Hawa dingin begitu terasa, matahari
belum menampakkan dirinya. Ia masih larut dalam lelap. Tak menghiraukan
dinginnya pagi, ditariknya lagi selimut itu menutupi seluruh tubuh sampai
kemudian terdengar suara ketukan dari pintu.
Tok
.. tok .. tok ..
“Ila..
bangun nak, sudah pagi. Hari ini Senin. Kamu harus cepat berangkat ke sekolah.
Kalau tidak, kamu bisa terlambat upacara.” Kata ibunya dari balik pintu.
Namun, melihat tak ada tanggapan dari
dalam kamar, ibunya lalu masuk.
“Heeh..
anak gadis. Bangun dong..” seru ibunya sambil membuka tirai jendela kamar
membiarkan sinar matahari yang masih sayup-sayup jingga masuk ke dalam kamar.
Merasa matanya silau, Laila pun terbangun. Ibunya sudah kembali ke dapur.
Segera diraihnya handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
Hari
ini sama seperti hari senin biasanya, tidak ada yang istimewa. Tidak. Tunggu
dulu?? Hari ulang tahunku?? Tidak. Itu sudah dua minggu yang lalu. Pikirnya
melayang entah kemana di depan cermin. Sampai ibunya kembali lagi ke kamar dan
membuyarkan lamunannya.
“Eh
.. kok malah bengong? Ayo, udah siap belum. Tuh dimeja udah mama siapkan
sarapan. Ayo cepat!.” Kata ibunya.
Sontak Ila langsung menarik tasnya dan
keluar kamar untuk sarapan terlebih dahulu. Dilihatnya sepiring nasi goreng di
atas meja buatan ibunya itu. terlihat enak. Tentu saja, masakan ibunya memang
menjadi menu favorit Laila. Tak peduli apapun yang dimasak, yang terasa hanya
sensasi lezat dari makanan itu. oleh karena itulah Laila sangat mengidolakan sang
ibu.
**
Jarak
dari rumah ke sekolah yang berdekatan membiasakan gadis yang baru saja berusia
17 tahun ini berjalan kaki menuju sekolahnya. Hanya dalam hitungan menit, ia
sudah menginjakkan kaki di depan pintu kelasnya.
“Woi
.. woi .. baru udah disapu niih..!!” teriak Della. Irish Della. Salah satu
teman kelas Laila yang pada hari ini tengah piket kelas, dan merasa kesal
karena lantai yang barusan ia sapu diinjak oleh Laila dan menjadikan lantai itu
kotor lagi.
“Iya..
iya, ma’af. Gak sengaja.” Jawab Laila tak mau kalah. Lalu duduk di kursinya.
Dikelas sudah ramai, hanya beberapa siswa yang belum datang. Salah satunya
teman sebangku Laila. Bernama lengkap Handio, dikenal karena sering telat.
Namun hebatnya, Dio –begitu ia dipanggil– tidak pernah mendapat hukuman. Bukan
karena ia anak guru atau kepala sekolah, melainkan karena dia tahu banyak jalan
tikus masuk ke sekolah. Setidaknya begitulah yang selalu dibilangnya saat
teman-teman lain bertanya tanpa memberi keterangan yang jelas dimana jalan
rahasia itu. baru hendak Ila menanyakan Dio dengan temannya, orang yang
dimaksud telah tiba.
“Hei,
tumben kamu nggak telat?” tanya Laila menggoda.
“Eh,
kamu lupa ya? Hari ini aku piket. Dan lagi, mana mau aku membuang sia-sia uang
jajanku untuk membayar denda hanya karena tidak piket. Mending buat beli baso
di kantin.” Jawab Dio. Laila yang mendengarnya hanya menggeleng. Dalam hatinya,
begitulah Dio, sekalipun pemalas, tapi tidak pernah melanggar peraturan –selain
telat, pastinya– pakaiannya pun selalu rapi, tidak seperti brandalan yang
bajunya dikeluarkan dengan rambut acak-acakan.
Jam
di dinding menunjukkan pukul 07:15 WIB. Bel tanda mulai upacara berbunyi.
Saatnya seluruh siswa siswi ke lapangan kecuali mereka yang ingin dibariskan di
depan tiang bendera karena telat ke lapangan.
**
Selesai
upacara, semua siswa kembali ke kelas, tak terkecuali Laila. Bersama kedua
teman wanitanya, ia berjalan santai menuju kelas. Sesampainya di kelas, mereka
duduk dibangku masing-masing dan menunggu guru masuk dan belajar. 15 menit
berlalu, namun belum ada tanda-tanda guru mata pelajaran akan masuk. Suasana
kelas mulai tak hening lagi seketika berubah menjadi riuh pasar. Ada yang
mengelompok membahas game, ada juga yang ngerumpi.
“Eh,
Della. Bu Nur kemana sih?!” tanya Laila ke Della. Tampaknya hanya Della yang
tidak ikut mengelompok. Namun Della tak menjawab. Tak berapa lama kemudian,
orang yang mereka tunggu-tunggu pun masuk. Tapi .. siapa itu? kata Laila
dalam hati. bu Nur masuk kelas tidak sendirian, ada seorang anak laki-laki di
sampingnya.
“Pagi
anak-anak. Ma’af ibu sedikit terlambat masuk kelas, tadi ada urusan dikit di
ruang kepsek.” Kata bu Nur menjelaskan keterlambatannya.
“Dan,
hari ini kalian memiliki teman baru. Baik, sekarang silahkan kamu perkenalkan
diri sama teman-temanmu.” Titah bu Nur.
Ditatapnya seisi kelas itu sejenak.
Kemudian memperkenalkan diri.
“Perkenalkan
nama saya Sandi Wardana, kalian bisa memanggil saya Dana. Saya pindahan dari
SMAN 3 Jambi.” Kata anak itu.
Sesaat
setelah anak itu memperkanalkan dirinya, kelas kembali riuh, beberapa anak
perempuan menebar pesona ke anak baru yang memang berperawakan tampan itu.
“Boleh
tau nomer hp nya gak??” celetuk salah satu siswi. Belum sempat si anak baru
menjawab, bu Nur sudah menjawab duluan.
“Boleh,
tapi setelah jam pelajaran saya selesai. Sekarang buka buku pelajaran kalian.
Dan Dana kamu boleh duduk di sebelah sana.” Kata bu Nur lalu memulai kelasnya.
**
Menit per
menit lewat, bel tanda pulang sekolah menyudahi kegiatan hari itu. namun meja
anak baru itu tak kunjung sepi, banyak siswi berdatangan bahkan yang dari kelas
lain pun berdatangan hendak berkenalan dengannya. Dasar anak baru. Gumam
Laila. Entah ada magnet apa sehingga para anak baru pasti akan banyak
penggemarnya. Namun setelah beberapa bulan bakal ditinggalkan juga. Benak Laila
mengingat begitulah teman sebangkunya Dio, ketika baru pindah tahun ajaran
lalu, sudah ada dua siswi sekaligus yang ingin berpacaran dengannya. Tapi pada
akhirnya, bak bunga kehilangan wanginya, Dio tak lebih populer setelah beberapa
bulan sekolah.
Sepuluh
menit berikutnya Laila sudah berada di rumah. Rumah tampak sepi. Masuk ke
dalam, dilihatnya secarik kertas di atas meja di ruang tamu. Tertulis disana.
“Ila,
mama ke rumah bi Minah, mungkin agak telat pulangnya. Makanan ada di meja.”
Ila mendengus. Kemudian berjalan ke
kamarnya. Diletakkannya tas di atas meja belajar dan direbahkannya tubuh letih
itu ke tempat tidur. Begitu letihnya sampai hanya butuh 15 menit dia sudah
terlarut dalam tidur. Tiba-tiba . . .
“Hei
..!! kamu Laila kan?!” teriak seorang pemuda mengagetkannya.
“Hei..
kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu lakukan tiduran disini?!” tanya pemuda itu
begitu melihat mata gadis itu berkedip cepat.
Setelah sepenuhnya tersadar, betapa
bingunnya ia. Dia berada di sebuah bangku panjang di sebuah taman. Tak begitu
lama, ia mengenali tempat ini.
“A..apa??!
Apa yang kulakukan?!” katanya.
“Kau
tertidur sendirian disini. Aku tak sengaja lewat dan melihat kamu, ya..
kubangunkan saja.” Jelas pemuda itu.
Masih diselimuti rasa kebingungan yang
teramat, dia menatap laki-laki yang sekarang ikut duduk di sampingnya.
“Hei,
aku Dana. Kamu?” kata pemuda itu memecah kecanggungan suasana saat itu.
“A..
aku Laila. Bukankah tadi di sekolah kita sudah kenalan.” Kata Laila datar.
“Oh
ya? Ma’af kalau aku lupa. Banyak anak perempuan yang mendatangiku tadi.”
Katanya bangga.
Mendengar kata-kata pemuda itu Laila
justru merasa illfeel. Percaya diri banget nih cowok, kata Laila
dalam hati.
“Eh,
kamu kenapa pindah ke sini?!” tanya Laila sedikit memiringkan kepalanya.
Membuat Dana tak dapat menahan tawanya.
“Yee..
malah ketawa.” Sambung Ila.
“Hhh..
ma’af. Aku pindah karena kamu.” Jawab Dana iseng. Namun, deg! Detak
jantung Laila berhenti sejenak, mendengar perkataan Dana. Tak ingin tampak
aneh, ia menyembunyikan salah tingkahnya dan malah menjawab sinis.
“Iih..
apaan sih. Gak lucu!” katanya. Meskipun kesannya tampak sinis, tapi Dana tahu
kalau Laila tersenyum dalam hatinya.
“Hm,
sebenarnya aku pidah karena ada masalah sama orang tuaku.” Kata Dana kemudian.
Mendengar jawaban Dana, Laila tahu kalau
ia berkata jujur. Hendak ia menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Namun, ia
takut itu terlalu mengusik masalah pribadiya. Anehnya, seolah-olah dapat
membaca pikiran Laila, Dana menceritakan semua yang terjadi sampai dia pindah
ke Bengkulu. Diceritakanya bagaimana betapa orang tuanya memaksa hendak
menyekolahkannya di sekolah tempat seorang gadis yang dijodohkan untuknya.
Diceritakannya juga pilihan yang diberi orang tuanya, sekolah di Jambi
International School (JIM) atau sekolah di luar kota dan tinggal bersama paman
dan bibinya di daerah tersebut. Dan saat
mendengar kota itu adalah Bengkulu, Dana langsung memilih untuk sekolah jauh
dari orang tuanya.
Laila
hanya termenung mendengar cerita Dana. Tak ada komentar yang terlesit di
pikirannya. Ia pun tak tahu harus berbuat apa jika berada diposisi Dana saat
itu.
Selesai
bercerita, Dana menatap gadis yang duduk terpaku menatap ke arahnya itu. Di
lambaikannya tangannya di depan muka Laila. Tak lama kemudian Laila kembali
tersadar dari lamunannya.
“Eh,
iya. Ma’af. Aku tau itu berat buat kamu untuk milih. Tapi, yakinlah itu pilihan
yang terbaik.” Kata Laila sejurus kemudian.
“Hm,
aku gak pernah berbagi cerita pada orang lain sebelumnya.” Kata Dana.
“Kamu
terlalu sibuk memendam sendiri beban dalam diri kamu. Terkadang berbagi beban
itu kepada orang lain jauh lebih baik daripada disimpan sendiri. Selama ini
kamu memikirkannya sendiri karena kamu gak tau apa yang bisa kamu dapatkan dari
berbagi.” kata Laila.
Dana menatap Laila dalam, begitupun
Laila melihat lebih dalam sosok anak laki-laki yang baru dia kenal beberapa
waktu itu. Melihat sifat terdalam dari Dana.
“Eh,
daripada diam terus disini. Mending keliling ini taman. Yuk!!” ajak Dana
menggenggam tangan Laila dan menariknya.
**
Keduanya
semakin bertambah dekat per detiknya. Layaknya sudah lama kenal, tak ada lagi
tembok canggung yang membatasi jarak mereka. Buktinya hampir tak lepas
genggaman tangan Laila, dan begitupun sebaliknya Laila merasa begitu nyaman
berada di setiap saat bersama Dana.
“Hei,
lihat!” seru Dana menunjuk seekor kelinci nan lucu yang melompat-lompat saling
berkejaran. Tampak begitu lucu. Lihatlah mereka berdua tertawa menyaksikannya.
“Hei
itu!” sekarang gantian Laila yang berteriak menunjuk dua ekor burung merpati
yang tengah bertengger berdua. Sepertinya sepasang. Indahnya.
Mereka berdua
terus melanjutkan perjalanan mengitari taman itu. Angin sepoi nan sejuk
menyanyikan lagu cinta menyiratkan perasaan mereka berdua. Tak ingin rasanya saat-saat
ini berakhir.
“Ila, kita
duduk di sana yuk, capek nih jalan terus.” Ajak Dana menunjuk satu bangku
kosong tepat di bawah sebuah pohon cemara rimbun.
“Iya, aku
juga capek.” Sambut Laila dengan senang hati.
Disana juga banyak pasangan lain yang juga
sedang duduk berduaan menikmati terpaan angin. Betapa tenangnya suasana disini.
“Kamu
haus gak?” tanya Dana.
“Iya
nih,” jawab Laila.
“Tunggu
bentar ya,” kata Dana.
“Oke.”
Laila mengiyakan.
Tak lama kemudian Dana telah kembali.
Aneh, dia hanya membawa satu botol minuman. Apa lagi sekarang? Benak Laila.
“Hei,
kok cuma satu?” Laila memberanikan diri bertanya.
“Iya,
buat kamu.” Kata Dana.
Laila kebingungan.
“Oke,
trus kamu gimana?” tanya Laila.
“Aku
taruhan kamu gak bakalan habis ini satu botol sendirian.” Kata Dana dengan nada
menantang.
“Sok tau. Dan gimana kalau habis?” tantang Laila
balik.
“Nothing.
Kalau kamu bisa menghabisinya, kamu boleh minta apa aja setelah ini.” Kata
Dana.
Mendengar taruhan itu, Laila percaya
diri dapat memecahkan tantangan itu.
“Dan,
kalau aku, hheh.. mustahil gak bisa??” kata Laila mencibir taruhan Dana.
Mendengar itu Dana hanya tersenyum.
Kemudian menjelaskan konsekuensinya.
“Kiss
me.” Jawab Dana.
Laila sedikit terkejut, tapi karena dia
yakin dia bisa menghabiskan isi botol itu, dia dengan mantap menjawab.
“Deal.”
Kata Laila.
Sesaat
kemudian botol minuman itu sudah berada ditangan Laila. Dana sudah membuka
tutupnya dan memberikan sedotan untuk memudahkan Laila meminumnya.
“Silahkan.”
Kata Dana memulai tantangannya.
Tegukan demi tegukan air segar mengalir
di tenggorokan gadis berambut pirang itu. Dana hanya terpaku menunggu gadis itu
menyerah dan tidak bisa menghabiskan minuman teh botol itu.
“Ayo,
cepat.” Goda Dana.
Namun Laila tak menggubris, ia tetap
melanjutkan taruhannya. Sedikit demi sedikit air dalam botol itu mulai
meninggalkan botol. Dan tak lama lagi seluruh isi botol itu akan habis.
Kemudian . . .
“Ahh
. . “ Laila meletakkan botol itu di bangku tempat mereka duduk.
Hanya tinggal seperempat botol tersisa,
namun Laila benar-benar sudah tak sanggup lagi meminumnya. Ia gagal. Dana
tersenyum puas.
“Hhaha..
see? Kamu gak bisa kan.” Katanya dengan nada mengejek.
Laila hanya manyun.
Sejurus kemudian Dana mengingatkan
kembali taruhannya. Mendengar itu Laila tertegun dan tak bisa berkata apa-apa. Apa
yang harus kulakukan? Benaknya. Ia tak pernah melakukannya sebelumnya.
“Aku
berdiri disini.” Kata Dana menggoda.
Laila terpatung untuk sesaat, kemudian
dia mendekati laki-laki itu. semakin dekat, hingga mata mereka saling menatap.
Semakin dekat, dan . .
“Ila,
kamu sudah pulang sayang?” teriakan ibu dari arah pintu mengagetkan dan
membangunkannya dari mimpi.
“Hah?!
A..apa?! Cuma mimpi??!” kata Laila kaget begitu mengetahui kalau semua itu
hanya mimpi.
Tak lama kemudian ibu sudah sampai ke
kamar. Dilihatnya Laila yang begitu kusut karena baru bangun tidur kemudian
diperintahkannya untuk mencuci muka. Tanpa berkata apa-apa Ila hanya beringsut
dan berlalu ke kamar mandi.
Setelah
mencuci mukanya, ia duduk di kursi dapur dan termenung. Ibunya yang melihat itu
lalu bertanya.
“Eh?
Kamu kenapa? Kok bengong gitu??” tanya ibunya begitu penasaran.
“Em,
nggak kok ma, Cuma tadi mimpi aneh aja. Jadi, kepikiran terus deh..” jawab
Laila.
Mendengar jawaban Ila, ibunya hanya
tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“Hm,
dasar kamu mah. Mangkanya jangan tidur pas perut lagi kosong. Kan jadi mimpi
aneh-aneh. Lagian kamu sih, sepulang sekolah bukannya cari makanan malah
tidur.” Kata ibunya dengan nada mengejek.
“Emang,
kamu tadi mimpinya gimana?” tanya ibunya menggoda.
“Iih..
apaan sih mama, kepo deh..” jawab Laila membalas kejahilan ibunya.
Keduanya kemudian tertawa lepas seraya
melupakan semua kejadian yang terjadi.
“Ini,
makan dulu.” Kata ibunya sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang dibawanya
dari rumah bi Minah. Tak lupa masakan ibunya juga telah tertata di atas meja.
“Selamat
makan!” teriak Laila.
Sesaat kemudian Ila telah larut dalam
kelezatan masakan ibunya. Dan melupakan mimpi anehnya bersama si pangeran
impian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar