-Pukul 11:30 WIB, di Sentiong-
Siang itu begitu terik, panas matahari
sangat terasa menusuk kedalam kulit. Namun, ada pemandangan aneh di salah satu
makam baru yang ada di bawah pohon rindang dekat pagar pembatas itu, di sana
tampak seorang pemuda dengan baju serba hitam mulai dari atasan hingga bawahan
pakaiannya, nampak jelas sekali bahwa pemuda itu sangat berduka atas kepergian
orang yang terbaring di makam itu. Sebuah makam baru, yang jika aku tak salah
ingat, itu adalah makam seorang gadis muda nan cantik, yang meninggal karena
insiden yang sama sekali tak pernah terbayangkan oleh semua teman, keluarga,
bahkan orang tuanya. Setahuku, gadis itu meninggal saat ia sedang berlibur ke
salah satu objek wisata sungai di daerah Bengkulu Utara. Saat itu, -dari apa
yang kudengar- ketika ia sedang berenang bersama teman-teman dan semua orang
yang juga sedang berwisata kesana, tiba-tiba debit air sungai naik dan arus
besar menyapu semua orang yang berada di aliran sungai itu, sehingga gadis itu,
dan juga masih banyak orang lainnya hanyut dan terbawa arus sungai. Nahas bagi
gadis itu, ternyata itu adalah saat-saat terakhir gadis itu bersama dengan
teman-temannya, karena saat dia ditemukan oleh Tim SAR yang dibantu warga setempat,
dia sudah terbujur kaku dengan luka lebam di sekujur tubuh, yang ku yakin itu
disebabkan oleh benturan dengan bebatuan besar yang tersebar di seluruh tubuh
sungai.
Telah
lama sudah aku melihat pemuda itu berlutut di samping makam, tak kurang dari 60
menit sudah berlalu, sejak kulihat pemuda itu datang dengan membawa seikat
bunga melati putih dengan baunya yang khas hingga tercium olehku yang berjarak
sekitar 2 meter dari tempat pemuda itu. Kulihat, saat tadi dia datang dan
berlutut di samping makam itu, saat dia mulai membacakan do’a, terlihat dari
sudut matanya menetes perlahan titik-titik air mata yang mengalir di pipi
merahnya –karena terbakar terik matahari-. Sesekali kulihat ia juga mengelap
air matanya dengan sehelai tisu, sementara sayup-sayup kudengar ia mengucapkan
kata,
“ Aku tidak menangis, kan kamu sendiri yang mengajari aku bahwa aku harus
selalu kuat dalam menghadapi liku kehidupan, apapun yang terjadi ”
Aku tahu
ia berusaha untuk tegar dan menerima takdir bahwa ia sudah tidak bisa lagi bertemu
dengan orang yang namanya tertulis di nisan makam itu. Sepertinya dia sangat
terpukul atas kepergian gadis itu, hal itu terlihat jelas terlebih saat tadi ia
mengelap nisan makam gadis itu dan sesekali menciumnya. Suatu hal yang lazim
dilakukan oleh orang yang merasa sangat merindu atas kepergian orang yang
disayanginya. Apalagi memang gadis itu masih teramat muda dan berparas begitu
cantik serta setahuku dia, almarhumah dahulunya adalah salah satu anggota Purna
Paskibraka Indonesia (PPI) tingkat Provinsi Bengkulu. Sebuah prestasi yang
sangat membanggakan dan sebuah predikat yang ramai diincar oleh banyak
teman-temannya yang lain.
Kurasakan sinar matahari semakin
terik, jadi, aku memutuskan untuk mencari tempat agar aku bisa berangin dan
mendinginkan kepalaku yang terasa panas karena sorotan matahari di musim
kemarau.
Tak lama waktu berselang, kulihat
pemuda itu mulai berdiri dan sepertinya hendak beranjak dari makam gadis itu.
Ku lihat dia berpamitan kepada gadis yang terbaring di makam itu, dan sekali
lagi, dia mencium nisan putih itu dan perlahan membalikkan badannya berlalu
meninggalkan makam. Gerak kakinya yang lamban menuturkan kalau dia sangat berat
untuk pergi dan meninggalkan gadis itu sendiri. Namun, setelah ia berdiri
terdiam, sekarang dia telah menentukan satu arah untuk berjalan, dan kulihat,
dia berjalan menuju sebuah bangku panjang yang diduduki seorang pemuda yang
berada tak jauh dari makam gadis itu. Dia berjalan ke arahku. Dengan sedikit
menunjukan senyumnya, dia bertanya kepadaku,
“ Boleh aku duduk di sini? “ tanyanya.
“
Ohh.. tentu.. tentu saja. Adam juga pasti akan senang jika aku berbagi tempat
duduk dengan orang lain. “ jawabku.
“
Ohh, ma’af, kalau aku boleh bertanya, Adam, apakah dia orang yang spesial
untukmu? “ tanya pemuda itu.
“
Ia, dia adalah sahabat karib ku, kami mulai berteman sejak aku pindah ke
Bengkulu, waktu itu kelas 2 SD. Jika pada umumnya anak baru di sebuah sekolah
mendapatkan banyak teman, berbeda denganku, hari pertama aku masuk sekolah
baruku, aku langsung mendapatkan musuh, dialah Adam Leelawadee, dia juga
merupakan anak pindahan sama sepertiku, ayahnya asli Bengkulu, sedang ibunya
asli Ambon. Namun, akibat disorganisasi keluarga, dia menjadi anak yang nakal,
dan pembuat onar di sekolah. Meskipun begitu, aku tidak pernah dendam, malah,
aku berusaha untuk menjadi teman dekatnya, meskipun sulit, tetapi akhirnya aku
bisa melunturkan keras hatinya, aku bisa menjadi temannya dan ,menjadi sahabat
dekat yang senantiasa menjadi mata dan telinganya, menjadi teman dan kakaknya.
Sampai waktunya tiba, dia harus kembali kepada Pencipta kehidupan. Dia
dipanggil oleh Tuhan saat dia berusia 16 tahun, saat itu kelas dua SMA, selama
kami menjalin pertemanan, baru saat itulah aku tahu, bahwa dia memiliki prinsip
tidak ingin merepotkan orang lain, selama kurang lebih 8 tahun kami berteman,
ia tidak pernah sama sekali menceritakan kepadaku tentang penyakit yang
dideritanya. Barulah saat ia tiba-tiba pingsan dan digotong ke Rumah Sakit,
disanalah aku tahu kalau selama ini dia menderita kangker darah, dokter bilang
kalau Adam telat dua bulan dari jadwal biasanya untuk cuci darah, sehingga ia
tak bisa tertolong lagi.. “
Aku
berhenti sejenak, tak kuasa mengingat kenangan masa lalu yang baru saja
melintas di depan mataku. Dan tak terasa air mataku mengalir sendiri tanpa
kusadari, mengingat kenangan yang begitu manis namun pahit di akhirnya.
Aku
menghela nafas panjang sebelum kemudian melanjutkan kembali ceritaku yang tadi,
aku lihat dia masih dengan setianya menungguku menyelesaikan cerita, sepertinya
dia tahu bahwa aku merasakan apa yang dia rasakan tadi saat dia berada di
samping makam gadisnya. Setelah merasa cukup tenang, aku melanjutkan sedikit
sisa ceritaku yang belum kuselesaikan.
“
Dia, Adam, sudah mengajarkan aku banyak hal tentang cara untuk menjalani hidup
dengan ikhlas, tanpa perasaan terpaksa. Dia adalah motivator, dia adalah
inspirasiku, aku banyak belajar dari perjalanannya, bagaimana dia merubah 360
derajat kehidupannya, dari yang awalnya anak nakal, ketika remaja dan dewasa ia
berubah menjadi pribadi yang baik, ramah, taat beribadah, dan sangat santun.
Karena itulah, aku sangat menghormati sahabatku itu, aku selalu kemari saat aku
merasa rindu dan saat aku membutuhkan bantuannya untuk melewati setiap
kesukaran hidup yang aku temui. Meskipun sekarang dia tak ada di sampingku,
tapi, aku merasa aku selalu bisa mendengar suaranya, karena itulah, aku tidak
pernah merasa terpisah darinya. “
Sekarang
aku sudah selesai menceritakan kisah menyenangkan yang aku alami bersama
sahabatku itu, kulihat dia tersenyum, senyum yang begitu ikhlas, entah karena
ia ikut merasakan apa yang aku rasakan, atau dia mencoba untuk menghiburku agar
aku tidak terlalu larut dalam kesedihan seperti yang selalu dia lakukan sedari
tadi. Tak banyak pikirku, aku ikut tersenyum kepadanya, dan sesaat kemudian aku
memberanikan untuk bertanya kepadanya tentang hal yang sedari tadi membuatku
penasaran, aku ingin tahu, siapa sebenarnya gadis cantik yang terbaring di makam
itu.
“
Mmm.. ma’af kalau aku lancang ingin tahu, tapi, boleh aku tahu siapa gadis yang
tadi kamu temui? “ tanyaku.
Sambil
menyunggingkan senyumnya, pemuda itu menjawab,
“
Dia, Elsa, sahabat sekaligus wanita yang begitu spesial untukku, aku memang bukan
siapa-siapa baginya, hanya mengetahui sebatas nama dan kelas, karena kami satu
sekolah dan satu tingkatan. “ katanya.
Pemuda
itu menghentikan ceritanya, dan menatap ke hamparan langit biru nan cerah. Aku
mencoba untuk memberanikan diri sekali lagi bertanya kepada pemuda itu.
“ Kenapa tadi kamu bilang kalau dia
adalah wanita yang spesial untukmu? “ tanyaku.
Kulihat
dia menatapku sejenak, entah apa yang dia pikirkan tapi aku mencoba untuk
menebaknya, sepertinya dia berpikir bahwa apakah tepat jika dia menceritakan
tentang temannya kepada orang lain yang bahkan baru di kenalnya beberapa waktu
yang lalu. Tapi, yang membuat aku tak habis pikir, ternyata dia mau untuk
berbagi cerita kapadaku.
“
Elsa adalah cinta pandangan pertamaku, aku bertemu dengannya saat Masa
Pengenalan Lingkungan Sekolah, kami mendaftar di sekolah yang sama. Entah
bagaimana bisa tapi kami selanjutnya menjadi lebih dekat setelah kami
dipertemukan dalam satu regu saat Masa Orientasi Siswa.
Saat
itu, dia menjadi pemimpin kelompok untuk regu kami, hal itu sangat pantas
karena dia memang memiliki background sebagai
anggota Paskibra saat di SMP. “ katanya.
Kulihat
dia mencoba mengingat-ingat sesuatu, tapi hal itu cepat dilupakannya dan
kembali melanjutkan ceritanya.
“
Selama masa MOS itu berlangsung, aku terus mencoba untuk mendekati dia, saat
sedang istirahat makan, aku memberanikan diri untuk bertanya siapa namanya,
darimana asal sekolahnya, dan aku bahkan bertanya kenapa dia memilih untuk mendaftar
di sekolah ini. Dengan terus melepaskan senyuman, dia menjawab satu persatu
pertanyaanku, dan hari itu, aku berhasil mengetahui namanya, Elsa Dava Selgia.
“Nama yang benar-benar cantik, seperti
orangnya” pikirku waktu itu. “
lanjutnya.
Pemuda itu kembali menghela nafas
panjang, lalu kembali kedalam ceritanya.
“
Waktu cepat berlalu, dan sekarang, kami sudah resmi menjadi siswa dan siswi
SMAN 2 Bengkulu, setelah aku mengetahui ruang kelasku, aku langsung mencari
ruang kelas wanita pujaanku itu, aku kembali ke papan pengumuman di dekat ruang
guru, dan mencari satu-satunya nama yang ada dalam daftar teman baruku. Kulihat
daftar nama siswa yang diterima di SMA itu, mulai dari kelas X IPA A sampai X
IPS C, kuperhatikan dengan teliti, dan berhenti mencari, karena aku telah
menemukannya, “ X IPA E “ kataku. Perasaan sedih bercampur sedikit senang waktu
itu, sedih karena tidak bisa satu kelas dengannya, sedikit senang karena
mengetahui letak kelasnya berhadapan dengan kelasku. Letak kelas yang
berdekatan membuatku sering berkunjung ke kelasnya, namun karena aku berpikir
bahwa aku hanya pemuja rahasianya, jadi setiap kali aku masuk ke kelasnya, saat
warga kelas bertanya, yang aku bilang hanya, “ Aku ingin main bersama teman-teman SMP ku dulu “ padahal jelas
sekali, meskipun akhirnya aku berkumpul dengan teman SMP ku, tapi pandanganku
tak pernah lepas dari gadis itu, Elsa. Seperti kataku tadi, waktu cepat
berlalu, hampir setiap hari kugunakan waktu istirahat untuk pergi ke kelasnya,
hanya untuk melihat apakah dia masuk sekolah atau tidak. Setiap paginya, aku
tak pernah lupa untuk bersiap diri di depan kelas, kapan dia datang aku
langsung menyapanya dan di balas dengan senyumnya yang manis, itu cukup untuk
membuatku tetap semangat menjalani hari-hari yang melelahkan selama jam
pelajaran sekolah. Hari-hariku di sekolah tak pernah membosankan, karena setiap
kali kebosanan merayap sekujur tubuhku, aku bisa saja setiap waktu menyapanya,
dan melihat senyumnya yang indah bak mekarnya bunga mawar. “
Mendengar
pemuda itu mengucapkan kata “ setiap kali aku melihat senyumnya, aku seperti
mendapatkan semangatku kembali “ aku teringat dengan Adam, karena dalam
menjalani suka duka hidupnya, Adam tak pernah mengecilkan senyum. Dan satu
kalimat yang sampai sekarang selalu aku ingat yaitu dia pernah mengatakan
padaku “ Teruslah tersenyum, karena setiap kali kamu tersenyum, satu masalah
dalam hidupmu akan hilang “
Awan
mulai menutupi matahari, dan menyamarkan sinarnya sehingga membuat udara terasa
sejuk sekarang ini. Pemuda itu menyambung ceritanya yang tadi, entah mengapa
dia berpikir dia harus menyelesaikan ceritanya, mungkin karena dia sudah merasa
nyaman dengan kehadiranku sebagai telinganya disini, terka ku.
“
Satu tahun berlalu, sekarang kami lebih dekat dari sebelumnya, meskipun hingga
saat ini aku belum mengatakan padanya perasaanku yang sesungguhnya. Teman-teman
ku yang satu kelas dengannya sudah mengetahui perasaan terpendam ku pada gadis
itu, mereka bisa melihat dari gelagatku yang selalu salah tingkah jika dekat
dengannya, selain itu aku sering bengong, menatap kearah gadis itu bahkan saat
berkumpul dengan teman-temanku. Aku berpikir, cukuplah sebatas pemuja rahasia,
tak perlu bermimpi untuk memiliki hubungan lebih jauh dengannya, karena aku
sudah pasti bukanlah tipe nya, meskipun belum bertanya langsung. Dan sampai
tangan Tuhan menjemputnya, aku tetap belum bisa mengatakan perasaan ku yang
sebenarnya. Barulah saat ini, hari ini, aku memberanikan diriku, dihadapannya,
aku bilang padanya, kalau aku sangat mengaguminya, aku sangat mengimpikannya
menjadi bagian dari hidupku, menjadi tulang rusukku, menjadi pelengkap hidupku
selamanya. Aku bilang padanya, aku benar-benar telah jatuh cinta padanya, aku..
mencintainya “
Dengan
sedikit penekanan pada kata “Jatuh Cinta” , pemuda itu mengakhiri ceritanya
padaku. Aku tersenyum melihatnya, air mata kembali terjatuh membasahi pipinya,
kali ini dia benar-benar tidak bisa membendung kesedihan, dia jatuh dalam
tangis, aku memberikan sehelai tisu untuknya dan mengulang kata-kata sahabatku
yang selalu berhasil menjadi motivasi baru bagiku, kuharap itu akan berpengaruh
baginya juga.
“
Hei, tersenyumlah, karena setiap kali kamu tersenyum satu masalah dalam hidupmu
akan hilang. “ kataku.
Pemuda
itu seperti membeku, dia menatapku seolah-olah dia menemukan sumber kekuatan baru,
kurasa sekarang dia tahu kalau sedari awal aku sudah mengerti perasaan yang dia
rasakan.
“
Mmm.. sepertinya hari sudah mendung, ayo kita pulang, biarkan mereka berdua
istirahat disini, dan Elsa, setidaknya tadi kamu sudah mengungkapkan semua
perasaanmu padanya, aku yakin dia sekarang sangat bahagia, karena dia tahu bahwa
ada seorang pemuda baik nan ramah yang sangat mencintainya dengan sepenuh hati.
“ kataku, “ aku yakin itu.” Lanjutku.
Pemuda
itu tersenyum penuh keikhlasan mendengar kata-kataku tadi, aku yakin sekarang
dia menjadi lebih tabah dan kuat lagi, selain sebelumnya telah di semangati
oleh gadis pujaannya, sekarang dia menjadi lebih ikhlas karena dia yakin bahwa
balasan bagi gadis baik adalah surga, dan Elsa akan bahagia selamanya, di sana,
di sisi Penciptanya.
Pemuda
itu dan aku berjabat tangan sebagai tanda bahwa kami sekarang sudah menjadi
teman, dan sahabat, dan saudara. Aku berkata pada pemuda itu,
“
Kamu bisa menceritakan semua perasaanmu kepadaku, aku akan selalu siap menjadi
telingamu, kapanpun kamu butuh, aku akan selalu ada, karena kita adalah
sahabat. “ Kataku.
Pemuda
itu mengangguk, dan tersenyum haru karena dia baru saja mendapatkan sahabat
baru yang benar-benar mengerti perasaannya. Aku dan pemuda itu lalu beranjak
pulang, tapi sebelum aku melangkah lebih jauh, pemuda itu memanggilku,
“ Hei, katakan siapa namamu? “
tanyanya.
Aku
tersenyum sendiri mengingat kenapa bisa tadi aku sampai lupa untuk mengenalkan
namaku padanya,
“ Oh, ia, Namaku Abi, Abi Muhammad
Dirga, panggil saja Abi. “ jawabku.
“ Dan, siapa namamu? “ tanyaku balik.
Pemuda
itu menjawab,
“ Namaku Ahmad Redho, tapi panggil
saja aku Edho. “ katanya.
“ Baiklah, Abi, sampai jumpa lagi. “
lanjutnya.
Aku
seperti melihat Adam di dalam diri Edho,
“ Sampai jumpa lagi, Adam.. “ jawabku.
Kami
berdua pulang kerumah masing-masing segera setelah kami mengucapkan salam
perpisahan tadi, aku tidak tahu kapan kami akan bertemu lagi, tapi yang aku
tahu, Adam lah yang akan memanduku untuk bertemu dengannya lagi. Begitupun
dengannya, Elsa lah yang akan memandunya untuk bertemu denganku lagi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar