Aku
terdiam di satu tempat yang kuyakin kamu tahu. Tempat favoritku. Entah harus
kumulai dari mana, begitu banyak cerita yang terjadi. Bahagia, sedih, cinta dan
air mata. Tak terkira sudah tiga tahun sejak saat itu, hari dimana hati yang
berbicara dan air mata yang menjadi saksi. Tidak. Aku tidak disini untuk
melihat masa lalu itu. Semua yang ingin kukatakan hanyalah, tidakkah kau ingat
alasan kita pernah bersama?.
**
Saat
itu libur musim panas, terasa sengatan matahari begitu tajam menusuk kulit, aku
mencari angin dan pergi ke sebuah danau tak jauh dari rumah kakekku. Tentu aku
mengenali tempat itu, itu adalah tempatku selalu menghabiskan sepanjang musim
panas hingga kembali ke asrama. Sejak kecil, pohon beringin rimbun di pinggir danau
itu adalah tempat favoritku. Selain sejuknya hembusan angin sangat terasa
disana, satu hal yang selalu menghantui pikiranku dan membuatku merindukan
tempat itu adalah seorang anak laki-laki yang pada hari itu tengah diselimuti
amarah dan meluapkan emosinya pada seluruh penghuni danau. Aku mendengar salah
satu umpatannya. Bagaimana tidak, anak itu teriaknya keras sekali.
“Aaaaargh
…!! Kenapa hanya mereka yang mempunyai orang tua yang perhatian!! Kenapa aku
mendapat orang yang tidak.. tidak.. tidak pernah mengerti aku!!.” Kata anak
laki-laki itu terbatah-batah memilih kata umpatan yang sesuai. Sontak melihat
itu aku tak bisa menahan gelak. Namun, akibatnya aku malah jadi sasaran kedua
luapan emosinya.
“Hei!!
Apa yang kau lakukan?!.” Tanyanya dengan nada membentak. Mendengar gertakannya
aku mengerti dia tak suka diperhatikan. Aku yang terlanjur tertawa berpaling
sejenak menutupi kesalahanku dan tak mau kalah kubalas kata-katanya sama
sinisnya.
“Apa?!
Aku hanya tertawa.” Kataku sama tingginya.
Entah aku salah ngomong apa, anak laki-laki itu
bergerak mendekat. Dari posisi awal disisi lain pohon sekarang berada tepat
dihadapanku.
“Aku
tidak suka ada orang lain yang menertawakanku!.” Kata anak itu.
“Aku
tidak menertawakanmu. Lagian, memilih kata untuk mencela orang saja tergagap.”
Kataku. Tapi Ups! Aku seharusnya tidak berkata seperti itu. Sudah
terlambat, aku ketahuan berkelit. Hendak aku lari dari tempat itu, namun entah
apa yang terjadi pada kakiku. Tak dapat melangkah jauh, aku hanya berjalan
mundur sementara anak laki-laki itu kian mendekat menggenggam tinjunya. Dan …
Aaaaaahhh…!!!
Hampir aku terjatuh ke danau. Namun, .. aku melihat
tanganku tertahan oleh lengan nan kokoh yang mencegahku jatuh ke dalam air.
Sesaat kemudian, ditariknya tubuhku kembali ke tempat kering. Aku bersyukur tak
jatuh ke dalam sana, jika tidak aku bisa saja dalam masalah besar. Setelah
menenangkan jantungku, aku mengucapkan terima kasih pada anak laki-laki itu.
“Terima
kasih, namaku Lea.” Kataku dan mengangkat tangan bermaksud hendak kenalan.
“Aku
Adre. Tidak masalah. Aku harus pergi.” Katanya, kemudian pergi meninggalkanku
begitu menjabat tanganku.
“Hei
tunggu!.” Kataku menahannya. Kulihat dia berbalik, dan mengangkat alisnya
menanyakan apa maksudku.
“Um,
eh.. aku.. aku hanya ingin mengucapkan terima kasih.” Kataku gugup. Ada apa
ini, perasaan aneh apa yang kurasakan. Namun, yang lebih tak bisa kupercaya,
akhirnya anak laki-laki itu tersenyum. Entah melihat tingkahku yang gelagapan
atau karena apa, yang jelas aku sudah tak merasakan emosi marahnya sejak tadi
dia menolongku. Kejadian itu masih dan selalu kuingat karena dialah. Adre.
Penyelamatku.
**
Waktu
berlalu, seiring beranjak kita tumbuh dewasa. Kita semakin dekat. Jarak yang
terpaut jauh, pun tak dapat memisahkav kita. Sekalipun aku tidak di rumah
kakek, kita tetap berhubungan dengan surat. Aku ingat surat pertamamu. Kau
tulis…
Hai, apa kabar? Kalau kau baca
ini, berarti tukang pos itu tidak nyasar atau dia baik hati. Segeralah kirim
suratmu, aku tunggu segera.
Adre.
Aku
masih ingat jelas bagaimana aku tertawa sejadi-jadinya membaca surat darimu.
Segera setelah itu aku membuat surat balasan untukmu. Kutuliskan semua kenangan
kita. Bagaimana kita bertemu, sampai semua hal-hal lucu yang kita lakukan
bersama. Namun, aku tak habis pikir. Apa yang telah kubuat, apa ada yang salah
dengan kata-kataku. Kau menghilang. Hilang. Tak tahu kabar, aku selalu kirimkan
surat tapi tak satupun yang kau balas. Andai kau tahu, betapa aku merindu karena
itu. Kau tak pernah seperti ini sebelumnya. Aku bingung. Berbagai pikiran aneh
mulai menghantuiku dan mengatakan bahwa aku takkan pernah melihatmu lagi.
Sampai,
tepatnya tanggal 23 Juli, saat kupikir aku akan melewatkan perayaan istimewaku
tanpa orang yang berharga. Adre. Ajaibnya, apa yang aku ucapkan barusan menjadi
kenyataan. Engkau muncul dengan seikat bunga di tanganmu. Aku spontan memeluk
sosok yang telah lama kunantikan. Tak peduli berapa pasang mata terpaku
menatap. Aku hanya tak ingin kehilangan kamu lagi. Kau bisikan kata yang semakin
membuatku tak ingin kehilanganmu untuk kedua kalinya.
“Lea,
happy birthday. And, will you be mine?.” Katamu.
Mendengar itu, lengkap sudah bagian diriku yang
beberapa bulan ini hilang. Sekarang separuh jiwaku telah kembali dan kupastikan
takkan pergi lagi.
**
Hari-hari
berikutnya adalah hari terbaik dalam hidupku. Kuhabiskan sebagian waktuku
bersamamu. Kita mengunjungi kakekku, duduk santai di bawah pohon di pinggir
danau. Meskipun hanya duduk diam dan tak melakukan apa-apa, aku tetap merasa
bahagia. Karena bisa berdua denganmu. Aku ingat lagu pertama yang kau nyanyikan
untukku. Alunan gitar menghanyutkanku lebih dalam tenggelam dalam khayal indah
bersamamu.
Kumelintas
.. pada satu masa .. ketika kumenemukan cinta ..
Saat
itu kehadiranmu .. memberi arti bagi hidupku ..
…………
“Hei,
hari sudah sore.” Katamu saat melihat matahari sudah menunduk dan menarik
tanganku untuk pulang. Kurasakan kehangatan genggamanmu. Begitu tiba di rumah,
aku bahkan tak melirik kamar mandi. Pinginku malam cepat berganti lagi siang,
agar aku bisa kembali bertemu denganmu.
Adre.
Segitu dalam rasaku, kuharap kamu tidak berpikir sebaliknya. Begitulah selalu
do’aku asal tau saja. Disela-sela tidurku, aku bertanya sendiri. Apa
kabarmu? Apa yang kamu lakukan sekarang?. Namun, semakin aku memikirkanmu,
semakin sering pikiran aneh itu muncul. Bahkan satu malam, aku bermimpi dengan
acuhnya kau meninggalkanku. Kamu pergi begitu saja. Tapi, aku tetap mencoba
menghibur diri, berusaha meyakinkan hatiku bahwa itu semua tidak nyata. Mimpi,
hanya mimpi.
Aku
tidak pernah tahu apa arti dari semua firasat anehku itu. Sampai, hari itu,
ketika kamu bilang semua tidak akan sama.
“Apa?!
Apa maksud kamu?!.” Tanyaku setengah berteriak.
“Aku,
aku akan melanjutkan study ke luar negeri.” Jawabmu lemah.
Aku hanya bisa terdiam. Tak kuat aku menahan air
mata.
“Jadi,
ini perpisahan?.” Kataku mulai parau.
Namun, kau menggeleng. Aku tidak mengerti, lalu kamu
menjelaskan semuanya.
“Aku
hanya pergi tuk sementara. Bukannya ninggalin kamu selamanya.” Katamu. Sedikit
menenangkanku.
“Aku
pasti kembali. Tapi, kamu harus janji untuk selalu menjaga hatimu, untukku.”
Lanjutmu kemudian.
Tanpa banyak berkata, aku tersenyum mengiyakan
janjiku padamu. Dengan sepenuh hati kan kujaga cintaku hanya untukmu. Begitupun
aku minta ke kamu. Lalu kita mengikat jari kelingking sebagai tanda kesetiaan.
Kau memelukku. Kubalas pelukanmu erat karena aku tahu, aku akan sangat
merindukan saat-saat ini.
**
Hari
ini, Kamis, 21 Juli, aku kembali menuliskan surat selayaknya dulu yang kita
sering lakukan. Kutulis semua yang kualami, agar kamu tau betapa aku kangen
kamu. Dan seperti biasa di setiap suratku, kutuliskan …
Cepatlah
kembali …
Love,
Lea.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar