Jumat, 27 November 2015

Puisi


 Remember Love


Tersenyumlah saat kau mengingatku
karna saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
karna saat itu aku tak berada disampingmu
Tapi, pejamkanlah mata indahmu itu,
karna saat itu aku akan terasa ada didekatmu
Karena aku tlah berada dihatimu untuk selamanya
Tak ada yang tersisah lagi untukku
Selain kenangan-kenangan yang indah bersamamu
Mata indah yang dengannya aku biasa melihat keindahan cinta
Mata indah yang dahulunya adalah miliku,
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati, cinta, dan rinduku adalah milikmu
Cintamu takkan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku tlah patah karnamu
Cintamu akan tetap tinggal bersamaku
Hingga akhir hayatku,
Dan setelah kematian,
Hingga tangan tuhan akan menyatukan kita lagi
Betapapun hati tlah terpikat pada sosok terang dalam kegelapan
Yang tengah menghidupkan sinar redupku
Namun tak dapat menyinari dan menghangatkan perasaanku yang sesungguhnya
Aku tidak pernah bisa menemukan cinta yang lain
Selain cintamu karna mereka tak tertandingi
Oleh sosok dirimu dalam jiwaku
Kau takkan pernah terganti
Bagai pecahan logam mengekalkan
kesunyian,kesendirian,dan kesedihanku

kini aku tlah kehilanganmu.

Puisi


The Power Of Love

Datanglah kepada orang seseorang
Yang dapat membuatmu tersenyum
Karna sebuah senyuman dapat membuat hari yang gelap menjadi terang
Mimpilah apa yang ingin kamu mimpikan
Pergilah kemana kamu ingin pergi
Jadilah sesuai dengan keinginan kamu
Karna kamu hanya hidup sekali
Dan, satu kesempatan untuk melakukan apa yang ingin kamu lakukan
Bertindaklah seolah-olah setiap peristiwa memiliki tujuan
Sehingga, kamu juga memiliki tujuan hidup
Selalu letakkan dirimu pada posisi orang lain
Jika kamu merasa bahwa itu menyakitkan kamu
Mungkin itu menyakitkan orang itu juga
Kamu tidak dapat melangkah dengan baik dalam kehidupan kamu
Sampai kamu melupakan kegagalan kamu, dan rasa sakit hati
Mema’afkan bagaikan wangi semerbaknya
Tercium dari uang tua                             
Terimalah secara total menjadi cinta tak bersyarat
Cinta adalah ketika kamu membawa perasaan,kesabaran,dan romantis
Dalam suatu hubungan
Dan menemukan bahwa kamu peduli dengan dia
Jangan pernah berkata selamat tinggal  jika kamu masih ingin mencoba
Jangan pernah berkata kamu tidak mencintai orang itu lagi bila kamu tidak membiarkannya pergi
Hanya perlu 1 menit untuk menghancurkan seseorang
Hanya perlu 1 jam untuk melukai seseorang
Hanya perlu 1 hari untuk mencintai seseorang
Tetapi, membutuhkan seumur hidup untuk melupakan seseorang
Permulaan cinta adalah dengan membiarkan orang yang kita cintai menjadi dirinya sendiri
Dan tidak membentuk mereka sesuai keinginan kita
Cinta yang tulus akan teruji dengan berjalanya waktu
Kita tidak bisa mengubah apapun
Kecuali kalau kita bisa memulainya
Apa yang membuat manusia merasa lebih baik,
Dicintai.......


                                                                                                                                                         

Kamis, 26 November 2015

Poem


The Peace

here I am
thousands of miles from the bustle
staked out on a mission
to find the inner peace
were swept away in a wave
were slammed by the wind
flying high
reaching a fever pitch
and than fall

here I am
with every step I take
strolling so casually
under the lamppost back on sixth street
hearing someone whisper through the phone
a voice that will never be forgotten
like streams
so smooth so sweet
and when she turned
I see a diamond in her eyes
she was the one I was looking for
peace felt in my soul

Move On


“Move On”

Bengkulu, 16 Februari 2006

“Ayo c’mon .. mari c’mon .. buat apa kita nge-down ... Move on.. Move on..”

                Yaa... kurang lebih begitulah lirik lagu yang sedari tadi kudengar, aku duduk di kursi halte, sedang menunggu bus yang akan mengantarku pulang. Waktu itu pukul 16:45 WIB saat sebuah bus berhenti di depan halte, dan kulihat mereka berdesakan, berebut untuk masuk terlebih dahulu kedalam bus. Aku tahu bus itu tak akan penuh, jadi aku bersantai saja, perlahan supaya tidak terjatuh, atau menginjak kaki orang lain.
                Benar sekali dugaanku, bus itu tidak penuh, masih ada satu bangku kosong, saat kulihat seorang gadis sedang duduk di samping bangku kosong itu. Segera aku duduk, karena bus akan jalan. Di perjalanan, aku tetap saja mendengarkan lagu kesukaanku yang sejak tadi kuputar. Musik itu sengaja aku buat menjadi mode repeat, karena aku sangat senang mendengarnya, bagiku lirik lagu itu memberikan sebuah motivasi. Apalagi sekarang tiba – tiba hujan dan dingin. Tak ada yang bisa kulakukan selain bersandar di kursi bus dengan i-Pod di telingaku.
                Disaat kurasakan tubuhku mulai menggigil kedinginan, bahkan bergetar karena dingin. Saat itulah wanita yang sedari tadi hanya duduk diam di sampingku menawari segelas kopi hangat instan yang ternyata ia bawa di dalam tasnya. Seketika dari suasana yang ramai dan bising di dalam bus menjadi hening, senyap, dan sepi, hanya terdengar suara rintik hujan yang terdengar semakin lebat dan udara di dalam bus semakin dingin. Aku masih belum berkata apa – apa selain kata “thank you” yang tadi aku ucapkan kepada wanita di sebelahku sebagai tanda hormatku atas kopi pemberiannya.
                “Pak Sopir, Berhenti !” teriak wanita di sampingku, aku hanya diam. Saat dia melihatku, aku ikut melihatnya, kulihat dia melontarkan senyumnya kepadaku, kemudian. “ excuse me !” katanya. Aku tersadar kalau posisi tas dan kakiku menghalangi ia untuk keluar. Tanpa bicara aku hanya bergeser untuk membukakan jalan supaya dia bisa pergi.
**
Bus kembali berjalan, namun aku baru sadar aku melupakan sesuatu, aku lupa menanyakan nama gadis yang tadi berbaik hati memberikanku kopi.
“Aagh..! sial..! kenapa bisa sampai lupa...!”
Aku bergumam sendiri, aku geram sendiri, kenapa tadi aku lupa bertanya.
“Semoga saja besok bisa kembali bertemu..”
Aku berbicara sendiri di dalam hati, aku sangat mengharapkan bisa kembali bertemu, dan mengobrol dengannya. Aku tidka apa, meski hanya 5 menit. 5 menit bersamanya, bagiku 5 jam.
“Haha’.. kok aku jadi tiba – tiba alay banget ya..”
Sama seperti tadi, aku lagi – lagi berbicara sendiri, dan sekarang ditambah aku tertawa sendiri.
“ehm..!”
 Aku tidak tahu kenapa, tapi orang tua yang duduk di sampingku terbatuk, mungkin dia illfeel  karena tingkahku yang dilihatnya aneh. Dan sejak itu, aku diam saja, tak memikirkan hal – hal aneh yang akan mengganggu orang lain.

**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...

                Jam tanganku berbunyi, kulihat saat itu pukul 17:15 WIB dan hujan sudah reda. Aku beranjak turun dari bus, mengetuk pintu rumah, dan kulihat kakek dan nenekku sedang duduk di sofa dengan televisi yang menyala memutarkan film HEART. Imajinasiku muncul, aku membayangkan kake dan nenekku saat mereka muda dulu. Aku juga membayangkan saat mereka melakukan segala hal bersama layaknya Farel dan Rachel, yaaah... begitulah setahuku nama dua tokoh utama dalam film itu.
**
                Hari ini aku baru pulang sekolah, seperti senin biasanya gerbang sekolah dibuka dan siswa diperbolehkan pulang pukul 14:45 WIB. Segera kuambil tasku dan langsung keluar menuju gerbang, karena aku tak ingin tertinggal bus. Mungkin jaraknya yang jauh, sehingga jarang ada angkutan umumyang menuju ke arah rumahku, mungkin mereka mempertimbangkan bahan bakar yang dibutuhkan sekedar bolak – balik dari pusat kota ke desa. Rumahku terletak di Bengkulu bagian timur, berjarak 30 kilometer dari pusat kota, di sebuah desa, dimana hutan masih sangat terjaga, udara sejuk, dan sunrise yang sangat cantik. Aku bersekolah di kota berkat beasiswa yang aku dapatkan dari sekolah awalku di desa, dan selanjutnya aku terus bersekolah di kota.
**
Tiit ...tiiit ...tiit ...tiiit ...
                Lagi – lagi jam tanganku berbunyi, aku sedikit tersentak, karena aku tidak sadar kalau sedari tadi aku tertidur di bus. Entah karena terlalu capek, atau alunan musik di dalam bus ini yang membuatku tertidur. Yang jelas aku terbangun, dan .. kulihat sekelilingku, kukira tak ada yang spesial sampai aku melihat sebuah bangku kosong di baris kedua dan ada seorang wanita muda di sampingnya. Aku tidak tahu siapa, dan mungkin tidak akan pernah tahu, sampai aku memberanikan diri untuk melangkah kedepan, dan kutemui wanita cantik, yang baik kepadaku tempo hari. Kami mengobrol, membahas berbagai hal yang diselingi dengan candaan, sehingga aku bisa melihat senyumnya yagn indah. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, dan sekarang bus sudah berhanti di depan rumahnya, aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan berharga untuk yang kedua kalinya. Kutanya namanya, dan dengan sedikit senyum ia menjawab.
                “ Cassandra, Cassandra Elaine Peter.”
Jantungku berhenti berdetak untuk sesaat, kemudian berdetak lagi, dan spontan kubalas ucapannya.
                “ Wulf, Wulf Trygvassen. “
Dia kembali menjawab.
                “ Wulf, nice to meet you “
Kutimpali ucapannya dengan senyuman, dan dia pun turun dari bus.

Hari berganti, bahkan minggupun tak terasa telah delapan kali lewat. Dan kami semakin dekat, semakin terbuka satu sama lain, bahkan aku merasa nyaman saat berdua dengannya, dan merasa gelisah saat jauh darinya...
**
Hari ini Sabtu, 15 April 2006, jam tanganku sudah menunjukan pukul 19:05 WIB, malam ini aku mengajak Cassandra untuk dinner, dan tentunya ada maksud lain, yaitu aku ingin malam ini menjadi malam terindah baginya yang takkan pernah dilupakannya selamanya. Celana jeans, dengan jas hitam dan sepatu cokelat yang sekarang kukenakan, aku siap berangkat, aku harap ini tidak terlambat.
                Setibanya disana, di salah satu coffe shop  di Bengkulu, aku lngsung duduk, saat kupandangi sekeliling tak ada orang yang kucari. Lonceng kecil di atas pintu itu terus saja berdenting, namun bukan Cassandra. Saat aku mulai bosan menunggu, saat itulah lonceng pintu coffe shop  berbunyi. Saat aku memutar kepala, betapa terkejutnya, seorang wanita muda dengan gaun merah dan sepatu highhil  merah mencuri perhatianku, aku terpaku sejenak, aku tak percaya akan apa yang kulihat sekarang, terlebih saat kulihat ia duduk di depanku.
                “ Hai ... “
Sapanya lembut. Namun aku tetap membatu. Hingga wanita itu bertanya kepadaku.
                “ What happend? apakah pakaianku salah? “
Barulah kujawab.
                “ oh .. tidak, you are beautiful.”
Kata – kata itu meluncur sendiri dari mulutku. Dan selanjutnya aku menceritakan maksudku mengundangnya kemari, dan diakhir dialogku, aku memberitahukannya tiga kata yang selama ini kurasakan dan yang membuat hatiku gelisah.
Kata itu adalah :
                “ Aku sayang kamu “
Dan yang tak pernah kuduga ialah, jawabannya atas pertanyaanku. Katanya.
                “ Aku juga sayang kamu “
Seketika, jantungku berhenti berdetak, kurasakan dingin dan panas di sekujur tubuhku, perasaanku bercampur aduk, namun yang paling dominan aku rasakan adalah rasa bahagia. Aku tak menyangka ia juga menyimpan perasaan yang sama kepadaku, dan itulah, apa yang aku impikan terwujud, malam ini, bersama Cassandra, cinta terakhirku, itulah yang kuharapkan. Aku tak ingin kehilangan Cassandra seperti aku kehilangan kekasihku dulu. Mulai malam ini, aku berjanji, akan menjaga Cassandra, melindunginya, dan takkan kulepaskan.
**
                Sekarang, hari – hariku tak sendiri, hariku tak lagi sepi, aku tak lagi merasa sepi, Cassandra selalu ada untukku, dan aku juga selalu ada untuknya, aku tak ingin ia merasa diacuhkan, karena aku tak ingin dia sedih, sekarang dan selamanya. Aku ingin dia bahagia bersamaku, sekarang dan selamanya.



TAMAT

Lembaran Cinta Dirga


“ Lembaran Cinta Dirga “

- Pukul 8 pagi, di Tebeng –

                “Aaagh...!! Gue telat lagii...!!”
                Suara teriakan dari seorang anak muda itu menggema ke seluruh penjuru kompleks. Terlihat dia sangat tergesa – gesa pagi itu. Waktu menunjukan uku 08:15 WIB saat dia keluar dari kost-an nya dan berangkat ke sekolah, entah apa yang dia lakukan tadi malam sehingga dia bangun kesiangan pagi ini.
                Terlihat, dia memberhentikan sebuah angkot – angkutan kota dari Bengkulu – berwarna merah, jelas itu adalah angkot yang menuju ke arah sekolahnya. Terdengar aneh memang, seorang anak pemalas seperti dia, dapat masuk ke sekolah yang tergolong elit di Bengkulu. Namun begitu, dia memang anak yang mandiri, rajin, sopan santun, dan terkenal baik. Dia tak segan – segan membantu temannya ketika temannya dalam kesulitan, dan tak peduli siapa, dia akan membantu.

**

- Pukul 08:30 WIB, Bengkulu International School –

                Sekolah dengan akreditasi A, dan selalu memenangkan Adipura dan Adiwiyata ini sangan populer di kota Bengkulu. Banyak sekali wali murid yang mendatarkan anaknya disini, namun hanya sebagian kecil dari mereka yang diterima karena sisem seleksi yang sangat ketat dari pihak sekolah. Bengkulu International School atau yang lebih dikenal dengan nama BIS – dibaca dalam bahasa Inggris – ini hanya memilih anak – anak terbaik saja, tidak mentup kemungkinan, dari 1 juta pendaftar, hanya 50 – 100 anak saja yang diterima dan salah satunya si pemalas itu.
                Setibanya di sekolah, anak itu langsung berlari menuju kelasnya, dan seperti dugaannya, ia telat mengikuti ulangan hari ini. Gurunya tak lantas membiarkan anak itu masuk, dia memerintahkan agar anak itu terlebih dahulu melapor kepada guru BK.
                “Aaagh..!! alamat dapet oin lagi nih!” bisiknya dalam hati.
Diruang BK, guru BK telah menunggu, mungkin dia sudah mendapat laporan dari guru yang tadi mengajar di kelas. Guru BK mempersilahkannya duduk, dan menceritakan kejadian yang dia alami sehingga dia bisa datang terlambat pagi ini.
                Anak itu menceritakan semua kejadian yang ia alami sesuai urutan, mulai dari alasan kenapa ia telat tidur hingga alasan kenapa dia bisa telat ke sekolah pagi ini. Tak ada satupun peristiwa yang luput dari ceritanya, ia dengan lepasnya menceritakan semua beban pikirannya kepada guru BK-nya tersebut. Dia merasa bawa inilah satu – satunya media sharing yang dia punya, lebih tepatnya satu – satunya media sharing yang terpercaya, dapat menyimpan rahasianya. Setelah habis 15 menit dia bercerita, guru BK memperbolehkannya masuk kelas dengan syarat tidak akan mengulangi lagi perbuatannya.
                “ Jadi, saya tidak dihukum bu,? “ Tanya anak itu.
Muka yang tadinya bak cucian diremas, seketika berubah menjadi girang yang tak terhingga.
“ Karena kamu telah bercerita semua hal dan kamu berkata jujur, kamu boleh masuk kelas, dan nanti ibu akan meminta ibu Laili untuk memberi waktu ulangan susulan untuk kamu. “ Jawab guru BK dengan tersenyum.
                “ Terima kasih bu, terima kasih. “
Anak itu kemudian berlalu meninggalkan ruang BK untuk masuk ruang kelasnya. Dia merasa sangat beruntung, jujur telah menyelamatkannya dari hukuman guru BK yang terkenal kejam – memang tujuannya untuk membuat siswa jera –.

**

- Pukul 10:30 WIB, bel istirahat berbunyi –

                “ Heh, Bi! Kantin yuk! “ ajak Daffa.
                “ Ia, bentar lagi, tanggung nih tinggal satu soal lagi! “ Jawab Abi.
Abi Van Dirga, lahir pada tanggal 17 Agustus 1998, teman – temannya
memanggilnya Abi, duduk di kelas XII IPS, Bengkulu International School.
                “ Buruan! Gue udah laper niih..! “ desak Daffa lagi.
                “ Ia.. Ia.. ini juga udah kelar kok. “ Jawaban Abi menenangkan Daffa.
Sepertinya sahabatnya itu sudah kelaparan berat. Sesampainya di kantin, Daffa langsung meluncur ke stand penjual bakso. Bak telah hafal betul dengan Daffa, penjual bakso itu langsung memberikan satu mangkuk full bakso.
                                Sudah telat 5 menit, dari bel masuk jam pelajaran berikutnya, tapi Abi masih berada di kantin, bukannya makan tapi Abi masih menunggu sahabatnya selesai makan.
                                “ Daff, bisa cepetan nggak!? “ Abi mencoba mengingatkan Daffa.
                                “ Ia, bentar lagi. Tadi elo lama aja, gue tunggu. Sabar napa? “ Jawab Dafa datar. Ia mengulangi kata – kata Abi tadi di kelas. Abi hanya diam.

**

                                Sepulang sekolah, Abi tak lantas pulang ke rumah, dia singgah sebentar ke toko buku langganannya untuk mencari buku – buku baru sebagai koleksi, Abi memang sangat gemar membaca dan menulis terutama cerpen dan puisi. Dia banyak mengadaptasi gaya bahasa dari berbagai pengarang ternama seperti Sapardi Djokodamono, Kahlil Gibran, WS Rendra, dan tentunya Chairil Anwar. Tulisannya banyak dimuat di koran – koran dan majalah di Bengkulu.
                                Siang itu Abi ingin mencari sebuah buku berjudul “ AKU INI BINATANG JALANG “, buku yang berisi kumpulan puisi, buah karya salah satu penyair favoritnya Chairil Anwar. Ia mencari literatur puisi, kemudian mencari buku yang dimaksudnya. Setelah 5 menit, dia menemukan buku yang dicarinya, namun saat Abi hendak mengambil buku itu, terlebih dahulu buku itu telah diambil oleh seorang gadis yang ada di seberang lemari tempat Abi berdiri  sekarang. Mata Abi terpaku menatap gadis di depannya, tanpa gadis itu sadari. Bahkan saat gadis itu beranjak untuk duduk, Abi terus mengikutinya. Bak melihat bidadari surga, Abi tak henti – henti menatap, seperti tak ingin kehilangan satu detikpun tatapannya ke arah gadis itu. Mungkin karena malu, gadis itu akhirnya keluar dari toko buku setelah membayar buku yang seharusnya  dibeli Abi tadi.
                                Sesampainya di Kost-an, Abi lantas merebahkan badannya di atas satu – satunya bed di kost-annya. Abi kemudian membuka laptopnya dan mulai menuliskansemua kejadian yang dia alami hari ini, mulai dari keterlambatannya sampai tingkah konyolnya saat bertatapan dengan gadis di toko buku tadi siang. Belaian jemari Abimengantarkannya kedalam imajinasi yang akhirnya memunculkan inspirasi bagi Abi untuk memulai menulis sebuah puisi indah.

Kertas yang semula kosong . .
Sekarang penuh dengan coretan tak berarti
Kertas yang semula kosong . .
Sekarang penuh dengan sobekan kertas tak berarti

Satu waktu berlalu . .
Aku baru menyadari bahwa,
Hidup bagaikan kolase
Antara satu potong kertas dengan potongan lain tak pernah sama
Bak kejadian dalam hidup, tak ada yang sama
Satu potongan melengkapi potongan lain
Bak kehidupan . .
Satu kejadian melengkapi kejadian lain
Satu cerita melengkapi cerita lain

Kertas yang semula kosong . .
Sekarang penuh . . dengan cerita . .
                Hari semakin larut, Abi menutup laptopnya dan beranjak untuk tidur, ia tentu tak ingin terlambat ke sekolah dan harus berurusan dengan guru BK lagi.

**

Hari ini Kamis, 14 Mei 2015, dari meja yang dikhususkan bagi pembaca yang hendak memebaca buku sebelum mereka memebelinya. Abi melihat dari sudutmatanya ada seorang gadis cantik yang duduk berseberangan dengan meja tempatnya duduk sekarang. Kali ini dia memberanikan diri untuk mendekat dan berkenalandengan gadis itu.
                “ Hai, nama gue Abi. “ katanya sambil menyodorkan tangannya, bermaksud hendak berjabat tangan. Namun gadis itu tidak merespon kata – kata Abi.Ia hanya diam.
                “ Gue lihat, elo suka baca buku – buku kumpulan puisi gitu ya ? apa elo juga suka nulis? “
Kali ini Abi mengajukan beberapa pertanyaan dengan maksud ingimemulai percakapan dengan gadis itu.Setelah 15 menit berlalu, dan sepertinya dia juga sudah mulailelah dengan pertanyaan Abi, akhirnya gadis itu menjawab.
                “ Gue Jessi, Jessica Latifiane. “
Setelah menjawab semua pertanyaan Abi, Jessica atau yang lebih akrab dipanggil Jessi ini berlalu, keluar dari toko buku. Namun sebelum Jessi membuka pintu toko, Abimemanggilnya.
                “ Weekend ini ada acara? “ Tanya Abi lagi.
                “ Enggak, gue gak ada acara weekend ini, kenapa? “ Jessi menjawab pertanyaan Abi dengan pertanyaannya.
                “ Engg..  Berarti, gue boleh dong..main ke rumah? “ Tanya Abi langsung.
Jessi tak menjawab, sebagai gantinya, Jessi memberikan instruksi anggukan kepala dan tersenyum agak malu kepada Abi. Abi yang melihat tingkah salting Jessilangsung merasa bahagia setengah mati, ia sangat senang karena ajakannya diterima dengan senang hati oleh gadis pujaannya – padahal baru beberapa hari yang lalukenal– .

**

                Hari – hari berikutnya terasa begitu singkat, sesingkat jam pelajaran bu Laili sang guru biologi yang paling ditakuti oleh seluruh siswa di Bengkulu International School. Tak ada alas an khusus mengapa jam pelajaran bu Laili begitu singkat menurut Abi, itu semua karena dia selalu tertidur pada saat bu Laili berada di kelas. Dan saat Abi terbangun, bu Laili sudah keluar ruang kelas. Hebatnya, posisi duduk Abi yang berada di pojok ruangan membuat bu Laili tak pernah mengontrol siswanya yang barisan terbelakang. Namun begitu, Abi tak pernah ketinggalan pelajara, karena dia mempelajari kembali semua mata pelajaran di kamar kost-nya.

**

-Minggu, 14 Juni 2015. Di depan rumah Jessica –

                “ Hai Jess, udah siap? “ Tanya Abi dengan bangganya, karena dia sekarang sedang mengendarai CBR model terbaru – padahal hasil minjam sama Daffa, dan sebagai gantinya Abi membelikan makanan selama dua hari -.
                “ Emang kita mau kemana ? “ Tanya Jessi balik.
                “ Udah, ikut aja, ntar juga lo tau. “ Jawab Abi sambil menyodorkan helm kepada Jessi.
                “ Gue jamin elo bakal suka, dan gak bakal ngelupain ini semua. “ Tegas Abi.
Sekitar 15 menit perjalanan dari rumah Jessi, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan Abi. Abi meminta Jessi untuk menutup matanya sampai tiba di lokasi yang menurut Abi merupakan tempat terasyik dari tempat wisata itu.
                “ Gue hitung sampai tiga, elo buka mata ya ?! “ Pinta Abi.
Abi mulai menghitung, satu . . dua . . tiga . .
Terlihat pemandangan yang sangat indah, luasnya lautan danpantai panjang, dan juga pemandangan kota Bengkulu pada malam hari dengan gemerlap lampunya. Menakjubkan!.
                Abi merentangkan tangannya dan memejamkan matanya, menikmati hembusan angin laut yang menggesek tubuhnya. Namun . . hal sebaliknya menimpa Jessi.
Abi berbalik badan dan melihat Jessi terpucat.
                “ Jess, Jessi, lo gak apa – apa ?! “ Tanya Abi panik.
                “ Gue, gue, gue gak apa – apa. “ Jawab Jessi gemetar.
Abi yang menyadari ada hal yang tidak beres, langsung membawa Jessi pergi dari tempat itu, dana membawa ke rumah sakit terdekat.

**

                “ Jess, ma’afin gue ya, gara – gara gue, elo jadi kayak gini, gue bener – bener nyesel Jess. “
                “ Udah, elo gak salah apa – apa kok, gue aja yang lemah, gue gak berani sama ketinggian. “ Jawab Jessi.
                “ Lagian kan, kata dokter gue gak apa – apa dan boleh langsung pulang. “ Jawaban Jessi sedikit menenangkan Abi.
                Setelah membereskan administrasi, Abi langsung mengantar Jessi pulang ke rumahnya. Namun sebelum pulang, Jessi mengajak Abi makan terlebih dahulu. Dengan senang hati Abi menuruti perintah Jessi, toh setelah semua kejadian tadi, Abi kembali mulai merasa lapar. Abi mengajak Jessi ke salah satu tempat makan favoritnya, karena selain enak disana juga harganya murah dan pelayanannya yang ramah membuat Abi nyaman balik lagi ke sana.
                Abi memesan satu porsi nasi goreng dan es teh manis, yang kemudian disamakan saja oleh Jessi. Selama mereka makan selama itulah mereka saling bertukar cerita satu sama lain, mengenai semua hal, bahkan hal pribadi mereka.
                Jessi merasa ada hal yang berbeda diantara dia dan Abi, dia merasa sangat nyaman dan aman di samping Abi, begitupun halnya dengan Abi. Merasa nyaman didekat Jessi dan merasa gelisah saat jauh dari Jessi. Keduanya merasa ada keterkaitan antara satu dengan yang lain.
                Setelah selesai makan, Abi langsung mengantarkan Jessi pulang ke rumah. Dan langsung pamit pulang ke kost-annya. Sesampainya di kost-an, Abi menyempatkan diri untuk membuka laptopnya dan menuliskan sebuah puisi.

Kau takkan mengerti bagaimana kesepianku
Menghadapi kemerdekaan tanpa cinta
Kau takkan mengerti segala lukaku
Karna luka telah sembunyikan pisaunya

Membayangkan wajahmu adalah siksa
Kesepian adalah ketakutan dalam kelumpuhan
Engkau telah menjadi racun bagi darahku
Apabila aku dalam kangen dan sepi
Itulah berarti . .
Aku tungku tanpa api.

**

                Hari demi hari berlalu, minggu telah berganti menjadi bulan, Abi dan Jessi semakin dekat satu sama lain, mereka semakin sering jalan berdua, makan malam di tempat favorit Abi yang sekarang menjadi tempat favorit Jessi juga.
                Tak ada batasan diantara mereka, tak ada rahasia, Abi selalu menajdi telinga bagi Jessi yang siap mendengarkan semua keluhannya. Jessi juga dengan senang hati menjadi supporter bagi Abi saat Abi tengah dalam masalah – kebanyakan masalah Abi adalah berurusan dengan bu kost-an - . Sekarang hari – hari Abi tak sepi lagi, ada Jessi yang menemani. Abi memang bukan siapa – siapa Jessi – belum - , Abi masih menunggu saat yang tepat untuk menyatakan perasaannya. Abi tak ingin tergesa – gesa, percuma terburu – buru kalau buruk hasilnya, lebih baik bersabar untuk hasil yang terbaik, begitu pikirnya.
**
                Hari ini, 16 Agustus 2015, waktu menunjukan pukul 18:45 WIB, itu artinya kurang dari 6 jam lagi, adalah hari terbaik dalam hidup Abi, dan kurang dari 1 jam lagi, dai harus berangkat menjemput Jessi, karena malam ini Abi mengajaknya untuk jalan dan juga dinner.
                Celana jeans biru, senada dengan kemeja lengan panjangnya, Abi siap berangkat menjemput Jessi, tak lupa tadi sore dia bernegosiasi dengan Daffa untuk meminjam motornya. Setelah dirasa sudah cukup persiapan nge-datenya, Abi langsung meluncur tak ingin Jessi berlama – lama menunggunya.
                Setibanya di rumah Jessi, Abi langsung mengirimkan pesan singkat sebagai kode kalau dia sidah siap di depan rumah. Dan tak lebih dari dua menit, Jessi keluar rumah dengan dress selututnya yang tampak begitu menawan di mata Abi, seorang gadis cantik dengan segala kesempurnaan, begitulah yang dipikirkan Abi tentang Jessi.
                “ Kita berangkat sekarang? “ Tanya Abi, tak mau berlama – lama, seperti sudah ada rencana tersembunyi setelah malam ini berakhir.
                “ Oke. “ Jawab Jessi.

**

- Dari lokasi yang sam saat Abi pertama kali mengajak Jessi jalan –

                “ Bi, elo mau ngajak gue kemana? “ Tanya Jessi penasaran.
                “ Udaah.. bentar lagi nyampe kok. “ kata Abi sambil terus menutup mata Jessi dan menuntun jalannya.
                “ Sekarang gue boleh buka mata ? “ Tanya Jessi lagi.
                “ Boleh, pelan – pelan ya . . “ Jawab Abi.
Begitu Jessi membuka matanya, betapa terkejutnya, hamparan laut luas berada di pelupuk matanya, dan yang lebih menakjubkan adalah saat Jessi menengadahkan wajahnya. Berjuta bintang menyapa bidadari cantik Jessica, dan tanpa dia sadari senyum indah merkah di bibirnya, menambah kesempurnaan malam itu.
                Sementara Jessica melihat bintang yang bertaburan bak debu jalanan, Abi yang sejak beberapa hari lalu sudah mempersiapkan kejutan untuk Jessi, sibuk memberi kode kepada beberapa orang sewaannya agar bersiap, saat Jessi sudah selesai memandang langit. Ada yang memegang balon bertuliskan “ I LOVE YOU “, ada juga yang bersiap di atas, untuk menjulurkan sebuah poster panjang dengan foto Jessi dan tulisan “ I LOVE YOU “ berwarna pink imut diatasnya.
                Setelah semua persiapan selesai, Abi langsung kembali kepada Jessi untuk mengintruksikan agar melihat kejutan yang ia siapkan.
                “ Jess, aku ingin kamu melihat sesuatu. “ kata Abi sambil menunjukan Jessi arah pandangannya. Abi membalikkan badan Jessi.
Surprisely, lampu – lampu berwarna – warni menyala membentuk hati dan sepert bunga – bunga di sampngnya. Seperti halnya hati Abi saat ini.
                Jessi sangat bahagia, itu terlihat jelas dari senyumnya yang begitu lepas, tanpa ada paksaan. Namun saat Jessi membalikkan badannya untuk menghadap Abi, hal yang tak pernah diduganya terjadi lagi, Abi terduduk dengan seikat bunga yang akan diberikan kepada Jessi. Lalu Abi mulai berbicara. Suasana tiba – tiba hening.
                “ Jessica Latifiane, dua bulan yang lalu saat aku pertama kali melihat senyum kamu, aku ngerasa ada yang berbeda dari diri kamu, yang membuat aku penasaran untuk mengetahui apakah itu. senyum yang takkan pernah aku dapatkan dari siapapun, dan saat senyum itu hampir menjadi milikku, sekarang tak akan kulepaskan.
Jessica, will you be mine? Forever? “
Abi menutup kalimatnya dengan pertanyaan yang tak pernah disangka – sangka oleh Jessica, namun sepertinay Jessi merasakan hal yang sama terhadap Abi, jadi dengan lantangnya Jessi menjawab.
                “ Yes, I will. “
Jawaban yang tak seberapa ini, namun mampu menerbangkan Abi ke angkasa saat itu juga. Betapa bahagianya Abi malam ini, pertama, ulang tahunnya dirayakan bersama pujaan hatinya, dan yang kedua, perasaannya yang selama ini terpendam, akhirnya mambuahkan hasil yang sangat manis. Abi bersyukur, penantiannya tak berakhir sia, kesabarannya tak salah, karna cintanya diterima oleh gadis pujaannya.


                Semua orang yang menyaksikan bersorak girang, bak ikut merasakan kebahagiaan Abi saat itu. Tak lama waktu berselang, jam tangan Abi menunjukan pukul 00:00 WIB, itu artinya tepat saat itu juga, Abi genap berusia 17 tahun. Ini adalah hari terbaik dalam hidup Abi, dan hari bersejarah dalam hidup mereka berdua.Abi dan Jessi.