“Yah, Siapa sih, yang memerintahkan kita berpuasa?
Berani-beraninya memerintah semua orang untuk menahan lapar dan haus seharian?”
Tanya anak itu datar.
Mendengar pertanyaan anaknya itu, si ayah tersenyum seraya
berkata.
“Dia-lah Allah SWT. Tuhan yang Maha Esa.” Jawab sang
ayah kepada anaknya.
Anak itu tampak kebingungan mencerna kata-kata ayahnya yang
barusan. Lalu ia bertanya lagi.
“Memangnya dia siapa yah? Setinggi apa sih jabatannya?”
Tanyanya begitu polosnya.
Kemudian sambil tersenyum sang ayah menjawab, dengan
membacakan surah AL-IKHLASH.
“Qul huwallaahu ahad. Allahush shamad. Lam yalid walam
yuulad. Walam yakullahu kufuwan ahad.” Jawab ayahnya dengan tenang.
Setelah selesai membaca surah tersebut tampak raut
kebingungan masih menyelimuti wajah mungil si anak. Sontak sang anak bertanya.
“Ayah, kenapa kita harus takut kepada Allah? Kita kan belum
pernah bertemu dengannya.” Tanya anak itu dengan sedikit memiringkan kepalanya
menghadap sang ayah.
Melihat tingkah anaknya itu, sang ayah bertambah lebar
senyumnya. Lalu ia menjawab, dengan surah AL-FALAQ.
“Qul a’uudzubirabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin
syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wamin syarrin naffaatsaati fil’uqad. Wamin syarri
haasidin idzaa hasad.” Jawab sang ayah.
Maka dengan selesainya surah yang dibacakan sang ayah,
bertambah bingunlah si anak tersebut. Bagaimana tidak, ia bertanya kepada
ayahnya siapa Allah? Apa pekerjaannya? Dan mengapa semua orang takut padanya.
Justru mendapat jawaban yang tidak lain dan tidak bukan adalah hafalan
surah-surah Al-Qur’an yang disuruh oleh gurunya di sekolah tadi siang. Anak itu
berhenti bertanya kepada ayahnya, sekarang ia teringat akan arti dari satu
surah. Tapi ia lupa surah apa itu, dan bagaimana bunyinya. Ia tidak menanyakan
hal itu kepada ayahnya karena dirasa, itu bukan topik pembicaraan mereka.
Seketika itu tanpa diminta, sang ayah kembali membacakan
satu surah Al-Qur’an yakni surah An-Naas. Diawali dengan bismillah sang ayah memulai
bacaannya.
“Qul a’uudzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min
syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas. Minal
jinnati wannaas.” “shadaqallahul ‘azhim.”
Mendengar bacaan surah yang terakhir tersebut, si anak
kembali larut dalam lamunannya. Ternyata barulah sekarang ia teringat bahwa
surah yang baru ia hafalkan artinya saja itu adalah surah An-Naas. Sambil
memejamkan matanya ia mencoba melafalkan arti dari surah tersebut.
“Katakanlah, “aku berlindung kepada Tuhaannya manusia, raja
manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi,
yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan
manusia.” .” Katanya.
Sang ayah yang ketika itu mendengar anaknya berhasil
menghafal arti dari salah satu surah Al-Qur’an berkata.
“Benar nak, Dia-lah Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Dia-lah
tempat meminta. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satu
makhluk pun yang setara dengan-Nya. Allah lah yang menguasai apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. Dia yang maha menciptakan. Siang dan malam
adalah segelintir dari ciptaan-Nya yang agung. Yang tiada duanya. Allah,
Dia-lah raja dari segala raja. Rajanya manusia, sembahan manusia, Dia-lah
tempat berlindung yang paling aman. Dari segala bentuk kejahatan baik itu oleh
jin dan manusia.” Katanya.
Sekarang sang anak mengerti dengan maksud dari ayahnya yang
membacakan surah-surah Al-Qur’an sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya
tadi. Dalam hati anak itu berkata.
“Subhanallah, Maha suci Engkau wahai Allah. Ma’afkan aku
yang tidak mengenali-Mu sebelum ini ya Allah. Terima kasih Engkau telah
menghadirkan Ayah di hidupku. Sebagai pembimbingku. Berikanlah kesehatan kepada
ayahku agar aku bisa melihat dia melihatku sukses di kemudian hari ya Allah. Aamin.
Terima kasih ya Allah.”
Begitulah, satu sore yang penuh dengan keberkahan. Penuh dengan
tanya awalnya, namun penuh dengan faedah akhirnya. Tak terasa matahari bergulir
begitu cepat. Suara adzan memecah keheningan sore. Demikianlah kemudian ayah
dan anak itu masuk ke dalam rumah untuk berbuka puasa dan menunaikan panggilan
Allah setelahnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar