Kamis, 03 Desember 2015

Bahasa Cinta





Bila cinta memanggilmu, turutilah bersamanya.
Kendati jalan yang mesti engkau lalui sangat keras dan terjal.
Ketika sayap-sayapnya merangkulmu, maka berserah dirilah padanya.
Sekalipun pedang-pedang yang bersemayam di balik sayap-sayap itu barangkali akan melukaimu.

Ketika ia bertutur kepadamu, maka percayalah padanya.
Walaupun suaranya akan memporandakan mimpi-mimpimu laksana angin utara yang meluluh-lantakan tanaman.
Cinta akan memahkotai dan menyalibmu.
Menyuburkan dan mematikanmu.
Membumbungkanmu terbang tingi, mengelus pucuk-pucuk rerantingmu yang lentik dan menerbangkanmu ke wajah matahari.
Namun cinta juga akan mencekik dan menguruk-uruk akar-akarmu sampai tercabut dari perut bumi. Serupa dengan sekantong gandum, cinta menyatukan dirimu dengan dirinya.
Meloloskanmu sampai engkau bugil bulat.
Mengulitimu sampai engkau terlepas dari kulit luarmu.
Melumatmu untuk memutihkanmu.
Meremukanmu sampai engkau menjelma liat.

Lantas,

Cinta akan memelukmu ke kobaran api sucinya.
Sampai engkau berubah menjadi roti yang disuguhkan dalam suatu jamuan agung kepada Tuhan. Cinta melakukan semua itu hanya untukmu sampai engkau berhasil menguak rahasia hatimu sendiri. Agar dalam pengertianmu itu engkau sanggup menjadi bagian dari kehidupan.
Jangan sekali-kali engkau ijinkan ketakutan bersemayam di hatimu.
Supaya engkau tidak memperbudak cinta hanya demi meraup kesenangan.
Sebab memang akan jauh lebih mulia bagimu.
Untuk segera menutupi aurat bugilmu dan meninggalkan altar pemujaan cinta.
Memasuki alam yang tak mengenal musim.
Yang akan membuatmu bebas tersenyum, tawa yang bukan bahak, hingga engkaupun akan menangiskan air mata yanng bukan tangisan.

Cinta tak akan pernah menganugerahkan apapun kecuali wujudnya sendiri.
Cinta tidak sekali-kali menuntut apapun kecuali wujudnya sendiri.
Cinta tidak pernah menguasai dan tidak pernah dikuasai.
Lantaran cinta terlahir hanya demi cinta.
Manakala engkau bercinta,
jangan pernah engkau tuturkan, “Tuhan bersemayam di dalam lubuk hatiku“
namun ucapkanlah, “Aku tengah bersemayam di dalam lubuk hati Tuhan”.
Jangan pula engkau mengira bahwa engkau mampu menciptakan jalanmu sendiri.
Sebab hanya dengan seijin cintalah jalanmu akan terkuak.
Cinta tidak pernah mengambisikan apapun kecuali pemuasan dirinya sendiri.
Tetapi bila engaku mencintai dan terpaksa mesti menyimpan hasrat.
Maka jadikanlah hasratmu seperti ini :
Melumatkan diri dan menjelma anak-anak sungai yang gemericik mengumandangkan tembang ke ranjang malam.

Memahami nyerinya rasa kelembutan.
Berdarah oleh pandanganmu sendiri terhadap cinta.
Menanggung luka dengan hati yang penuh tulus nan bahagia.
Bangkit di kala fajar dengan hati mengepakkan sayap-sayap.
Dan melambaikan rasa syukur untuk limpahan hari yang berbalur cinta.
Merenungkan muara-muara cinta sambil beristirahat di siang hari.
Dan kembali di kala senja dengan puja yang menyesaki rongga dada.

Lantas,
Engkaupun berangkat ke peraduanmu dengan secarik do’a.
Yang disulurkan kepada sang tercinta di dalam hatimu.

Yang diiringi seuntai irama pujian yang meriasi bibirmu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar