Rabu, 30 November 2016

“ I Live My Heart In Sengkuang “




Satu jam saja kutelah bisa, cintai kamu .. kamu .. kamu di hatiku.
Namun bagiku .. melupakanmu .. butuh waktuku seumur hidup ...
Satu jam saja kutelah bisa, sayangi kamu .. dihatiku,
Namun bagiku .. lupakanmu, butuh waktuku seumur hidup ... “

                Alunan lagu dari salah satu band indi menggema di telingaku seraya menemani perjalananku menuju rumah kakak sepupuku yang hari ini akan melaksanakan resepsi pernikahannya. Berlokasi di Bengkulu Utara, awalnya aku tidak begitu tertarik untuk pergi. Namun, kedekatan hubungan kekeluargaan menjadi alasan keberangkatanku pagi itu.
                Arlojiku menunjukan pukul 08:45 WIB, saat aku tiba di tempat tujuan. Tiba lebih awal memang maksudku, aku tentu tak mau terjemur matahari terik. Turun dari sepeda motor, aku langsung masuk ke dalam rumah untuk menyimpan barang bawaanku –kemeja, jeans, sepasang sepatu, dan sabun pencuci muka– sebab tentu tak mungkin menggeletakkan barang secara sembarangan dengan sebegitu banyaknya orang disini. Sementara itu, aku hanya mengenakan jeans biru dan kaos polo dari rumah. Masuk ke dalam rumah pamanku itu, aku bertemu banyak orang yang tentunya aku kenal. Ibuku memang sejak dua hari lalu disini, nenekku –sepertinya dia tiba kemarin– , dan masih banyak family yang juga sudah datang. Dan beberapa gadis yang kuyakin diminta oleh kakakku –yang tidak lain adalah mempelai wanita– sebagai inangnya.
                “Taruhlah tasmu di kamar. Tadi kamu sudah salaman sama paman? “ tanya ibuku. Aku mengangguk mengiyakan perkataan ibuku. Lalu menuju kamar yang ditunjuknya tadi.
**
                Aku menyambangi mempelai wanita. Dengan balutan pakaian adat pengantin Bengkulu, dia terlihat cantik.
                “Hei, baru sampai kamu, Do?” tanya kakakku. Akupun hanya mengangguk mengiyakan pertanyaannya.
                “Oh ya, kenalin ini Lia, dia kakak minta jadi inang hari ini.” Kata kakakku seraya mengenalkanku pada sosok cantik berbalut gaun biru dengan selendang putih di lehernya. Entah ini sebuah kebetulan atau inilah takdir?. Pakaian kami serasi. Ehh.. apa yang kupikirkan. Belum 60 menit aku disini dan sudah bertemu cinta.
                “Oh, hei, namaku Edho.” Kataku memberanikan diri berkenalan dengan gadis itu.
                “Iya, aku Lia.” Dijabatnya tanganku. Dahsyat. Sensasi yang kurasakan. Nadiku berdenyut serasa mau pecah –Wee.. lebay–  tapi begitulah, jantungku berdegup kencang saat merasakan kehalusan tangannya. Kulihat dia tersenyum padaku dan ...
                “Ehm.. kalian memang serasi. Tapi bisakah kita lanjutkan setelah acara ini selesai?” kata kakakku. Sontak kami langsung melepas pegangan tangan kami dan terkekeh kecil melihat ekspresi kak Yesi yang manyun karena merasa diabaikan.
**
                Kulirik arlojiku, pukul 09:00 WIB, semua telah siap. Kedua mempelai telah selesai didandani. Akad nikah siap dimulai. Aku bertugas memegang kamera untuk dokumentasi. Saat aku sibuk memfoto prosesi pernikahannya aku tak sengaja menyenggol tubuh seseorang.
                “Oh ma’af. Itu salahku, ma’af.” Kataku merasa tak enak.
                “Iya, tidak apa-apa.” Jawabnya.
Aku terkejut mendengar suara itu. Itu adalah suara indah yang kutahu dengan jelas siapa orangnya. Lia. Kulihat dia melempar senyum padaku. Dan tak kusadari garis bibirku juga membentuk cekungan yang sama. Momen berharga.
                Seusai akad nikah, acara akan dilanjutkan dengan acara hiburan. Sebuah grup musik sudah disewa untuk memeriahkan pesta. Kedua mempelai duduk di pelaminan didampingi kedua orang tuanya. Aku bergerak ke grup musik tepat di sebelah pelaminan. Kuambil mic.
                “ Kepada kedua mempelai, selamat menempuh hidup baru. Semoga menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, warrohmah. Amin.” Kataku. Lalu meminta pemain musik untuk memainkan sebuah lagu dari band indi berjudul “Betapa Aku Mencintaimu”. Saat alunan musik menggema keseluruh penjuru. Aku mulai bernyanyi.
Betapa aku mencintaimu .. dengan sepenuh hatiku ..
Betapa aku menyayangimu, lebih dari yang kau tau ..
. . . . . .

                Suara riuh tepuk tangan mengiringi aku turun dari panggung musik hiburan.
                “Tidak buruk.” Kata Lia yang sedari awal memotretku bernyanyi.
                “Ya, aku tau. Kenapa kau tidak coba?.” Kataku menggodanya.
Namun dia hanya tertawa. Manisnya. Aku terpaku melihat senyumnya. Sampai ia menyadarkanku dan mengajakku duduk di kursi bersama tamu lainnya.
**
                Pembicaraan ringan menyita banyak waktu dan semakin membuat diri kami nyaman satu sama lain. Aku bertanya banyak hal begitupun Lia. Walaupun kebanyakan dia hanya membalikkan pertanyaanku saja. Dan setiap menjawab pertanyaanku dia tersenyum. Membuatku tidak berdaya memprotes pertanyaannya. Cinta pandangan pertama. Sekarang aku percaya kalau teori seperti itu nyata adanya. Aku mulai meyakinkan diriku bahwasanya aku memang telah jatuh cinta pada sosok gadis cantik yang kutemui beberapa waktu lalu itu.
                “Ayolah, sekarang giliran kamu bernyanyi.” Kataku.
Setelah berpikir sejenak, diapun beringsut dari kursinya dan mengambil mic, lalu menderingkan sebuah lagu. Alunan musik berpadu dengan suara lembutnya, membuatku merasa begitu damai, begitu menenangkan. Kulihat di sebelah kiriku ada salah satu adik kak Yesi. Aku mendekatinya.
                “Hei, dek. Dia cantik kan?” tanyaku seraya menunjuk gadis cantik yang tengah bernyanyi itu.
                “Iya, tapi, dia sudah punya pacar.” Kata-kata dari Rita–namanya– bak petir yang menyambar dalam tubuhku. Aku terdiam. Tak bisa berkata apa-apa. Mematung. Bahkan tak melihat kearah Lia sedikitpun.
                “tapi, dia sudah punya pacar .. punya pacar .. punya pacar.” Kata-kata itu bergema dalam otakku. Miris hatiku mendengarnya. Aku tak tahu apa yan gharus kulakukan. Termenung. Itulah yang aku rasakan sampai ...
                “Hei, kamu tidak apa-apa?” sergap Lia yang melihatku terdiam. Aku yang tidak ingin dia berpikir macam-macam segera menutupi kekecewaan dan sakit hatiku dengan senyum.
                “Oh, hei, aku baik-baik aja. Wow, suara kamu indah seperti orangnya.” Kataku bersusah payah tegar.
                Kemudian kulihat dia mengeluarkan handphone-nya, lalu menyerahkannya padaku.
                “Ayo, foto kita dari sana.” Katanya. Dengan senang hati aku menerima tawarannya. Aneh. Saat bersamanya, yang ada dihatiku hanya kebahagiaan. Aku benar-benar telah jatuh hati pada gadis ini, kataku dalam hati. Apakah salah mencintai orang yang sudah berpasangan? Benakku.   Ahh .. terserahlah .. aku benar-benar nyaman berada disisinya. Serasa ingin kupeluk erat dan tak kulepas lagi. Pikiranku berkecamuk. Pro dan kontra beradu dalam hatiku. Setelah mengambil banyak foto, aku langsung membukanya untuk melihat hasilnya. Betapa terkejutnya. Foto pertama yang kulihat adalah sosok laki-laki sebayaku, mengenakan kaus hitam serasi dengan pakaian seorang gadis disebelahnya yang tak lain adalah Lia.
                “Hm? Siapa?” tanyaku sambil menunjukkan foto yang kulihat pada Lia.
                “ Oh, itu kakak .. sepupu aku.” Jawabnya.
Aku tidak melanjutkan pertanyaanku. Aku tak ingin dia mencurigaiku kalau aku sudah tahu dia sudah ada yang punya.
**
                Tak bisa dipungkiri perasaanku sudah begitu dalam. Aku ingin memiliki gadis itu. Tapi, bagaimana mungkin bisa, secara jarak antara aku dan dia terpaut puluhan kilo meter. Dan lagi, takkan mudah untuknya melepaskan kekasihnya untuk bersamaku. Kecewa. Kugenggam tangannya erat, kuharap dia mengerti maksudku. Hal yang sama dilakukannya, genggaman tangannya begitu kuat kurasakan. Lalu, dia melepaskan tanganku. No.. tidak.. jangan pergi. Teriakku dalam hati. Kutatap matanya, kulihat raut sedih diwajahnya.
                “ Ada apa?” tanyaku.
Hanya gelengan kepala yang menjawab, tak ketinggalan senyum manisnya dilontarkan padaku. Kuraih lagi jemarinya, kupautkan jemariku.
                “Ini adalah tangan pertamam yang kugenggam.” Kataku.
                “Bo’ong.” Katanya.
Melihat usahaku sepertinya mulai berhasil mengembalikan senyumnya. Kulajutkan percakapan. Asal topik kami bahas. Mulai dari mempelai pria yang tampak gugup danpucat sampai suara para tetamu undangan kami kritik satu per satu. Semua hal yang kulakukan tak sia-sia, aku kembali mendapat perhatiannya. Sekarang setelah kami puas menertawakan semuanya. Lia menyandarkan kepalanya di pundakku. Harum wangi rambutnya dan kelembutan kulitnya dapat kurasakan disetiap sel-sel tubuhku. Betapa tak inginnya aku momen ini berakhir. Ingin setiap jengkal tubuhnya dapat selalu disisiku. Tapi, entahlah harus bagaimana.
**
                Waktu berlalu begitu cepat, menit demi menit telah bergulir menyisakan 15 menit terakhir waktuku bersama Lia.
                “Hm, sebentar lagi aku harus pulang.” Kataku.
Kulihat dia terpaku menatapku. Tak tega melihatnya seperti itu. Aku kembali memutar otak untuk menghiburnya.
                “Hei, jangan manyun dong. Aku pasti kembali.” Kataku kemudian. Berhasil. Dia kembali tersenyum.
                “Um, eh.. aku harus ke kamar mengambil tasku. Ayo!” kataku sambil mengajaknya menemaniku. Sebenarnya aku tak sanggup beranjak secepat ini. Akupun tak tahu kapan bisa kembali lagi.
                Setibanya di kamar, aku segera mengambil tasku, tak lupa ku-cek barang satu per satu.
                “Jadi, ini perpisahan.” Kataku kepada Lia dengan tidak menatap langsung matanya. Tidak ada renspons. Dia hanya duduk diam di atas tempat tidur. Kuhampiri dia.
                “Jujur, aku tidak tau kapan bisa kembali kesini.” Kataku.
                “Tapi, aku janji aku pasti kembali. Untuk kamu.” Lanjutku.
Kuangkat wajahnya, dia kemudian berdiri. Kupeluk tubuhnya. Dibenamnya kepalanya ke tubuhku. kurasakan cinta yang begitu tulus darinya begitupun dariku. Kudekap Lia. Semakin erat.
                Kuambil tasku, dan untuk terakhir kalinya kurangkul lagi tubuh langsing itu. Ku tatap matanya, kujatuhkan kecupan di pipi kanannya.
                “Lancang ya?” kataku saat melihat dia sepertinya tidak percaya dengan apa yang kulakukan. Lia hanya mengangguk dan terkekeh kecil. Kubalas tawanya. Itu adalah tawa terakhir sebelum dia mengantarku ke depan pintu. Sebelum pergi, kuambil tangannya. Kukecup tuk terakhir kali sebagai salam perpisahan.
                “Jangan lupakan aku, ya?” kataku.
                “Tidak akan.” Jawabnya.
Kulihat matanya berkaca-kaca. Aku tidak berlama lagi. Langsung kuhidupkan sepeda motorku. Kulihat dia melambaikan tangan. Kubalas lambaiannya. Baru hendak kulajukan motorku, dia memanggil namaku. Kulihat ia mendekat.
                “Hati-hati. Berjanjilah kau kembali lagi.” Katanya sambil mengangkat jari kelingkingnya.

                “Aku tinggalkan hatiku di Sengkuang.” Kataku lalu menyambut kelingkingnya dengan jari kelingkingku, sebagai tanda aku telah berjanji untuk kembali.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar