“Satu jam saja kutelah bisa, cintai kamu ..
kamu .. kamu di hatiku.
Namun bagiku .. melupakanmu .. butuh waktuku
seumur hidup ...
Satu jam saja kutelah bisa, sayangi kamu ..
dihatiku,
Namun bagiku .. lupakanmu, butuh waktuku
seumur hidup ... “
Alunan
lagu dari salah satu band indi menggema di telingaku seraya menemani
perjalananku menuju rumah kakak sepupuku yang hari ini akan melaksanakan
resepsi pernikahannya. Berlokasi di Bengkulu Utara, awalnya aku tidak begitu
tertarik untuk pergi. Namun, kedekatan hubungan kekeluargaan menjadi alasan
keberangkatanku pagi itu.
Arlojiku
menunjukan pukul 08:45 WIB, saat aku tiba di tempat tujuan. Tiba lebih awal
memang maksudku, aku tentu tak mau terjemur matahari terik. Turun dari sepeda
motor, aku langsung masuk ke dalam rumah untuk menyimpan barang bawaanku
–kemeja, jeans, sepasang sepatu, dan sabun pencuci muka– sebab tentu tak
mungkin menggeletakkan barang secara sembarangan dengan sebegitu banyaknya
orang disini. Sementara itu, aku hanya mengenakan jeans biru dan kaos polo dari
rumah. Masuk ke dalam rumah pamanku itu, aku bertemu banyak orang yang tentunya
aku kenal. Ibuku memang sejak dua hari lalu disini, nenekku –sepertinya dia
tiba kemarin– , dan masih banyak family
yang juga sudah datang. Dan beberapa gadis yang kuyakin diminta oleh kakakku
–yang tidak lain adalah mempelai wanita– sebagai inangnya.
“Taruhlah
tasmu di kamar. Tadi kamu sudah salaman sama paman? “ tanya ibuku. Aku
mengangguk mengiyakan perkataan ibuku. Lalu menuju kamar yang ditunjuknya tadi.
**
Aku
menyambangi mempelai wanita. Dengan balutan pakaian adat pengantin Bengkulu,
dia terlihat cantik.
“Hei,
baru sampai kamu, Do?” tanya kakakku. Akupun hanya mengangguk mengiyakan
pertanyaannya.
“Oh
ya, kenalin ini Lia, dia kakak minta jadi inang hari ini.” Kata kakakku seraya
mengenalkanku pada sosok cantik berbalut gaun biru dengan selendang putih di
lehernya. Entah ini sebuah kebetulan atau inilah takdir?. Pakaian kami serasi. Ehh.. apa yang kupikirkan. Belum 60 menit
aku disini dan sudah bertemu cinta.
“Oh,
hei, namaku Edho.” Kataku memberanikan diri berkenalan dengan gadis itu.
“Iya,
aku Lia.” Dijabatnya tanganku. Dahsyat. Sensasi yang kurasakan. Nadiku
berdenyut serasa mau pecah –Wee.. lebay–
tapi begitulah, jantungku berdegup kencang saat merasakan kehalusan
tangannya. Kulihat dia tersenyum padaku dan ...
“Ehm..
kalian memang serasi. Tapi bisakah kita lanjutkan setelah acara ini selesai?”
kata kakakku. Sontak kami langsung melepas pegangan tangan kami dan terkekeh
kecil melihat ekspresi kak Yesi yang manyun karena merasa diabaikan.
**
Kulirik
arlojiku, pukul 09:00 WIB, semua telah siap. Kedua mempelai telah selesai
didandani. Akad nikah siap dimulai. Aku bertugas memegang kamera untuk
dokumentasi. Saat aku sibuk memfoto prosesi pernikahannya aku tak sengaja
menyenggol tubuh seseorang.
“Oh
ma’af. Itu salahku, ma’af.” Kataku merasa tak enak.
“Iya,
tidak apa-apa.” Jawabnya.
Aku terkejut mendengar suara itu. Itu adalah suara indah
yang kutahu dengan jelas siapa orangnya. Lia. Kulihat dia melempar senyum
padaku. Dan tak kusadari garis bibirku juga membentuk cekungan yang sama. Momen
berharga.
Seusai
akad nikah, acara akan dilanjutkan dengan acara hiburan. Sebuah grup musik
sudah disewa untuk memeriahkan pesta. Kedua mempelai duduk di pelaminan
didampingi kedua orang tuanya. Aku bergerak ke grup musik tepat di sebelah
pelaminan. Kuambil mic.
“
Kepada kedua mempelai, selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga
yang sakinah, mawaddah, warrohmah. Amin.” Kataku. Lalu meminta pemain musik
untuk memainkan sebuah lagu dari band indi berjudul “Betapa Aku Mencintaimu”.
Saat alunan musik menggema keseluruh penjuru. Aku mulai bernyanyi.
“Betapa aku mencintaimu .. dengan sepenuh
hatiku ..
Betapa aku menyayangimu, lebih dari yang kau
tau ..
. . . . . .
Suara
riuh tepuk tangan mengiringi aku turun dari panggung musik hiburan.
“Tidak
buruk.” Kata Lia yang sedari awal memotretku bernyanyi.
“Ya,
aku tau. Kenapa kau tidak coba?.” Kataku menggodanya.
Namun dia hanya tertawa. Manisnya. Aku terpaku melihat
senyumnya. Sampai ia menyadarkanku dan mengajakku duduk di kursi bersama tamu
lainnya.
**
Pembicaraan
ringan menyita banyak waktu dan semakin membuat diri kami nyaman satu sama
lain. Aku bertanya banyak hal begitupun Lia. Walaupun kebanyakan dia hanya
membalikkan pertanyaanku saja. Dan setiap menjawab pertanyaanku dia tersenyum.
Membuatku tidak berdaya memprotes pertanyaannya. Cinta pandangan pertama.
Sekarang aku percaya kalau teori seperti itu nyata adanya. Aku mulai meyakinkan
diriku bahwasanya aku memang telah jatuh cinta pada sosok gadis cantik yang
kutemui beberapa waktu lalu itu.
“Ayolah,
sekarang giliran kamu bernyanyi.” Kataku.
Setelah berpikir sejenak, diapun beringsut dari kursinya
dan mengambil mic, lalu menderingkan
sebuah lagu. Alunan musik berpadu dengan suara lembutnya, membuatku merasa
begitu damai, begitu menenangkan. Kulihat di sebelah kiriku ada salah satu adik
kak Yesi. Aku mendekatinya.
“Hei,
dek. Dia cantik kan?” tanyaku seraya menunjuk gadis cantik yang tengah
bernyanyi itu.
“Iya,
tapi, dia sudah punya pacar.” Kata-kata dari Rita–namanya– bak petir yang
menyambar dalam tubuhku. Aku terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Mematung.
Bahkan tak melihat kearah Lia sedikitpun.
“tapi, dia sudah punya pacar .. punya pacar
.. punya pacar.” Kata-kata itu bergema dalam otakku. Miris hatiku
mendengarnya. Aku tak tahu apa yan gharus kulakukan. Termenung. Itulah yang aku
rasakan sampai ...
“Hei,
kamu tidak apa-apa?” sergap Lia yang melihatku terdiam. Aku yang tidak ingin
dia berpikir macam-macam segera menutupi kekecewaan dan sakit hatiku dengan
senyum.
“Oh,
hei, aku baik-baik aja. Wow, suara kamu indah seperti orangnya.” Kataku
bersusah payah tegar.
Kemudian
kulihat dia mengeluarkan handphone-nya,
lalu menyerahkannya padaku.
“Ayo,
foto kita dari sana.” Katanya. Dengan senang hati aku menerima tawarannya.
Aneh. Saat bersamanya, yang ada dihatiku hanya kebahagiaan. Aku benar-benar telah jatuh hati pada gadis
ini, kataku dalam hati. Apakah salah
mencintai orang yang sudah berpasangan? Benakku. Ahh ..
terserahlah .. aku benar-benar nyaman berada disisinya. Serasa ingin kupeluk
erat dan tak kulepas lagi. Pikiranku berkecamuk. Pro dan kontra beradu
dalam hatiku. Setelah mengambil banyak foto, aku langsung membukanya untuk
melihat hasilnya. Betapa terkejutnya. Foto pertama yang kulihat adalah sosok
laki-laki sebayaku, mengenakan kaus hitam serasi dengan pakaian seorang gadis
disebelahnya yang tak lain adalah Lia.
“Hm?
Siapa?” tanyaku sambil menunjukkan foto yang kulihat pada Lia.
“
Oh, itu kakak .. sepupu aku.” Jawabnya.
Aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Aku tak ingin dia
mencurigaiku kalau aku sudah tahu dia sudah ada yang punya.
**
Tak
bisa dipungkiri perasaanku sudah begitu dalam. Aku ingin memiliki gadis itu.
Tapi, bagaimana mungkin bisa, secara jarak antara aku dan dia terpaut puluhan
kilo meter. Dan lagi, takkan mudah untuknya melepaskan kekasihnya untuk
bersamaku. Kecewa. Kugenggam tangannya erat, kuharap dia mengerti maksudku. Hal
yang sama dilakukannya, genggaman tangannya begitu kuat kurasakan. Lalu, dia
melepaskan tanganku. No.. tidak.. jangan
pergi. Teriakku dalam hati. Kutatap matanya, kulihat raut sedih diwajahnya.
“
Ada apa?” tanyaku.
Hanya gelengan kepala yang menjawab, tak ketinggalan
senyum manisnya dilontarkan padaku. Kuraih lagi jemarinya, kupautkan jemariku.
“Ini
adalah tangan pertamam yang kugenggam.” Kataku.
“Bo’ong.”
Katanya.
Melihat usahaku sepertinya mulai berhasil mengembalikan
senyumnya. Kulajutkan percakapan. Asal topik kami bahas. Mulai dari mempelai
pria yang tampak gugup danpucat sampai suara para tetamu undangan kami kritik
satu per satu. Semua hal yang kulakukan tak sia-sia, aku kembali mendapat
perhatiannya. Sekarang setelah kami puas menertawakan semuanya. Lia
menyandarkan kepalanya di pundakku. Harum wangi rambutnya dan kelembutan
kulitnya dapat kurasakan disetiap sel-sel tubuhku. Betapa tak inginnya aku
momen ini berakhir. Ingin setiap jengkal tubuhnya dapat selalu disisiku. Tapi,
entahlah harus bagaimana.
**
Waktu
berlalu begitu cepat, menit demi menit telah bergulir menyisakan 15 menit
terakhir waktuku bersama Lia.
“Hm,
sebentar lagi aku harus pulang.” Kataku.
Kulihat dia terpaku menatapku. Tak tega melihatnya
seperti itu. Aku kembali memutar otak untuk menghiburnya.
“Hei,
jangan manyun dong. Aku pasti kembali.” Kataku kemudian. Berhasil. Dia kembali
tersenyum.
“Um,
eh.. aku harus ke kamar mengambil tasku. Ayo!” kataku sambil mengajaknya
menemaniku. Sebenarnya aku tak sanggup beranjak secepat ini. Akupun tak tahu
kapan bisa kembali lagi.
Setibanya
di kamar, aku segera mengambil tasku, tak lupa ku-cek barang satu per satu.
“Jadi,
ini perpisahan.” Kataku kepada Lia dengan tidak menatap langsung matanya. Tidak
ada renspons. Dia hanya duduk diam di atas tempat tidur. Kuhampiri dia.
“Jujur,
aku tidak tau kapan bisa kembali kesini.” Kataku.
“Tapi,
aku janji aku pasti kembali. Untuk kamu.” Lanjutku.
Kuangkat wajahnya, dia kemudian berdiri. Kupeluk
tubuhnya. Dibenamnya kepalanya ke tubuhku. kurasakan cinta yang begitu tulus
darinya begitupun dariku. Kudekap Lia. Semakin erat.
Kuambil
tasku, dan untuk terakhir kalinya kurangkul lagi tubuh langsing itu. Ku tatap
matanya, kujatuhkan kecupan di pipi kanannya.
“Lancang
ya?” kataku saat melihat dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang kulakukan.
Lia hanya mengangguk dan terkekeh kecil. Kubalas tawanya. Itu adalah tawa
terakhir sebelum dia mengantarku ke depan pintu. Sebelum pergi, kuambil
tangannya. Kukecup tuk terakhir kali sebagai salam perpisahan.
“Jangan
lupakan aku, ya?” kataku.
“Tidak
akan.” Jawabnya.
Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak berlama lagi.
Langsung kuhidupkan sepeda motorku. Kulihat dia melambaikan tangan. Kubalas
lambaiannya. Baru hendak kulajukan motorku, dia memanggil namaku. Kulihat ia
mendekat.
“Hati-hati.
Berjanjilah kau kembali lagi.” Katanya sambil mengangkat jari kelingkingnya.
“Aku
tinggalkan hatiku di Sengkuang.” Kataku lalu menyambut kelingkingnya dengan
jari kelingkingku, sebagai tanda aku telah berjanji untuk kembali.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar