersekolah di kota berkat beasiswa yang aku dapatkan dari sekolah awalku di desa, dan selanjutnya aku terus bersekolah di kota.
**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...
                Lagi – lagi jam tanganku berbunyi, aku sedikit tersentak, karena aku tidak sadar kalau sedari tadi aku tertidur di bus. Entah karena terlalu capek, atau alunan musik di dalam bus ini yang membuatku tertidur. Yang jelas aku terbangun, dan .. kulihat sekelilingku, kukira tak ada yang spesial sampai aku melihat sebuah bangku kosong di baris kedua dan ada seorang wanita muda di sampingnya. Aku tidak tahu siapa, dan mungkin tidak akan pernah tahu, sampai aku memberanikan diri untuk melangkah kedepan, dan kutemui wanita cantik, yang baik kepadaku tempo hari. Kami mengobrol, membahas berbagai hal yang diselingi dengan candaan, sehingga aku bisa melihat senyumnya yagn indah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan sekarang bus sudah berhanti di depan rumahnya, aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk yang kedua kalinya. Kutanya namanya, dan dengan sedikit senyum ia menjawab.
                “ Cassandra, Cassandra Elaine Peter.”
Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, kemudian berdetak lagi, dan spontan kubalas ucapannya.
                “ Wulf, Wulf Trygvassen. “
Dia kembali menjawab.
                “ Wulf, nice to meet you “
Kutimpali ucapannya dengan senyuman, dan dia pun turun dari bus.

Hari berganti, bahkan minggupun tak terasa telah delapan kali lewat. Dan kami semakin dekat, semakin terbuka satu sama lain, bahkan aku merasa nyaman saat berdua dengannya, dan merasa gelisah saat jauh darinya...
**
Hari ini Sabtu, 15 April 2006, jam tanganku sudah menunjukan pukul 19:05 WIB, malam ini aku mengajak Cassandra untuk dinner, dan tentunya ada maksud lain, yaitu aku ingin malam ini menjadi malam terindah baginya yang takkan pernah dilupakannya selamanya. Celana jeans, dengan jas hitam dan sepatu cokelat yang sekarang kukenakan, aku siap berangkat, aku harap ini tidak terlambat.
                Setibanya disana, di salah satu coffe shop  di Bengkulu, aku lngsung duduk, saat kupandangi sekeliling tak ada orang yang kucari. Lonceng kecil di atas pintu itu terus saja berdenting, namun bukan Cassandra. Saat aku mulai bosan menunggu, saat itulah lonceng pintu coffe shop  berbunyi. Saat aku memutar kepala, betapa terkejutnya, seorang wanita muda dengan gaun merah dan sepatu highhil  merah mencuri perhatianku, aku terpaku sejenak, aku tak percaya akan apa yang kulihat sekarang, terlebih saat kulihat ia duduk di depanku.
                “ Hai ... “
Sapanya lembut. Namun aku tetap membatu. Hingga wanita itu bertanya kepadaku.
                “ What happend? apakah pakaianku salah? “
Barulah kujawab.
                “ oh .. tidak, you are beautiful.”
Kata – kata itu meluncur sendiri dari mulutku. Dan selanjutnya aku menceritakan maksudku mengundangnya kemari, dan diakhir dialogku, aku memberitahukannya tiga kata yang selama ini kurasakan dan yang membuat hatiku gelisah.
Kata itu adalah :
                “ Aku sayang kamu “
Dan yang tak pernah kuduga ialah, jawabannya atas pertanyaanku. Katanya.
                “ Aku juga sayang kamu “
Seketika, jantungku berhenti berdetak, kurasakan dingin dan panas di sekujur tubuhku, perasaanku bercampur aduk, namun yang paling dominan aku rasakan adalah rasa bahagia. Aku tak menyangka ia juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku, dan itulah, apa yang aku impikan terwujud, malam ini, bersama Cassandra, cinta terakhirku, itulah yang kuharapkan. Aku tak ingin kehilangan Cassandra seperti aku kehilangan kekasihku dulu. Mulai malam ini, aku berjanji, akan menjaga Cassandra, melindunginya, dan takkan kulepaskan.
**
                Sekarang, hari – hariku tak sendiri, hariku tak lagi sepi, aku tak lagi merasa sepi, Cassandra selalu ada untukku, dan aku juga selalu ada untuknya, aku tak ingin ia merasa diacuhkan, karena aku tak ingin dia sedih, sekarang dan selamanya. Aku ingin dia bahagia bersamaku, sekarang dan selamanya.



TAMAT