
Kriiinggg….!!!
Aaaarrgghh….!!!
Suara deringan jam waker-ku beradu
dengan teriakanku. Betapa terkejutnya aku, semua yang terjadi barusan hanyalah
mimpi. Syukurlah. Kataku dalam hati. Aku masih memegang dadaku mencoba
untuk menenangkan detak jantungku yang sedari bangun tadi berdegup sangat cepat
lagi kencang. Sungguh tadi itu adalah mimpi yang aneh namun begitu nyata. Ahh..
tidak.. tidak.. tidak.. jangan sampai mimpi itu jadi nyata. Itu hanya bunga
tidur, ya.. itu tak berarti apa-apa. Aku memotivasi diriku sendiri.
Kemudian bangun dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air.
“Kamu
udah bangun, Le?.” Tanya pamanku.
Aku hanya mengangguk. Tak mengeluarkan satu katapun.
“Le,
tadi paman dengar kayak kamu teriak. Ada apa?.” Tanya pamanku penasaran.
“Eng,
nggak kok. Cuma tadi mimpi aja, paman.” Jawabku sekenanya. Aku merasa tidak
enakan bila harus menceritakan mimpiku pada pamanku ini. Aku takut itu akan
menjadi beban pikirannya.
“Oo..walah.
Mimpi kok jerit-jerit.” Goda pamanku, lalu tertawa terbahak-bahak. Akupun ikut
terbawa tawa paman. Sampai bibiku masuk ke dapur setelah kembali dari warung –setidaknya
begitulah yang terlihat, dengan gula dan kopi di tangannya– dan bertanya.
“Ada
apa ini? Serunya..??.” katanya dengan senyum yang senantiasa terkembang
dibibirnya.
“Oh,
tidak ada apa-apa.” Jawab paman kemudian.
Mendengar itu, bibi tampak sedikit manyun. Aku tahu dia
hanya pura-pura. Oleh karenanya, bukannya malah bersalah, paman malah lanjut
ketawa. Kami bertiga kemudian larut dalam hawa kekeluargaan yang terasa begitu
hangat. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Mereka adalah orang tuaku selama
aku bersekolah disini. Aku selalu menuruti perintah mereka, tak ingin aku
melihat mereka marah. Tak sampai hatiku mengecewakan mereka, yang telah susah
payah membiayai sekolahku hingga lulus dari SMA.
Dan
sekarang tiba ditahun ketigaku tinggal di rumah paman, dan juga berarti tahun
ketigaku bersekolah di SMA Negeri 2 ini. Tak terasa waktuku hanya sebatang korek
api lagi. Seharusnya aku sudah bisa menentukan pilihanku sekarang. Tapi,
kenyataan berbanding terbalik, sangat terbalik. Aku masih bingung memilih
program studi lanjutan yang sesuai dengan bakatku. Aku berani bersumpah, selama
ini aku banyak dihadapi dengan pilihan. Aku harus memilih terus sekolah atau
bekerja membantu ayah. Aku harus memilih antara habiskan waktuku dengan bersantai
atau terbirit-birit belajar. Namun, ini adalah pilihan terbesar bagiku. Pilihan
yang paling berpengaruh menentukan kehidupanku selanjutnya. Mungkinkah aku akan
terus mencapai derajat tinggi atau terhenti langkah dan mengecewakan orang
tuaku. Kemudian, kalimat terakhir yang terlintas dibenakku itu menjadi
pengingatku. Aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah mengecewakan orang
tuaku dan semua orang yang telah bersusah payah untukku. Aku pernah mendengar
seseorang berkata, “Kerbau dipegang pada tanduknya, manusia dipegang pada janjinya”. Ya, aku tak akan menarik kata-kataku.
**
“Hei,”
sapa seorang siswi kelas dari belakang sambil menepuk bahuku, membuyarkan
lamunanku. Kulihat dia, ternyata terkaanku benar. Lea. Dengan rambut sebahu
terurai dan kalung alphabet menggantung di lehernya. Begitu cantik. Sungguh
sempurna ciptaaan Tuhan yang satu ini.
“Masih
pagi. Udah ngelamun aja.” Lanjutnya dengan nada mengejek.
Namun, aku belum bereaksi. Aku hanya tersenyum menatap
parasnya indah.
“Hei,”
kataku pelan, bahkan kuyakin tak terdengar olehnya.
Kulihat dia menuju bangkunya, kemudian duduk manis disana. Sampai seorang
guru masuk dan memulai kelas.
“Good
morning students!.” Sapa seorang guru muda –sepertinya mahasiswa pelatihan–
“Good
morning, Sir.” Jawab seisi kelas serentak.
Semua penduduk kelas melongo dan saling menatap satu sama
lain, pasalnya tidak ada yang mengenali sosok guru yang tengah berdiri di depan
kelas itu.
“All
right guys, I’m here to change Sir Ryan for a while. Because he had another job
to do.” Lanjut guru itu. Namun kami hanya melongo bak keledai dungu. Sebab ini
adalah pengalaman pertama bagi kami diajari guru muda nan fasih berbahasa
inggris. Selama ini, Sir Ryan pun jarang berbicara dengan bahasa inggris saat
mengajar. Hanya sesekali.
“Any
question?.” Katanya.
Mendengar itu kami saling menengok kiri kanan. Lalu, satu
siswi mengangkat tangannya. Lea.
“Sir,
who is your name, Sir?.” Tanyanya memberanikan diri.
“Aha!
Good question. Anything else?.” Tanyanya lagi sebelum menjawab pertanyaan Lea
barusan. Namun, hampir semua murid sekelas menggeleng. Memaksa guru itu
menjawab pertanyaan Lea.
“All
right, my name is Marleon Padre Effendi. And you all can call me Leon.” Kata
Sir Leon.
“Sir,
usia Sir berapa?.” Tanya Feru, salah seorang siswa di kelas.
“Yup!
Here’s the rule. First, only use English. Second, if any question, rise your
hand and tell your name first. Okay?.” Katanya mencengangkan kami semua.
Mau tak mau kami mematuhi peraturannya. Pikir kami, toh dia
hanya guru pengganti. Hanya sekali ini saja.
“Yes,
Sir!.” Jawab kami serentak.
“All
right, if there is no more question. I’m gonna ask you something. How much that
you have learn about English so far?.” Tanya Sir Leon. Namun, tidak seorangpun
menanggapi pertanyaan itu. Sampai Sir Leon melanjutkan pelajaran, ditulisnya di
papan tulis.
“CERPEN”
Kemudian dilontarkannya satu pertanyaan. Tapi sekali lagi,
tak seorangpun menjawab.
“How
knows?.” Katanya. Semuanya menggeleng. Kemudian aku mengacungkan tanganku,
meskipun tak yakin, aku memberanikan diri agar terlihat hebat di depan Lea.
“Cerita
pendek, Sir.” Kataku. Dan yang tak kusangka, ternyata jawabanku benar.
“Short
Story, or in Indonesian we known as cerpen. Ada yang tahu cerpen itu termasuk
jenis teks apa dalam bahasa inggris?.” Katanya. Seketika itu seorang siswa
langsung mengacungkan tangannya, tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan Sir
Leon. Melainkan ingin mengoreksi kesalahan bahasa yang diucapkan Sir Leon.
“Katanya
tadi gak boleh pakai bahasa Indonesia.” Kata Feru –dia memang terkenal nakal
dan suka membuat onar–. Sontak semua yang di kelas tertawa. Dan yang
mengejutkan ialah, Sir Leon bukannya merasa marah karena dipermainkan,
tetapi dia malah tersenyum. Aku bingung
dengan apa yang sedang direncanakannya. Sampai dia menjelaskan.
“Nah,
gini dong. Semangat. Semuanya tertawa. Jangan jadikan peraturan saya sebagai
beban. Tujuan dari semua itu tidak lain untuk memperlancar bicara inggris
kalian. Bapak tidak akan marah dan menghukum kalian jika kalian terbata-bata
saat berbahasa inggris. Justru yang bapak akan hukum, mereka yang tidak berani
berbicara karena harus menggunakan bahasa inggris. Meskipun tadi hanya
kesengajaan yang bapak buat untuk memancing semangat belajar kalian, tetapi
bapak akui tetap bersalah. Kalian boleh menyebutkan sanksi yang tepat untuk
bapak. Silahkan.” Katanya panjang lebar menjelaskan maksudnya sengaja berbicara
bahasa Indonesia di tengah pelajaran bahasa Inggris tadi.
Kulihat
semuanya bergerombol selayaknya sedang berdiskusi. Memang diskusi. Memikirkan
hukuman untuk Sir Leon. Memberi hukuman pada seorang guru? Cari mati. Sampai
Feru kembali mengangkat tangannya. Tampaknya setelah menimbang berbagai
kemungkinan hukuman yang bisa saja sesuka hati diberikan sang guru kepada
mereka satu saat. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi hukuman yang ringan
dan tidak menyinggung Sir Leon –yang kuyakin itu adalah ide dari siswi kelas,
karena mereka tidak tega melihat guru muda ganteng itu dikerjai anak laki-laki
kelas–.
“Tidak
menggunakan spidol saat mengajar, dan tidak ada pr.” Kata Feru senang sekali
tampaknya.
Mendengar
itu, Sir Leon tampak berpikir sejenak. Agaknya itu hanya gimik, aku
menduga.
“Baik,
tidak ada spidol. Tidak ada pr. Now let’s start the lesson.” Kata Sir Leon.
Sebagaimana tantangan dari muridnya, Sir Leon memenuhi
janjinya untuk tidak menggunakan spidol selama mengajar. Namun, seperti yang
kuduga, guru muda memang banyak akal. Tidak menggunakan spidol, dia menunjuk
langsung murid kelas untuk menanyakan beberapa pertanyaan. Hadeeh..
Tidak
terasa dua kali enam puluh menit telah lewat. Sir Leon mengakhiri pelajaran
hari ini dengan tidak memberikan tugas satu nomorpun. Wow, dia benar-benar
menepati janjinya. Kataku kagum dalam hatiku. Sekali lagi aku melihat sosok
yang mudah bergaul. Sama persis dengan orang yang kukenal dulu. Adi. Sahabatku.
Sekali saja dia menatap mata orang lain, dia langsung akrab dan tanpa segan bergurau
dengan orang itu.
“Lagi-lagi
aku iri melihat cara bergaul orang lain. Sir Leon. Adi. Mereka sangat hebat.
Bisakah aku seperti layaknya mereka?.” Begitulah kalimat yang senantiasa
terngiang di kepalaku. Memikirkan hebatnya orang yang mudah bergaul.
“Hei,
Le. Bengong aja kamu.” Tegur Boy memecah konsentrasiku.
“Eh,
gak apa-apa Lea!.” Ups! Aku yang terkejut malah keceplosan menyebut nama
itu.
Kulihat Boy memicingkan matanya ke arahku. Aku yang salah
tingkah mencoba mengalihkan percakapan.
“Eh?
Kenapa?!.” Kataku.
“Lea?
Kenapa dia? Pacar yaaa…??.” Tanyanya iseng. Tapi justru bagiku itu adalah
pertanyaan jebakan. Aku khawatir jika aku beritahu Boy tentang perasaanku pada
gadis itu, bisa-bisa dia ceritakan pada semua murid di kelas. Bisa malu besar.
Ketika
pion digerakkan maju satu langkah untuk memblokir laju pion lawan, yang justru
menjadikan raja dalam bahaya. Saat seperti ini, hanya ada satu jalan keluar.
Saling memakan. Dengan asumsi harus ada pion kedua untuk memperkuat posisi pion
pertama yang telah maju duluan. Serangan pion pertama akan dengan mudah
dipatahkan, saat seperti ini, fungsi pion kedua dimaksimalkan. Pion kedua
memakan pion lawan agar ancaman terhadap raja hilang dan raja kembali tenang.
“Boy,
bisa jaga rahasia kan?.” Kataku kepada Boy yang masih dengan tampang anehnya
sok mencurigai aku tadi.
“Seenggaknya,
baso aja.” Katanya kecakepan.
Aku hanya bisa menggeleng. Tapi, apa boleh buat. Daripada
aku diketawai sekelas. Pikirku.
“All
right. Ntar.” Kataku menyanggupi syaratnya.
“Bener
ni ye..” katanya dengan cengir kuda terkembang lebar.
**
“Assalamu’alaikum.”
Teriakku dari pintu saat aku baru masuk ke dalam rumah. Namun tak ada yang
menyaut. Aku berjalan ke dapur, kujumpai bibiku sedang menggoreng ikan, tampak
sedap. Mengetahui ada yang datang, bibi memutar badannya dan tersenyum
melihatku.
“Udah
pulang kamu Le,” katanya penuh keramahan di nada bicaranya.
“Iya
bi, kirain tadi gak ada orang di rumah. Oh ya, paman kemana bi?.” Tanyaku saat
aku menyadari aku tak melihat paman dimanapun.
“Oh,
itu. Katanya ada urusan sama Pak Ramli. Bibi juga kurang tau urusan apa, Le.”
Jelasnya.
Aku tak memikirkan apa-apa. Aku
hanya berpamitan untuk masuk ke kamarku. Masuk ke dalam kamar, aku meletakkan
tasku disandaran kursi. Melepas satu per satu kancing bajuku. Menggantungnya di
belakang pintu. Merebahkan badanku yang penat ke atas kasur tipis yang
bagaimanapun aku tetap harus berrsyukur aku tidak tidur beralaskan lantai. Tak
butuh waktu lama, angin sepoi yang masuk lewat jendela yang sengaja kubuka selaras
dengan tubuh yang penat. Memudahkanku hanyut dalam mimpi.
**
Aku
tengah berada di sebuah persimpangan di tengah persimpangan itu ada sebuah
marka jalan yang menunjukkan arah dan tujuan dari tiap ruas jalan yang terbagi
dua itu. Kiri, “KEBUN TEH, PANTAI PANJANG”. Kanan, “PUSAT KOTA, BANK SYARI’AH”.
Apa ini? Apa maksudnya?. Aku kebingungan, tak seorangpun juga yang bisa
aku tanyai di sini. Tempat apa sebenarnya ini, aku tak mengenalinya sama
sekali. Apa yang ada di ujung jalan sana? Benakku.
Tanpa
kusadari, kakiku bergerak selayaknya orang tengah berjalan. Tapi anehnya,
gerakan kakiku bukan aku yang mengaturnya, tanpa kusadari aku berjalan menuju
persimpangan sebelah kanan. Apa kiranya yang kudapati di jalan yang menunjukkan
“PUSAT KOTA”?. Entahlah, aku hanya terus bergerak. Tiba-tiba .. Ikuti saja
kata hatimu, jangan berbalik. Suara itu muncul mengagetkanku, pasalnya tak
ada satu sosokpun di sini. Suara itu juga tidak familiar di telingaku.
Takut. Mungkin, tapi kali ini. Karena rasa penasaran melebihi apapun saat ini.
Juga, firasatku mengatakan aku akan menemukan sesuatu yang baik diujung sana.
Jadi, aku lebih memantapkan langkah kakiku. Tak peduli mungkin firasatku salah,
aku hanya mengikuti suara misterius yang tadi menggaung. Ikuti kata hati,
jangan berbalik. Aku mengartikan itu sebagai pertanda baik. Bahwa aku akan
menemukan sesuatu yang mengejutkan disana, dan untuk mencapai itu semua aku
tidak boleh ragu atau setengah-setengah dalam usaha menggapainya.
Allahu
akbar.. Allahu akbar..
Suara
adzan yang menggema dari pengeras suara masjid membangunkanku. Sedikit
tersentak karena menyadari aku tidak dimana-mana. Dan tadi itu hanyalah bunga
tidur. Duduk sebentar sebelum bangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air
wudhu dan melaksanakan sholat Ashar.
Dalam
khusyuk aku berdo’a. Semoga apa yang menjadikan keburukan bagiku dihindarkan
dan apa yang menjadikan baik bagiku diwujudkan. Amin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar