Sabtu, 31 Desember 2016

Sajadah Untuk Bunda : Firasat (BENAR atau SALAH)

Hasil gambar untuk gambar firasat







Kriiinggg….!!!
Aaaarrgghh….!!!
Suara deringan jam waker-ku beradu dengan teriakanku. Betapa terkejutnya aku, semua yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Syukurlah. Kataku dalam hati. Aku masih memegang dadaku mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang sedari bangun tadi berdegup sangat cepat lagi kencang. Sungguh tadi itu adalah mimpi yang aneh namun begitu nyata. Ahh.. tidak.. tidak.. tidak.. jangan sampai mimpi itu jadi nyata. Itu hanya bunga tidur, ya.. itu tak berarti apa-apa. Aku memotivasi diriku sendiri. Kemudian bangun dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air.
                “Kamu udah bangun, Le?.” Tanya pamanku.
Aku hanya mengangguk. Tak mengeluarkan satu katapun.
                “Le, tadi paman dengar kayak kamu teriak. Ada apa?.” Tanya pamanku penasaran.
                “Eng, nggak kok. Cuma tadi mimpi aja, paman.” Jawabku sekenanya. Aku merasa tidak enakan bila harus menceritakan mimpiku pada pamanku ini. Aku takut itu akan menjadi beban pikirannya.
                “Oo..walah. Mimpi kok jerit-jerit.” Goda pamanku, lalu tertawa terbahak-bahak. Akupun ikut terbawa tawa paman. Sampai bibiku masuk ke dapur setelah kembali dari warung –setidaknya begitulah yang terlihat, dengan gula dan kopi di tangannya– dan bertanya.
                “Ada apa ini? Serunya..??.” katanya dengan senyum yang senantiasa terkembang dibibirnya.
                “Oh, tidak ada apa-apa.” Jawab paman kemudian.
Mendengar itu, bibi tampak sedikit manyun. Aku tahu dia hanya pura-pura. Oleh karenanya, bukannya malah bersalah, paman malah lanjut ketawa. Kami bertiga kemudian larut dalam hawa kekeluargaan yang terasa begitu hangat. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Mereka adalah orang tuaku selama aku bersekolah disini. Aku selalu menuruti perintah mereka, tak ingin aku melihat mereka marah. Tak sampai hatiku mengecewakan mereka, yang telah susah payah membiayai sekolahku hingga lulus dari SMA.
                Dan sekarang tiba ditahun ketigaku tinggal di rumah paman, dan juga berarti tahun ketigaku bersekolah di SMA Negeri 2 ini. Tak terasa waktuku hanya sebatang korek api lagi. Seharusnya aku sudah bisa menentukan pilihanku sekarang. Tapi, kenyataan berbanding terbalik, sangat terbalik. Aku masih bingung memilih program studi lanjutan yang sesuai dengan bakatku. Aku berani bersumpah, selama ini aku banyak dihadapi dengan pilihan. Aku harus memilih terus sekolah atau bekerja membantu ayah. Aku harus memilih antara habiskan waktuku dengan bersantai atau terbirit-birit belajar. Namun, ini adalah pilihan terbesar bagiku. Pilihan yang paling berpengaruh menentukan kehidupanku selanjutnya. Mungkinkah aku akan terus mencapai derajat tinggi atau terhenti langkah dan mengecewakan orang tuaku. Kemudian, kalimat terakhir yang terlintas dibenakku itu menjadi pengingatku. Aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah mengecewakan orang tuaku dan semua orang yang telah bersusah payah untukku. Aku pernah mendengar seseorang berkata, “Kerbau dipegang pada tanduknya, manusia dipegang pada janjinya”. Ya, aku tak akan menarik kata-kataku.
**
                “Hei,” sapa seorang siswi kelas dari belakang sambil menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku. Kulihat dia, ternyata terkaanku benar. Lea. Dengan rambut sebahu terurai dan kalung alphabet menggantung di lehernya. Begitu cantik. Sungguh sempurna ciptaaan Tuhan yang satu ini.
                “Masih pagi. Udah ngelamun aja.” Lanjutnya dengan nada mengejek.
Namun, aku belum bereaksi. Aku hanya tersenyum menatap parasnya indah.
                “Hei,” kataku pelan, bahkan kuyakin tak terdengar olehnya.
Kulihat dia menuju bangkunya,  kemudian duduk manis disana. Sampai seorang guru masuk dan memulai kelas.
                “Good morning students!.” Sapa seorang guru muda –sepertinya mahasiswa pelatihan–
                “Good morning, Sir.” Jawab seisi kelas serentak.
Semua penduduk kelas melongo dan saling menatap satu sama lain, pasalnya tidak ada yang mengenali sosok guru yang tengah berdiri di depan kelas itu.
                “All right guys, I’m here to change Sir Ryan for a while. Because he had another job to do.” Lanjut guru itu. Namun kami hanya melongo bak keledai dungu. Sebab ini adalah pengalaman pertama bagi kami diajari guru muda nan fasih berbahasa inggris. Selama ini, Sir Ryan pun jarang berbicara dengan bahasa inggris saat mengajar. Hanya sesekali.
                “Any question?.” Katanya.
Mendengar itu kami saling menengok kiri kanan. Lalu, satu siswi mengangkat tangannya. Lea.
                “Sir, who is your name, Sir?.” Tanyanya memberanikan diri.
                “Aha! Good question. Anything else?.” Tanyanya lagi sebelum menjawab pertanyaan Lea barusan. Namun, hampir semua murid sekelas menggeleng. Memaksa guru itu menjawab pertanyaan Lea.
                “All right, my name is Marleon Padre Effendi. And you all can call me Leon.” Kata Sir Leon.
                “Sir, usia Sir berapa?.” Tanya Feru, salah seorang siswa di kelas.
                “Yup! Here’s the rule. First, only use English. Second, if any question, rise your hand and tell your name first. Okay?.” Katanya mencengangkan kami semua.
Mau tak mau kami mematuhi peraturannya. Pikir kami, toh dia hanya guru pengganti. Hanya sekali ini saja.
                “Yes, Sir!.” Jawab kami serentak.
                “All right, if there is no more question. I’m gonna ask you something. How much that you have learn about English so far?.” Tanya Sir Leon. Namun, tidak seorangpun menanggapi pertanyaan itu. Sampai Sir Leon melanjutkan pelajaran, ditulisnya di papan tulis.
                “CERPEN”
Kemudian dilontarkannya satu pertanyaan. Tapi sekali lagi, tak seorangpun menjawab.
                “How knows?.” Katanya. Semuanya menggeleng. Kemudian aku mengacungkan tanganku, meskipun tak yakin, aku memberanikan diri agar terlihat hebat di depan Lea.
                “Cerita pendek, Sir.” Kataku. Dan yang tak kusangka, ternyata jawabanku benar.
                “Short Story, or in Indonesian we known as cerpen. Ada yang tahu cerpen itu termasuk jenis teks apa dalam bahasa inggris?.” Katanya. Seketika itu seorang siswa langsung mengacungkan tangannya, tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan Sir Leon. Melainkan ingin mengoreksi kesalahan bahasa yang diucapkan Sir Leon.
                “Katanya tadi gak boleh pakai bahasa Indonesia.” Kata Feru –dia memang terkenal nakal dan suka membuat onar–. Sontak semua yang di kelas tertawa. Dan yang mengejutkan ialah, Sir Leon bukannya merasa marah karena dipermainkan, tetapi  dia malah tersenyum. Aku bingung dengan apa yang sedang direncanakannya. Sampai dia menjelaskan.
                “Nah, gini dong. Semangat. Semuanya tertawa. Jangan jadikan peraturan saya sebagai beban. Tujuan dari semua itu tidak lain untuk memperlancar bicara inggris kalian. Bapak tidak akan marah dan menghukum kalian jika kalian terbata-bata saat berbahasa inggris. Justru yang bapak akan hukum, mereka yang tidak berani berbicara karena harus menggunakan bahasa inggris. Meskipun tadi hanya kesengajaan yang bapak buat untuk memancing semangat belajar kalian, tetapi bapak akui tetap bersalah. Kalian boleh menyebutkan sanksi yang tepat untuk bapak. Silahkan.” Katanya panjang lebar menjelaskan maksudnya sengaja berbicara bahasa Indonesia di tengah pelajaran bahasa Inggris tadi.
                Kulihat semuanya bergerombol selayaknya sedang berdiskusi. Memang diskusi. Memikirkan hukuman untuk Sir Leon. Memberi hukuman pada seorang guru? Cari mati. Sampai Feru kembali mengangkat tangannya. Tampaknya setelah menimbang berbagai kemungkinan hukuman yang bisa saja sesuka hati diberikan sang guru kepada mereka satu saat. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi hukuman yang ringan dan tidak menyinggung Sir Leon –yang kuyakin itu adalah ide dari siswi kelas, karena mereka tidak tega melihat guru muda ganteng itu dikerjai anak laki-laki kelas–.
                “Tidak menggunakan spidol saat mengajar, dan tidak ada pr.” Kata Feru senang sekali tampaknya.
                Mendengar itu, Sir Leon tampak berpikir sejenak. Agaknya itu hanya gimik, aku menduga.
                “Baik, tidak ada spidol. Tidak ada pr. Now let’s start the lesson.” Kata Sir Leon.
Sebagaimana tantangan dari muridnya, Sir Leon memenuhi janjinya untuk tidak menggunakan spidol selama mengajar. Namun, seperti yang kuduga, guru muda memang banyak akal. Tidak menggunakan spidol, dia menunjuk langsung murid kelas untuk menanyakan beberapa pertanyaan. Hadeeh..
                Tidak terasa dua kali enam puluh menit telah lewat. Sir Leon mengakhiri pelajaran hari ini dengan tidak memberikan tugas satu nomorpun. Wow, dia benar-benar menepati janjinya. Kataku kagum dalam hatiku. Sekali lagi aku melihat sosok yang mudah bergaul. Sama persis dengan orang yang kukenal dulu. Adi. Sahabatku. Sekali saja dia menatap mata orang lain, dia langsung akrab dan tanpa segan bergurau dengan orang itu.
                “Lagi-lagi aku iri melihat cara bergaul orang lain. Sir Leon. Adi. Mereka sangat hebat. Bisakah aku seperti layaknya mereka?.” Begitulah kalimat yang senantiasa terngiang di kepalaku. Memikirkan hebatnya orang yang mudah bergaul.
                “Hei, Le. Bengong aja kamu.” Tegur Boy memecah konsentrasiku.
                “Eh, gak apa-apa Lea!.” Ups! Aku yang terkejut malah keceplosan menyebut nama itu.
Kulihat Boy memicingkan matanya ke arahku. Aku yang salah tingkah mencoba mengalihkan percakapan.
                “Eh? Kenapa?!.” Kataku.
                “Lea? Kenapa dia? Pacar yaaa…??.” Tanyanya iseng. Tapi justru bagiku itu adalah pertanyaan jebakan. Aku khawatir jika aku beritahu Boy tentang perasaanku pada gadis itu, bisa-bisa dia ceritakan pada semua murid di kelas. Bisa malu besar.
                Ketika pion digerakkan maju satu langkah untuk memblokir laju pion lawan, yang justru menjadikan raja dalam bahaya. Saat seperti ini, hanya ada satu jalan keluar. Saling memakan. Dengan asumsi harus ada pion kedua untuk memperkuat posisi pion pertama yang telah maju duluan. Serangan pion pertama akan dengan mudah dipatahkan, saat seperti ini, fungsi pion kedua dimaksimalkan. Pion kedua memakan pion lawan agar ancaman terhadap raja hilang dan raja kembali tenang.
                “Boy, bisa jaga rahasia kan?.” Kataku kepada Boy yang masih dengan tampang anehnya sok mencurigai aku tadi.
                “Seenggaknya, baso aja.” Katanya kecakepan.
Aku hanya bisa menggeleng. Tapi, apa boleh buat. Daripada aku diketawai sekelas. Pikirku.
                “All right. Ntar.” Kataku menyanggupi syaratnya.
                “Bener ni ye..” katanya dengan cengir kuda terkembang lebar.
**
                “Assalamu’alaikum.” Teriakku dari pintu saat aku baru masuk ke dalam rumah. Namun tak ada yang menyaut. Aku berjalan ke dapur, kujumpai bibiku sedang menggoreng ikan, tampak sedap. Mengetahui ada yang datang, bibi memutar badannya dan tersenyum melihatku.
                “Udah pulang kamu Le,” katanya penuh keramahan di nada bicaranya.
                “Iya bi, kirain tadi gak ada orang di rumah. Oh ya, paman kemana bi?.” Tanyaku saat aku menyadari aku tak melihat paman dimanapun.
                “Oh, itu. Katanya ada urusan sama Pak Ramli. Bibi juga kurang tau urusan apa, Le.” Jelasnya.
Aku tak memikirkan apa-apa. Aku hanya berpamitan untuk masuk ke kamarku. Masuk ke dalam kamar, aku meletakkan tasku disandaran kursi. Melepas satu per satu kancing bajuku. Menggantungnya di belakang pintu. Merebahkan badanku yang penat ke atas kasur tipis yang bagaimanapun aku tetap harus berrsyukur aku tidak tidur beralaskan lantai. Tak butuh waktu lama, angin sepoi yang masuk lewat jendela yang sengaja kubuka selaras dengan tubuh yang penat. Memudahkanku hanyut dalam mimpi.
**
                Aku tengah berada di sebuah persimpangan di tengah persimpangan itu ada sebuah marka jalan yang menunjukkan arah dan tujuan dari tiap ruas jalan yang terbagi dua itu. Kiri, “KEBUN TEH, PANTAI PANJANG”. Kanan, “PUSAT KOTA, BANK SYARI’AH”. Apa ini? Apa maksudnya?. Aku kebingungan, tak seorangpun juga yang bisa aku tanyai di sini. Tempat apa sebenarnya ini, aku tak mengenalinya sama sekali. Apa yang ada di ujung jalan sana? Benakku.
                Tanpa kusadari, kakiku bergerak selayaknya orang tengah berjalan. Tapi anehnya, gerakan kakiku bukan aku yang mengaturnya, tanpa kusadari aku berjalan menuju persimpangan sebelah kanan. Apa kiranya yang kudapati di jalan yang menunjukkan “PUSAT KOTA”?. Entahlah, aku hanya terus bergerak. Tiba-tiba .. Ikuti saja kata hatimu, jangan berbalik. Suara itu muncul mengagetkanku, pasalnya tak ada satu sosokpun di sini. Suara itu juga tidak familiar di telingaku. Takut. Mungkin, tapi kali ini. Karena rasa penasaran melebihi apapun saat ini. Juga, firasatku mengatakan aku akan menemukan sesuatu yang baik diujung sana. Jadi, aku lebih memantapkan langkah kakiku. Tak peduli mungkin firasatku salah, aku hanya mengikuti suara misterius yang tadi menggaung. Ikuti kata hati, jangan berbalik. Aku mengartikan itu sebagai pertanda baik. Bahwa aku akan menemukan sesuatu yang mengejutkan disana, dan untuk mencapai itu semua aku tidak boleh ragu atau setengah-setengah dalam usaha menggapainya.
                Allahu akbar.. Allahu akbar..
                Suara adzan yang menggema dari pengeras suara masjid membangunkanku. Sedikit tersentak karena menyadari aku tidak dimana-mana. Dan tadi itu hanyalah bunga tidur. Duduk sebentar sebelum bangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar.

                Dalam khusyuk aku berdo’a. Semoga apa yang menjadikan keburukan bagiku dihindarkan dan apa yang menjadikan baik bagiku diwujudkan. Amin.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar