Terik matahari terasa menusuk kedalam kulit. Namanya
Laila, dari judul cerita dapat disimpulkan apa hobinya. Usianya 17 tahun sejak
satu bulan yang lalu. Namun, semenjak itulah hobinya muncul. Dia sering
berkhayal dan menghabiskan waktunya untuk tidur dan bermimpi.
Kala itu pertengahan bulan Juli, tepat saat libur
sekolah. Pergi mengukur jalan tidak ada dalam agendanya, yang ada hanya latop
dan ketenangan di dalam kamar berukuran kandang singa dengan fasilitas lengkap.
Dibukanya laptop itu dan diketiklah sebuah nama. Anna. Ternyata dia mengirim
e-mail kepada sahabatnya. Dan tak lama kemudian muncul e-mail balasan dari
orang diseberang sana. Terlihat senang sekali hatinya saat membaca balasan
e-mail dari sahabatnya itu. Kemudian ditutupnya laptop itu, diletakkannya di
atas meja di samping tempat tidurnya. Lalu, ..buumm.. direbahkannya tubuh ramping itu ke tempat tidur. Tak perlu
waktu lama, suasana sejuk musim panas menghanyutkan pikirannya, ia larut dalam
mimpi.
“
Hei!! Bangun..!!.“ teriak pria berusia 30 tahun itu.
Mendengar teriakan itu, Laila segera bangun dari
tidurnya. Sembari mengucek-ucek matanya dia mencoba melihat orang yang
berteriak padanya. Betapa terkejutnya, itu adalah guru fisikanya. Pak Ishaak.
“
I..ia. ma.. ma’af pak.” Laila hanya tertunduk tak berkutik. Pasalnya Pak Ishaak
termasuk salah satu guru dengan tipe keras di sekolah.
“
Ayo, sekarang kamu keluar dan cuci muka kamu!.” Lanjut Pak Ishaak.
Segera Laila berdiri dari bangku dan berlari menuju
toilet.
Selepas
mencuci mukanya, Laila tak segera kembali ke kelas. Cukup lama ia menatap
cermin di hadapannya. Berkhayal bagaimana kiranya dia bisa pergi tana dilihat
gurunya. Dilihatnya keluar jendela. Semakin jauhlah pikirannya terbang. Andai aku bisa terbang, pasti seru rasanya
menikmati hempasan angin menerpa muka. Pikirnya.
Sepulang
sekolah, ia langsung bergegas pulang agar dapat tidur dan melupakan semua
kejadian tadi di sekolah. Ditengah perjalanan, ia melihat dari kejauhan sebuah
benda berkilau. Tampak seperti kalung. Segera ia mendekat. Benar. Itu memang
sebuah kalung dengan sebuah liontin berbentuk burung merpati. Indah sekali.
Dilihatnya sekeliling, tak ada yang mencurigakan. Dibawanya kalung itu ke
rumah.
Sesampainya
di rumah, Laila dengan senangnya menatap kalung itu, perasaannya serasa dapat
terbang saat itu juga layaknya liontin yang tergantung di kalung itu. Dengan
kalung dalam genggamannya, ia merebahkan badan ke tempat tidur. Kemudian, ...
tiba-tiba dia merasakan badannya begitu ringan bak kapas yang tertiup angin.
Dengan mata yang masih tertutup dia merasakan hembusan angin menerpa mukanya.
Begitu membuka mata, betapa terkeutnya .. ia terbang. Terbang?. Iya, dia
benar-benar melakukannya.
“
A..hahahaha.. wuhuu..!! yeeaaayy... I’m Fly...!!” teriaknya dengan sekuat
tenaga.
“Aku terbaaaangg..!!” diulanginya terus kata-kata itu.
Sungguh menakjubkan. Mimpinya untuk terbang akhirnya terwujud.
Seharian
dia mengitari seluruh kota. Hingga saat senja tiba, ia pulang ke rumahnya. Di
depan rumah, dia melihat ada sepasang sandal asing. Ia sadar itu bukan sandal
pemilik rumah. Dibukanya pintu itu.
“
Aku pulang,.” Teriaknya.
“
Eh, kamu udah pulang Ila.” Jawab mamanya.
Dilihatnya orang yang duduk disamping ayahnya. Tidak
kenal. Ia tidak mencoba bertanya.
“ Ila,
ini nenek Sri, katanya kamu menemukan kalung milik cucunya yang jatuh di jalan
deket sekolah kamu, benar kah?.” Tanya mamanya.
“
Ng..nggak ma, aku nggak tau apa-apa soal kalung jatuh. Nenek salah orang kali.”
Jawab Ila ketus.
Mendengar jawaban anaknya, mamanya langsung mengerlitkan
matanya kearah Ila sebagai tanda bahwa yang dilakukannya itu salah.
Dengan
muka tertunduk, Laila berjalan ke kamarnya. Betapa tidak inginnya dia
kehilangan kalung ini. Ia bisa mewujudkan impiannya dengan kalung ini. Ia mengurung
diri di kamar tidak keluar sampai mamanya mengetuk pintu.
“
Ila.. buka pintunya sayang.” Teriak mama dari luar.
Tampak Laila membukakan pintu kamarnya. Masih dengan
wajah tertunduk. Duduk dikursi belajar Laila, mamanya menceritakan semua hal
yang dibicarakan dengan nenek Sri tadi. Ternyata, kalung itu adalah hadiah
untuk cucu si nenek yang sedang dirawat di rumah sakit. Saat mengetahui kalung
itu terjatuh nenek Sri sangat kebingungan, ia bertanya kesana kemari bertanya
barangkali ada yang melihat kalung itu. Sampai pada akhirnya seorang ibu-ibu
yang berjualan di pinggir jalan memberitahukan bahwa ia melihat ada anak
sekolah yang memungut sesuatu di jalan dan mengantonginya. Pencarian nenek itu
berlanjut mencari anak yang mungkin mengambil kalung itu. Berbekal ciri-ciri
yang dikatakan pemilik warung emperan tadi nenek itu mencari anak yang memegang
kalung cucunya. Tak berapa lama, nenek itu bertemu anak sekolahan yang satu
sekolah dengan si pemegang kalung. Untunglah anak itu mengenali ciri-ciri yang disampaikan
nenek itu. Langsung saja diantarnya nenek Sri kerumah yang dituju. Namun, saat
tiba, anak yang dicari sedang tidak di rumah. Tapi, nenek itu tetap menunggu,
berharap ia mendapatkan kembali kalung itu.
Mendengar
cerita mamanya, bukannya mengembalikan kalung itu, Ila malah pergi. Di
genggamnya kalung itu. Terbang. Ia keluar rumah lewat jendela. Terbang lurus
kedepan. Namun, liontin merpati yang tergantung dikalung itu terlepas. Jatuh.
Begitupun tubuh Laila. Ia jatuh menukik tajam ke tanah. Cemas. Badannya
bergetar. Mati. Hanya itu yang terlintas dipikirannya. Lalu kemudian, ..
“
Aaaaggghhh.....!!!.” Teriaknya dan terbangun.
Dia terbangun dengan keringat disekujur tubuhnya.
“
Mimpi?? Cuma mimpi??..” katanya.
Dengan penuh ketidak percayaan, ia berlari keluar kamar.
Diruang tamu dilihatnya mamanya, kemudian dihampirinya.
“
Ma, sekarang jam berapa?.” Tanyanya.
“
Sekarang jam 4. Emang kenapa?.” Mamanya balik nanya.
Hanya gelengan kepala yang menjawab pertanyaan mamanya.
“
Tadi, mama denger kayak ada yang teriak. Kamu mimpi lagi yah?.” Tanya mama
penasaran.
Sekarang anggukan kepala yang menjawab pertanyaan
mamanya.
“
Mangkanya jangan suka tidur disiang bolong. Kan jadi mimpinya aneh-aneh.” Kata
mama menasihati.
“
Hmm.. iya ma,.” Jawab Laila kemudian.
“ Ya
udah, sekarang kamu pergi mandi.” Ujar mamanya.
Laila hanya mengangguk lalu beringsut dari sofa tempat
mamanya duduk dan pergi ke kamar mandi.
Selesai
mandi, ia kembali membuka laptopnya dan menuliskan e-mail yang panjang kemudian
setelah memasukkan nama tujuan e-mail tersebut dia kembali merebahkan badannya
di tempat tidur mencoba menghilangkan bayangan mimpi anehnya siang tadi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar