“And when you want something, the
universe conspire in helping you to achieve it”
Sebuah
kalimat sederhana dari Paulo Coelho. Namun
bisa menjadi sebuah cambuk raksasa bagi sebagian orang yang dapat melumat
kata-kata itu dengan baik. Betapa
beruntungnya mereka yang dilahirkan dari keluarga dengan segala kesempurnaan dan
kecukupan materil. Berbanding
terbalik dengan keadaanku yang terlahir di sebuah keluarga miskin, dengan
segala kesulitan dan kekurangan di tiap harinya. Meskipun begitu, bersyukurlah aku mendapatkan orang tua yang
rela berkorban segala demi mewujudkan citaku. Ayahku hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Apapunakan ia
kerjakan demi mengutip rupiah demi rupiah guna membiayai sekolahku. Sedang
ibuku tak bekerja, kondisi fisik yang kian menurun akibat penyakit tumor
payudara yang dideritanya membuat ibuku tak kuat jika harus ikut membanting
tulang. Miris sering
kali terasa olehku saat kulihat ibuku merasakan sakit yang kuyakin teramat itu. Sebenarnya, ibuku sudah menjalani
operasi pengangkatan tumor payudara, namun itu sudah lama sekali. Operasinya berhasil, tumor itu
dapat diangkat dan dikeluarkan dari tubuh ibuku. Namun, bak mengakar kembali, rasa nyeri sesekali menyerang
ibuku, dan semakin sering belakangan ini. Tak putus do’aku tiap harinya, memohonkan kesembuhan atas penyakit
yang dideritanya. Anak manakah
yang tega melihat ibunya, surganya, sakit-sakitan.
Usiaku
baru menginjak 9 tahun saat aku duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar di desa
tempat asalku. Satu-satunya
sekolah yang ada, dengan tenaga pengajar yang seadanya pula. Namun, cukuplah untuk menjadi batu
loncatan bagi siswa siswi yang memang ingin merubah takdir keluarganya. Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk
tidak mengikuti jalan orang tua. Ayahku
terutama, selalu mengingatkanku satu hal.
“Hiduplah
di jalanmu sendiri, jangan pernah kau bercita-cita menjadi seperti bapakmu ini. Berdirilah, tatap dunia.Terbanglah
setinggi-tingginya dan angkat bapak sama ibumu ke tempat yang tinggi.”
Begitulah
selalu kata ayahku disela istirahat kerjanya. Ayahku rela berlumuran peluh, berhujamkan terik matahari, asal aku tak putus sekolah. Katanya ia tak
menuntut apapun dariku, ia hanya ingin anaknya tak mengikuti jejaknya. Dan
itulah yang memacu semangatku untuk terus belajar dan belajar, tanpa mengenal
penat dan bosan. Keinginan
merubah nasib kedua orang tua kujadikan cambuk pari yang menyadarkanku kala penat
dan rasa bosan itu muncul.
Tahun
terakhir di sekolah dasar kulalui dengan baik, Alhamdulillah aku mendapat peringkat
kedua siswa dengannilai ujian tertinggi di sekolah itu. Sekalipun begitu, aku tetap bangga karena setidaknya aku
berhasil melewati batu loncat yang pertama. Dan tahun depan aku siap melanjutkan
ke jenjang menengah. Pun aku sekolah di satu-satunya SMP di kabupaten, aku
tetap optimis, dan tekatku untuk merubah keluarga tetap tertanam kuat.
Libur
sekolah selama dua minggu, kubuat sebagai persiapan memasuki lingkungan yang
lebih berilmu. Hari pertama adalah masa orientasi siswa, hari itu kujadikan
saat-saat untuk mencari teman yang kupastikan suatu saat akan berguna bagiku.
Aku memang bukan tipe anak yang cepat bergaul, namun, keadaan memaksaku untuk
cepat bergaul atau kau akan dikucilkan.
“Hoi, aku
Ale. Salam kenal.” Kataku berlaga sok akrab pada seorang
anak laki-laki yang tengah duduk sembari meneguk air minumnya.
“Hendrawan
Dwiki Adiguna. Panggil saja Adi, atau kamu punya nama panggilan lain buatku,
silahkan saja.” Katanya begitu ramah, sebenarnya aku sedikit terkejut. Pasalnya
aku baru kali ini bertemu orang yang begitu santainya berkenalan dengan orang
lain. Salut aku melihat anak itu, andai aku juga bisa sepercaya diri dia. Lama
kami berbincang, saling mengenal satu sama lain. Hari-hari berikutnya Adi
–begitulah kuputuskan untuk memanggilnya– menjadi teman baikku sekaligus
sahabatku.
**
Masa
remajaku berlalu seiring bertambahnya usia. Usiaku menginjak 16 tahun sejak dua
minggu yang lalu, dan sekarang aku duduk di kelas 3 di salah satu SMA di kota.
Aku pindah ke kota dan menetap bersama nenekku dan beberapa anaknya yang tidak
lain adalah adik dari ibuku. Aku disini untuk melanjutkan sekolahku. Selain
itu, bersekolah di kota lebih menjamin keberhasilanku untuk bisa masuk ke
perguruan tinggi yang akan menuntunku pada kesempatan kerja yang lebih layak.
Setidaknya begitulah kata ayahku sesaat setelah aku memberitahukannya rencanaku
untuk melanjutkan SMA di kota. Aku sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang
begitu pengertian padaku. Aku
ingat salah satu teman SMP ku dulu, dia awalnya anak yang rajin. Namun, semenjak kedua orang tuanya
berpisah, dia berubah 360 derajat. Dia
mulai bolos sekolah, menjadi pemalas, ribut dengan guru sudah menjadi
kebiasaannya. Entah apa yang terjadi padanya sekarang, aku tidak begitu tahu.
Dari sanalah muncul motivasiku untuk tidak akan pernah berniat mengecewakan
orang tuaku yang sudah susah payah mencari uang untuk membiayai sekolahku.
Tahun
pertama di SMA, tidak begitu buruk. Sebab,
ada beberapa orang yang sudah kukenal, mereka ialah teman-temanku waktu di SMP
dulu. Dan
sekarang mereka juga mendaftar di SMA tempatku ini. Tapi, yang aku sedihkan, Adi tidak mendaftar disini. Dan aku
juga tidak mendapat kabar apapun dimana tepatnya ia sekarang. Yang aku tahu,
dia setelah kelulusan langsung pindah ke Lampung. Katanya ingin melanjutkan SMA
di sana.
Hari ini
Selasa, dalam diam aku sayup-sayup mendengar teman wanita di kelasku bilang
kalau hari ini guru olahraga tidak masuk. Kudengar juga alasannya karena dia sedang ada acara, semacam
pernikahan? Aku tidak
begitu dengar. Sudahlah,
yang jelas ada jam kosong hari ini. Dengan
begitu, aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan cerita pendek karanganku
ini.Aku mulai hobi menulis sejak ada seorang novelis yang datang ke sekolahku
beberapa hari yang lewat. Dia
bercerita bagaimana sebuah inspirasi dapat muncul, dan bagaimana menggerakkan
tangan untuk menuangkan cerita itu ke lembaran kertas. Dia juga bilang kalau …
“Hei,
apaan tuh?!” Tanya Boy langsung menarik kertas yang ada di atas mejaku.
Boy, begitulah dia dipanggil. Nama aslinya Rahmat
Andika. Tidak ada
yang istimewa darinya. Tidak.
Selain motornya, dan dari sanalah muncul nama Boy dalam kehidupannya. Karena
motor. Bermodalkan motor yang mirip dengan yang dimiliki artis di tv, dia
menjadi tenar bahkan dipanggil dengan nama yang sama.
“Ohh..
nih.” Lanjutnya setelah melihat apa isi yang tertulis di kertas itu dan
menyerahkannya kembali padaku.
“Kamu
hobi nulis ya?.” Tanyanya lagi.
“Iya.”
Jawabku singkat.
“Lalu
kenapa nggak kamu kembangin?.” Usulnya.
“Aku
mana punya komputer atau laptop, gimana caranya aku nyebarin ke orang
orang?.” Tanyaku kemudian.
Kulihat dia berpikir sejenak. Kemudian mengacungkan jari telunjuknya.
“I
have an idea. Aku punya laptop, kamu bisa pakai kapanpun kamu mau!.” Serunya.
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu. Aku hanya terdiam tak berkata
apa-apa.
“Kenapa?.”
Tanyanya melihatku yang termenung.
“Oh,
eh, tidak. Apa tidak salah tawaranmu itu?.” Tanyaku masih tidak percaya.
“Why
not. You are my friend. Lagian, kamu juga selalu baik. Kamu gak pernah nolak
saat aku minta bantuan.” Jelasnya.
Aku mengingat-ingat kejadian yang dia bicarakan. Lalu, ohh..jadi ini yang
dimaksud ayah, kebaikan akan berbuah manis pada waktunya. Aku mengerti sekarang.Terima kasih
ayah.
Aku
merasa sangat beruntung. Mendapat
teman yang baik, dan selalu membantu disaat aku tengah dalam kesulitan.
“Oke. Besok aku bawa laptopnya. Dan kalau kamu sudah punya cerita
untuk diposting. Aku bakal bantu kamu nge-post biar diliat banyak orang.”
Katanya sungguh-sungguh.
Aku berterima kasih padanya, setelah semua yang dia
lakukan hari ini. Meminjamkanku laptopnya, mengajarkanku membuat blog, cara
memposting cerita di blog, dan mencarikan blog serta lowongan untuk penulis
pemula sepertiku.
Aku
menoleh ke arah jendela, menatap kedepan masa depanku. Akan kumulai dengan
cerpen, lalu novel, lalu akan kulanjutkan dengan sebuah buku. Do’aku hari ini,
lancarkanlah jalanku menjadi penulis terkenal. Amin.
**
Minggu
pertama sejak naskah cerita pendek pertamaku dipublish. Sudah ada 30 pembaca. Meskipun begitu, aku yakin dalam waktu
satubulan akan bertambah banyak. Sekarang, hari-hariku disibukkan dengan
menulis cerita baru. Aku tak
melupakkan sekolahku, aku hanya menulis dikala ada waktu luang. Sampai satu ketika ..
“Ale,
liat nih!!.” Seru Boy dari arah pintu.
“Apaan?.”
Jawabku singkat.
“Nama
kamu masuk dalam 10 penulis muda kreatif versi DailyTeen. Wow..!! keren
kamu Le.” Kata Boy.
Aku yang tidak mudah percaya kemudian melihat handphone
Boy dan benar. Namaku
tertulis disana. Alexander
Milo. Wow!! Aku hebat!!.
Seminggu
kemudian, aku mengirimkan naskah cerita pendek karanganku ke salah satu
penerbit yang sedang mengadakan lomba bagi penulis pemula. Awalnya aku diberitahu oleh Boy,
katanya hadiahnya lumayan. Mendengar
itu, aku jadi termotivasi dan ikut mengirimkan naskah. Siapa tahu aku beruntung. Deadline pengiriman sudah lewat,
tibalah saatnya untuk pengumuman nama-nama pemenang lomba cipta cerita pendek
itu. Aku hanya
bisa pasrah kepada Tuhan, karena dialah pengatur rezeki. Kalau memang ini jalanku, aku bersyukur.
Kalau memang bukan, aku akan berusaha lagi di tempat lain.
Aku
tengah mengetik sebuah kalimat untuk naskah cerita pendek terbaruku, saat Boy
masuk dengan muka tertunduk melangkah ke arahku.
“What’s
happen? Kenapa?.” Tanyaku penasaran.
Namun dia hanya menggeleng. Aku semakin penasaran. Lalu dia menunjukkan handphone-nya dan berteriak.
“You
win!! Kamu menang. Juara 2 lomba cipta cerpen bulanan DailyTeen.”
Katanya mengagetkanku.
Aku terperangah. Benarkah? Aku menang?. Aku tidak
tahu harus bicara apa. Aku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan.
“Lihat
ini!.” Sambungnya.
Aku membaca tulisan di handphone itu. Juara 2
mendapat hadiah Rp 250.000,00 dan karyanya akan dipublikasikan.
“Wow!
Hebat sekali!.” Kataku senang.
Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Mulai
sekarang aku akan lebih rajin lagi dan terus mengasah kemampuanku dalam
menulis.
**
Masa
SMA merupakan masa-masa transisiku. Aku mulai dikenal banyak orang terlebih
karena karyaku yang masuk dalam deretan sepuluh besar di berbagai penerbit tiap
minggunya. Aku
beranjak dari kelas X ke kelas XI dan ke kelas XII. Sekarang aku berada ditahun
terakhirku bersekolah disini. Aku mulai jarang menulis sebab harus
mempersiapkan diri untuk ujian nasional yang akan menentukan apakah aku akan
lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan karir yang mengikuti, atau aku akan
terjebak disini dan memalukan orang tuaku.
“Hei,.”
Sapa salah seorang siswi kelas, tatkala melihatku termenung.
“Ada
apa?.” Tanyanya kemudian.
Dia Lea. Elea Cantika. Salah satu gadis pujaan di sekolah. Dia menyapa duluan membuatku merasa tak enakan jika tidak menjawab
pertanyaannya. Jadi, aku
jawab sekenanya saja.
“Tidak,
aku hanya takut membayangkan kedepannya aku jadi apa.” Jawabku.
Mendengar jawaban itu, ku lihat dia ikut termenung. Menatap
kosong ke depan.
“And when you want something, the universe
conspire in helping you to achieve it.” Katanya sejurus kemudian.
Aku memiringkan kepala, dan
menatapnya.
“Paulo Coelho.” Katanya mengingatkanku. Tampaknya dia menyadari kalau aku lupa kata-kata itu dari siapa.
“Uh, ya. Lupa.” Jawabku sedikit kikuk.
Entah karena reaksiku atau
apa. Kulihat dia tertawa kecil. Dan menutup mulutnya. Cantik sekali. Perbedaan status diantara
kami cukup menjadi pemisah dan penyedarku untuk tidak macam-macam dengan gadis
itu. Orang tuanya memiliki segalanya, sedangkanku tidak. Aku harus sadar diri. Begitulah selalu terngiang
di kepalaku ketika aku mulai merasakan jantungku berdegup kencang saat bersama
Lea.
“Hei, kamu udah makan belum?.” Tanyanya dan tanpa jawaban
dariku ia langsung menyeretku ke kantin.
**
Dalam diam dan sepi, aku terbayang sosok ayahku dan ibuku
yang entah sedang kerja apa, yang kuyakin tidak mungkin diam saja di rumah. Aku
berdo’a selalu kepada Tuhan agar diberikan-Nya kesehatan dan dirawat-Nya kedua
orang tuaku.Karena aku belum bisa pulang ke desa karena masih harus menunggu
ujian dan kelulusan. Mungkin libur nanti, selayaknya libur sekolah
tahun-tahun sebelumnya, aku selalu pulanguntuk berjumpa dengan orang tuaku.
Tok..tok..
tok..
Bunyi ketukan pintu mengagetkanku. Terdengar
suara pamanku dari luar pintu.
“Le, kamu sudah makan belum?.” Tanyanya dari luar tanpa
membuka pintu.
“Sudah,” jawabku dari dalam kamar.
Tidak terdengar lagi suara
pamanku di luar sana, agaknya dia sudah pergi. Akupun kembali terlarut dalam
lamunanku. Udara sejuk yang masuk ke dalam kamar membuatku
betah. Aku berdiri menatap ke luar jendela sebentar, lalu
merebahkan tubuhku ke atas kasur. Menatap langit-langit
kamar, akupun terlelap.
**
Hari ini Selasa, 14 Juni. Setidaknya
begitulah yang tertera di arlojiku. Kutatap arloji pemberian ayahku –dulu
sewaktu aku akan berangkat ke kota– itu. Aku berdiri di muka gerbang sekolahku. Sekarang adalah hari penentuan bagiku. Apakah aku akan melanjutkan
mengejaar mimpiku atau berhenti sekarang.
“Now or never.” Kataku dalam hati.
Sesaat kemudian, ada
seorang gadis yang sudah kukenal sekali. Lea. Dia
tersenyum ke arahku.
“Hai, kamu siap?.” Katanya.
“For what?.” Tanyaku lugu.
“For today, kita akan lulus dan pergi dari sini secepatnya.”
Katanya begitu bersemangat.
Namun, ada begitu besar
keraguan dalam diriku. Perasaan takut akan keputusan sekolah begitu lekat
menghantui pikiranku.
“Entahlah.Bagaimana kalau aku belum siap?Bagaimana kalau
aku tidak bisa menerima keputusan dari sekolah? Dan..dan bagaimana kalau aku
tidak lulus?!.” Kataku dan tanpa sadar nada bicaraku meninggi.
Kulihat Lea hanya diam, aku
merasa bersalah.
“Ma’af aku berteriak padamu.” Kataku kemudian.
“Ya. Setidaknya kamu harus optimis.” Jawabnya
menenangkanku.
Kami berdua lalu masuk ke
dalam sekolah dan satu yang kami tuju. Ruang
guru. Kami berjalan kesana untuk melihat daftar nama siswa yang lulus di papan
pengumuman di samping ruang guru.
Kelompok
IPA. Tidak. Kelompok IPS. Ini dia.
Aku dan Lea memperhatikan
satu persatu nama yang tertulis di daftar itu. Daftar itu acak, dimulai dari
nama dengan nilai tertinggi. Yang kutahu bukan namaku.
Adinda
Putri, Suryati Rahma, Jogi
Saut, Halimah Hassan, Grace Margaretha, Muhammad Aldhany, Elea Cantika. Aku berhenti membaca sejenak, lalu menatap ke orang
di sampingku.
“Hei, selamat.” Kataku.
Kulihat dia hanya
tersenyum. Aku kembali ke daftar tadi. Kembali
membacanya dalam hati.
Nabila
Meisaputri, Muhammad Fauzan, Irfan Fathurrahman, Tea, Jihan, Athira, Zahid,
Irfan Hadiansyah, Nurul Aini, huft.. aku mulai lelah. Tapi aku tetap meneruskan membaca daftarnya, sampai
kepada urutan terakhir. Aku tidak kunjung menemukan
namaku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdenyut. Darahku
serasa berhenti mengalir.
“Hei,” kata gadis yang berdiri tepat di sisiku.
Aku tak menanggap.
Kemudian, ..
“Hei, kamu gak apa-apa?.” Tanyanya kemudian, sambil
memiringkan kepalanya mencari mataku.
Aku tertunduk, lalu
terduduk lemas. Kakiku mati rasa. Apa
ini?!. Aku tidak, LULUS??. Aku
ingin teriak. Tapi, tubuhku kelewat lemas, aku mulai lunglai.
Dan, .. MATI.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar