Rabu, 22 Juni 2016

Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya


Di satu sore, di bulan Ramadhan. Satu sore yang tenang, hembusan angin lembut menemani seorang ayah dan anaknya menunggu waktu maghrib. Tak berapa lama kemudian, sang anak bertanya kepada ayahnya. Dengan polosnya ia bertanya.
“Yah, Siapa sih, yang memerintahkan kita berpuasa? Berani-beraninya memerintah semua orang untuk menahan lapar dan haus seharian?” Tanya anak itu datar.
Mendengar pertanyaan anaknya itu, si ayah tersenyum seraya berkata.
“Dia-lah Allah SWT. Tuhan yang Maha Esa.” Jawab sang ayah  kepada anaknya.
Anak itu tampak kebingungan mencerna kata-kata ayahnya yang barusan. Lalu ia bertanya lagi.
“Memangnya dia siapa yah? Setinggi apa sih jabatannya?” Tanyanya begitu polosnya.
Kemudian sambil tersenyum sang ayah menjawab, dengan membacakan surah AL-IKHLASH.
“Qul huwallaahu ahad. Allahush shamad. Lam yalid walam yuulad. Walam yakullahu kufuwan ahad.” Jawab ayahnya dengan tenang.
Setelah selesai membaca surah tersebut tampak raut kebingungan masih menyelimuti wajah mungil si anak. Sontak sang anak bertanya.
“Ayah, kenapa kita harus takut kepada Allah? Kita kan belum pernah bertemu dengannya.” Tanya anak itu dengan sedikit memiringkan kepalanya menghadap sang ayah.
Melihat tingkah anaknya itu, sang ayah bertambah lebar senyumnya. Lalu ia menjawab, dengan surah AL-FALAQ.
“Qul a’uudzubirabbil falaq. Min syarri maa khalaq. Wamin syarri ghaasiqin idzaa waqab. Wamin syarrin naffaatsaati fil’uqad. Wamin syarri haasidin idzaa hasad.” Jawab sang ayah.
Maka dengan selesainya surah yang dibacakan sang ayah, bertambah bingunlah si anak tersebut. Bagaimana tidak, ia bertanya kepada ayahnya siapa Allah? Apa pekerjaannya? Dan mengapa semua orang takut padanya. Justru mendapat jawaban yang tidak lain dan tidak bukan adalah hafalan surah-surah Al-Qur’an yang disuruh oleh gurunya di sekolah tadi siang. Anak itu berhenti bertanya kepada ayahnya, sekarang ia teringat akan arti dari satu surah. Tapi ia lupa surah apa itu, dan bagaimana bunyinya. Ia tidak menanyakan hal itu kepada ayahnya karena dirasa, itu bukan topik pembicaraan mereka.
Seketika itu tanpa diminta, sang ayah kembali membacakan satu surah Al-Qur’an yakni surah An-Naas. Diawali dengan bismillah sang ayah memulai bacaannya.
“Qul a’uudzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min syarril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii shuduurin naas. Minal jinnati wannaas.” “shadaqallahul ‘azhim.”
Mendengar bacaan surah yang terakhir tersebut, si anak kembali larut dalam lamunannya. Ternyata barulah sekarang ia teringat bahwa surah yang baru ia hafalkan artinya saja itu adalah surah An-Naas. Sambil memejamkan matanya ia mencoba melafalkan arti dari surah tersebut.
“Katakanlah, “aku berlindung kepada Tuhaannya manusia, raja manusia, sembahan manusia, dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.” .” Katanya.
Sang ayah yang ketika itu mendengar anaknya berhasil menghafal arti dari salah satu surah Al-Qur’an berkata.
“Benar nak, Dia-lah Allah. Tuhan Yang Maha Esa. Dia-lah tempat meminta. Yang tidak beranak dan tidak diperanakkan. Dan tidak ada satu makhluk pun yang setara dengan-Nya. Allah lah yang menguasai apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dia yang maha menciptakan. Siang dan malam adalah segelintir dari ciptaan-Nya yang agung. Yang tiada duanya. Allah, Dia-lah raja dari segala raja. Rajanya manusia, sembahan manusia, Dia-lah tempat berlindung yang paling aman. Dari segala bentuk kejahatan baik itu oleh jin dan manusia.”  Katanya.
Sekarang sang anak mengerti dengan maksud dari ayahnya yang membacakan surah-surah Al-Qur’an sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya tadi. Dalam hati anak itu berkata.
“Subhanallah, Maha suci Engkau wahai Allah. Ma’afkan aku yang tidak mengenali-Mu sebelum ini ya Allah. Terima kasih Engkau telah menghadirkan Ayah di hidupku. Sebagai pembimbingku. Berikanlah kesehatan kepada ayahku agar aku bisa melihat dia melihatku sukses di kemudian hari ya Allah. Aamin. Terima kasih ya Allah.”
Begitulah, satu sore yang penuh dengan keberkahan. Penuh dengan tanya awalnya, namun penuh dengan faedah akhirnya. Tak terasa matahari bergulir begitu cepat. Suara adzan memecah keheningan sore. Demikianlah kemudian ayah dan anak itu masuk ke dalam rumah untuk berbuka puasa dan menunaikan panggilan Allah setelahnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar