Ku awali catatan ini dengan sebuah kata
Tanya yang bagi sebagian besar kaum memerlukan jawaban yang berbelit dan memusingkan.
Mengapa?. Sebuah kata tanya yang sangat sederhana. Tersusun dari tujuh huruf
yang antar satu huruf dengan yang lainnya tidak berdekatan sama sekali. Sebuah
kata tanya yang mengacu pada suatu definisi dan penjabaran mengenai suatu hal.
Di ceritakan berdasarkan kronologi. Dan memiliki dasar peletakkan jawaban.
Tapi, barulah kali ini. Aku mendengar sebuah kata tanya “Mengapa” dapat
diselesaikan dengan juga hanya satu kata saja. Sebuah kata yang kemudian
harinya merubah segalanya dalam hidup. Hidupku? Kurasa begitu…
**
Mengapa?. Terdengar sempurna saat diucapkan
oleh seorang tuna netra yang duduk di sebuah bangku panjang yang diperutukan
sebagai tempat istirahat bagi mereka yang telah kelelahan berjalan hilir-mudik
dari rumah ke sekolah. Dari rumah ke kantor. Atau dari arah sebaliknya. Sekilas
aku berpikir dia bermaksud meminta iba kepada orang yang lalu lalang di
depannya. Saat itu, aku yang merasa lelah atas kakiku karena sudah berjalan
selama sepuluh menit dari sekolah hendak pulang ke rumah, duduk. Tepat di
sebelah kanannya. Aku sedikit terkejut tatkala melihat dia langsung menolehkan
kepalanya ke arahku. Namun, rasa kagetku itu langsung hilang karena aku menyadari
bahwa… Seorang tuna netra, tidak dapat melihat kemilau dunia. Hanya dapat
merasakan denyut nadi serta detak jantungnya saja. Seorang buta tidak dapat
melihat keindahan ciptaan yang-Mulia. Tapi, pastilah dibekali dengan perasa dan
peraba yang lebih baik jika dibanding dengan seorang lainnya. Aku tidak berkata
apa-apa, tidak juga membuat suara yang dapat menarik perhatian seorang tuna
netra itu. Sekilas kupandangi, terlihat olehku sepertinya dia masih muda.
Mungkin 20 tahun. Atau bahkan seumuran denganku. Aku tak bisa menebak dengan
pasti berapa usianya. Sehingga itu membuatku sedikit lebih canggung untuk
berinteraksi lebih jauh dengannya.
Cukup istirahatnya. Time to go!. Saatnya untuk pulang. Aku berdiri meninggalkan
laki-laki tuna netra itu tanpa mengucapkan sepatah-kata perpisahanpun padanya. Toh.. sedari tadi aku hanya duduk diam. Dan
sesekali memandanginya saat dia kembali mengulangi pertanyaan yang sama kepada
angin lalu. Pikirku. Aku kembali berjalan menyusuri luasnya Bengkulu.
Setapak demi setapak aku lewati hingga sekarang aku sudah berada di sebuah
rumah gaya vintage. Ya.. rumahku.
Lebih tepatnya, rumah peninggalan almarhum ayahku. Aku tinggal sendiri di sini.
Ayahku meninggal 5 tahun yang lalu saat aku masih duduk di bangku kelas
sepuluh. Dan saat itu pun aku masih bersekolah di salah satu SMA di desa.
Ibuku.. Ohh.. pantaskah ia disebut
sebagai seorang ibu?. Itulah pertanyaan yang selalu terngiang di kepalaku
saat aku mengigat sosok perempuan yang hanya melahirkan, tidak membesarkanku
itu. Dia pergi sejak aku masih bayi. Dia pergi tanpa alasan. Begitulah yang aku
ketahui dari almarhum ayahku dulu saat aku menanyaainya tentang sosok ibu.
Tapi, itu adalah pemikiran ketika aku masih duduk di bangku SMP dan SMA.
Sekarang, persepsi itu perlahan berubah. Walau bagaimanapun ; rupa, bentuk,
sifat, kelakuan seorang ibu. Dia tetaplah Ibu. Orang dengan penghormatan
tertinggi bagi seorang anak. Itulah pendapatku yang sekarang ini, jika ditanyai
akan sosok seorang ibu. Meskipun aku hanya sendiri. Biaya hidup ; makan,
sekolah, pakaian, dan sebagainya. Semuanya dibiayai oleh keluarga terdekat
ayahku. Ayahku merupakan anak ketiga dari enam bersaudara. Berasal dari
keluarga golongan menengah atas membuat aku terbiasa hidup berkecukupan. Bahkan
saat ditinggal ibu. Dan sampai ditinggal oleh satu-satunya orang yang
senantiasa mendidik dan membesarkanku. Ayah. Saat hari dimana ayah dinyatakan
meniggal oleh salah seorang dokter rumah sakit tempat ayahku dirawat. Aku tidak
henti-hentinya menangis. Menjerit hanya kulakukan dalam hati. Karena aku tak
ingin berlarut dalam keterpurukan. Let It
Go. Hanya itu satu-satunya kalimat motivasi yang aku punya. Dan saat itu,
meskipun usiaku baru menginjak 15 tahun. Tapi, pikiranku sudah menuntunku untuk
bersikap dewasa. Meratap hanya akan menambah luka. Bersedih hanya akan menambah
duka. Satu hal yang hanya bisa dilakukan sekarang adalah berdo’a. Begitulah isi
dari kepalaku seterusnya. Aku selalu menyempatkan diri untuk berdo’a. Sesekali
aku menyunggingkan senyum, mengingat kerja keras ayahku selama ini berhasil. Ia
telah mendidik seorang bocah kecil. Menjadi seorang anak yang berbakti, dan
taat beribadah. Terima kasih Tuhan,
Engkau telah memberikah guru terbaik sepanjang masa kepada hamba. Terimalah ia
disisi-Mu Tuhan. Jagalah dia. Amin.
Kuselesaikan do’aku untuk hari ini. Dan
kembali menghadap meja untuk menyelesaikan tugas membuat karangan cerita yang
diberikan dosen Bahasa tadi siang. Tidak lupa aku menyetel alarm terlebih dahulu
di handphone-ku untuk berjaga-jaga
siapa tahu aku terlelap sebelum menyelesaikan tugas ini. Setelah alarm
terpasang, aku mulai mengetik sebuah kalimat yang aku dapat siang tadi.
Tepatnya saat aku duduk di samping seorang tuna netra yang bertanya-tanya
sendiri tanpa mengharapkan jawaban dari orang yang lewat di depannya.
**
Hari ini aku pulang cepat. Dosen yang
seharusnya masuk. Tiba-tiba menunda kelas dikarenakan ada urusan mendadak.
Tidak bisa dipungkiri. Aku merasa senang karena mendapat libur gratis seharian
ini. Semua teman-teman satu kelasku pulang ke rumah masing-masing.setelah
mendapat pemberitahuan dari pak dosen. Dan aku, tentunya aku pergi ke tempat
dimana terakhir kali aku bertemu dengan seseorang yang telah memberiku
inspirasi untuk memulai menulis sebuah cerita sebagai pemenuhan tugasku
–meskipun tugas itu belum selesai sepenuhnya-.
Aku tiba di tempat kemarin aku bertemu dia.
Seorang laki-laki tuna netra. Aku berpikir. Aku memikirkan sebuah tempat bagi
seorang tuna netra untuk menghabiskan jam-jam sepi harinya. Jembatan?.Taman?.Kebun
Binatang?. ataukah laki-laki itu bekerja?. Tidak. Sepertinya laki-laki itu
tidak memiliki pekerjaan. Buktinya saja kemarin dia menggerutu atas keadaannya.
Aku penasaran apakah dia sekarang berada di salah satu tempat yang aku sebutkan.
Segera aku pergi ke salah satu taman di Kota Bengkulu. Namun nihil. Entah atas
dasar apa, aku lalu beranjak melaju ke sebuah kebun binatang terbesar di kota
Bengkulu. Sebuah lahan seluas kurang lebih 20 hektare. Ditanami dengan berbagai
jenis pohon beringin dan pinus. Membuat udara dan suasana di sini sejuk dan
nyaman. Aku berkeliling memeriksa satu persatu bangku panjang yang berada
dibawah pohon dan di depan kandang hewan di sekitar kebun binatang ini. Hingga
setelah pencarianku selama kurang lebih lima belas menit. Aku menemukan seorang
laki-laki tengah duduk santai di sebuah bangku di depan kandang seekor reptile berbisa
terbesar di kebun binatang ini. Ahh.. itu
pasti orangnya.. terka ku dalam hati. Aku lalu mendekati orang itu. Dan
memang benar. Itu dia. Kali ini, aku sengaja mendatangi dia untuk mengucapkan
terima kasih.
“ Selamat siang. Pak. “ Sapa ku lebih dulu.
Laki-laki itu langsung menoleh kearahku.
Sekarang aku tak lagi terkejut. Dan tampaknya dia yang terkejut.
“ Apa kamu berbicara dengan saya? “ Tanya
nya sejurus kemudian untuk memastikan pendengarannya tidak salah. Bahwa ada
orang lain yang mengajaknya berbicara.
“ Ia, aku yang berbicara. Namaku El pak.”
Jawabku dengan nada datar.
“Tidak.. tidak.. jangan panggil aku pak.
Aku berusia 19 tahun. Hanya mataku saja yang tidak seperti mata kebanyakan anak
muda lain.” Jawabnya. Sedikit mengagetkanku memang.
“Oh, jangan bicara seperti itu. Semua orang
memiliki kekurangan pada diri mereka masing-masing. Termasuk aku sendiri. Aku sangat
sulit mendapatkan inspirasi ataupun ide untuk menulis. Entah itu sebuah
karangan, makalah, dan lain sebagainya. Sampai hari kemarin, aku bertemu dengan
anda.” Jawabku sedikit demi sedikit membocorkan tujuanku mendatanginya.
“Lalu, ada apa kamu kemari?” Tanya nya.
“Sebelumnya, ma’af jika aku lancang. Tapi,
boleh aku tahu namamu?” Tanyaku balik. Bermaksud lebih mengakrabkan diri.
“Aku Sin. Beritahu aku usiamu?” Tanya nya
lagi.
“Aku masih kuliah semester empat. Usiaku 19
tahun.” Jawabku.
“Lalu, ada apa kamu Kamari?” Dia mengulangi
pertanyaannya yang tadi. Yang kuingat memang belum aku jawab.
“Aku ingin mengucapkan terima kasih.”
Jawabku singkat.
“Untuk apa?” Tanya nya penasaran. Dia
tampak tidak mengerti. Aku mengerti, bagaimana mungkin seorang tuna netra dapat
membantu orang lain yang bahkan belum dikenalnya.
“Untuk inspirasi yang kamu kasih. Saat aku
mendengar pertanyaan kamu kemarin di sebuah bangku di pinggir jalan.” Jawabku
mengingatkannya.
“Ah, pertanyaan konyol itu? Ia.. aku ingat
pertanyaan itu. Bahkan bagiku itu tidak berguna. Mangkanya aku mengulangnya
berkali-kali.” Jawab Sin.
“Mengapa aku tidak bisa melakukan apa-apa?”
kataku. Tidak bermaksud bertanya. Hanya mengingat.
Tapi, aku tidak habis pikir. Sin lantas
menjawab kata-kataku yang dikiranya pertanyaan itu.
“Omong kosong. Kamu bisa melakukan apa
saja. Sekolah, bekerja, kamu bahkan bisa pergi ke manapun yang kamu mau. Dan
tentunya melakukan apapun yang kamu inginkan.” Katanya.
“Apa bedanya dengamu?. Jawabku.
“Aku buta. Berjalan saja aku terbatas. Aku
buta. Mustahil hidup kujalani.” Jelas Sin dengan nada sedikit tinggi. Aku hanya
termenung mendengarnya.
Entah apa aku mendatangi sosok yang sama
dengan yang kutemui hari kemarin?. Entahlah. Sulit dipercaya. Aku hanya bisa
berpamit untuk pulang setelah mendengar kata frustasi laki-laki itu. Mengapa
bisa, sebuah harapan patah hanya dengan satu kata?. Mustahil. Mengapa?.
Pertanyaan itu terngiang di kepalaku bahkan sampai aku tiba di rumah.
**
Menit berlalu begitu cepat, dua hari telah
lalu. Dan dua hari pula aku tidak berjumpa dengannya. Sin. Aku penasaran apa
yang sedang dia lakukan sekarang. Ohh..
duduk. Ya.. hanya itu yang ia lakukan. Pikiran liar itu muncul begitu saja
dan berlalu begitu saja. Aku kembali mencoba focus ke tulisanku. Seolah
inspirasi itu lenyap begitu saja. Hilang.
Aku bergegas pergi ke tempat awal
pertemuanku dengannya. Tempat awal ide menulis itu muncul. Sebuah bangku
panjang di sisi jalan raya. Tepatnya dari orang yang duduk di bangku itu. Aku
sampai, dan beruntungnya aku kali ini. Aku tidak perlu bersusah payah mencari
orang yang kumaksud. Dia tengah duduk menatap kosong kea rah jalanan yang ramai
penuh sesak kendaraan roda empat. Ya..
pastinya kosong. Buta. lagi-lagi pikiran tak bermoral itu muncul, dan
untungnya cepat hilang. Ada yang aneh, dia tidak sendiri. Ada seorang pemuda
lagi di sampingnya. Begitu sehat, berbanding terbalik dengan Sin. Setelah
kuperhatikan cukup lama. Aku memberanikan diri untuk mendekat. Kujabat tangan
pemuda itu. Hangat. Saat kusebut kata hangat dalam hatiku, itu berarti tubuhnya
lebih hangat dari manusia normal. Sontak aku berpikir bahwa pemuda itu tidak
sebugar yang terlihat.
Aku berkenalan dengan dengan pemuda itu,
dia memperkenalkan namanya padaku. Dengan nada datar namun tegas. Pemuda itu
memberitahukan namanya.
“Zu,.” Asing?. Ya, dia adalah anak pendeta
china yang sudah lama tinggal di Indonesia. Dan baru satu tahun tinggal di
Bengkulu. Jumpa pertama, dia sudah menceritakan semua kehidupannya padaku. Anpa
mengurangi rasa hormat, aku hanya mendengarkan ceritanya. Toh.. aku juga sedang mencari inspirasi. Untungnya aku datang ke
tempat ini. Bak memang sudah digariskan bahwa tempat ini sebagai media penumbuh
inspirasi bagiku. Entahlah. setelah lima belas menit lebih telah berlalu. Zu
menghentikan ceritanya. Lalu, hal yang sama sekali tak kuterka. Dia mengajukan
pertanyaan kepadaku dan Sin.
“Mengapa, mengapa aku tidak bisa melakukan
apa-apa?” Tanya nya. Tanpa tujuan. Dia menanyakan kepadaku dan Sin.
Aku sedikit histeris mendengar pertanyaan
itu. Mengapa?. Mengapa menanyakan pertanyaan yang sama dengan Sin?. Seolah dia
memiliki kekurangan yang jauh lebih banyak dari Sin.
“Apa maksdumu? Kau terlihat sangat sehat.
Postur tubuhmu ideal.” Jawabku. Meyakinkan bahwa penglihatanku tidak salah.
Terlihat Zu menyunggingkan senyum. Lalu
dengan suara lirih menjawab perkataanku.
“Sehat?. Terima kasih. Tidak ada yang
mengatakan aku sekarat ketika pertama kali bertemu.” Jawabnya.
Aku begitu kebingungan. Berusaha mencerna
perkataan Zu barusan. Sekarat?. Apa yang dia maksud, dengan sekarat?. Seolah
dia akan mati besok saja. Padahal, lihatlah dia. Badannya pun lebih berisi
dariku. Entahlah.
“Apa yang kau maksud dengan kondisimu yang
saat ini?” tanyaku penuh penasaran.
“Aku memiliki tiga dari 27 penyakit
mematikan dalam tubuhku. Leukimia, gagal ginjal, dan kanker pankreas. Sehingga
massa hidupku hanya tinggal enam bulan. Sekedar memberitahu, jika itu benar.
Maka hidupku hanya hari ini dan besok.” Tutur Zu datar.
Sepertinya Sin sama terkejut denganku. Dia reflex menatap Zu. Meskipun matanya
kosong. Aku menerka, andai dia normal, sekarang dia pasti sudah meneteskan air
mata. Aku terkaku. Setengah percaya. Setengah hatiku merasa tidak percaya atas
apa yang menimpanya. Karena, lihatlah dia. Begitu bersemangat. Penuh percaya
diri. Bagaimana bisa penyakit itu bersembunyi di balik tubuh yang hangat itu.
Entahlah.
“I’m sorry to hear that. Lalu, bagaimana
keadaan temanku ini?. Jika dilihat dari sudut pandangmu. Yang penuh dengan
kepercayaan untuk terus bertahan hidup. Dan siap menerima apa pun yang
terjadi.” Kataku. Sedikit menyelipkan pertanyaan jebakan. Sebagai wise untuk Sin, dari orang yang memiliki
bahkan kekurangan yang lebih banyak darinya.
“Hidup adalah jalan Tuhan. Tetapi menjalankannya,
itu tergantung diri masing-masing orang. Jika kita memikirkan sebuah langkah
yang sulit dalam hidup, kita akan mendapatkannya. Pun sebaliknya. So, Cara
terbaik untuk mendapatkan awalan dan akhir hidup yang baik adalah dengan
memikirkan langkah yang mudah,langkah yang enteng. Bukan langkah yang sulit dan
berat. Dalam menjalankan kehidupan. Dan Sin, dengan keterbatasanmu. Itu
seharusnya memacu kamu untuk tidak mengambil langkah sulit dalam menjalankan
kehidupan. Karena kamu sadar kalau kamu tidak mampu. Oleh karena itu, pikirkan
selalu langkah mudah untuk menjalani kehidupan setiap kali kamu dalam keadaan
yang sulit. Bahkan daun yang jatuh, tidak pernah membenci angin. Maksudku, apa
pun yang terjadi padamu, jangan pernah membenci pemberian Tuhan. Sekecil
apapun. Sedikit apapun. Seburuk apapun. Itu akan ada manfaatnya. Karena Tuhan
tidak pernah menciptakan suatu yang sia-sia.” Zu menghentikan perkataannya. Dan
menarik nafas dalam-dalam. Lalu memandang langit.
Aku tidak pernah merasa sedamai ini
sebelumnya. Entah atas dasar apa. Pikiranku berbalik ke masa lalu. Tepat saat
aku berusia 6 tahun. Kuingat, saat itu aku berada di ruang tamu. Menonton
televisi bersama ayah. Aku bertanya ke ayah, di mana ibuku berada?. Ayah yang
dengan datarnya menjawab kalau ibuku pergi meninggalkanku saat aku masih bayi.
Kubalas dengan bentakan keras serta makian yang tak pantas diucapkan kepada
orang yang lebih tua, dan sejak saat itu aku membenci sosok ibu. Lalu aku ingat
perkataan Zu tadi. Kehidupan kita yang
menjalankan. Langkah ringan atau berat. Itu merupakan pilihan. Ya.. Zu benar.
Mungkin sejak saat itu aku telah salah karena memilih jalan sulit menjalankan
hidup.
Aku bersyukur karena takdir telah
mempertemukanku dengan dua sosok paling istimewa dalam hidupku. Tentunya
setelah ayah. Sin. Zu. Mengapa?. Mengapa Tuhan menyuruhku untuk kemari dulu?.
Mengapa Tuhan menyuruhku ke kebun binatang kemarin lusa?. Dan mengapa Tuhan
menyuruhku kemari hari ini?. Itulah yang
dinamakan takdir. Begitulah yang aku pelajari dari Zu.
“Ehh.. ma’af aku harus segera pulang. Besok
aku ada jadwal check-up. Bye guys.
Nice to meet you all. Terutama kamu El, terima kasih sudah menjadi teman
terbaik yang pernah ada.” Kata-kata Zu barusan memecah suasana hening yang
sesaat tercipta setelah Zu menceritakan buah pikirannya terhadap Sin, yang aku
tanyakan padanya tadi. Zu berdiri setelah mengucapkan salam perpisahan dan
berjalan santai pulang ke rumahnya. Sin masih diam di tempat. Aku sedikit
mendekat padanya. Bermaksud hendak memulai percakapan, ternyata Sin memulai
duluan.
“Mengapa?. Ada orang setegar dia di dunia
ini?.” Tanya Sin padaku.
“Untuk meneguhkan jiwa kita orang yang
lemah.” Jawabku singkat.
“Selain itu?” Tanya nya lagi.
“Sebagai symbol yang membedakan, yang mana
makhluk Tuhan yang asli. Yang mana yang bukan.” Entah kalimat itu datang dari
mana. Aku bahkan tidak pernah memikirkan kalimat serupa itu dalam otakku.
“Kamu tahu? Dia benar. Aku selama ini
selalu memilih jalan sulit. Aku berusaha untuk menjadi orang normal. Kupikir
aku bisa. Ternyata tidak. Dan sekarang, aku akan mencoba untuk memikirkan jalan
mudah. Contohnya, aku akan kembali meneruskan mimpiku yang sempat tertunda…”
Sin tampak sengaja memutus perkataannya.
“Mimpi? Mimpi apa?.” Tanyaku sejurus
kemudian. Dan disusul oleh teriakan penuh antusian dari Sin.
“Menjadi penulis..!!.” Jawabnya.
Aku terpana mendengar jawaban Sin. Tak
kusangka dia ternyata penuh ambisi untuk menjadi penuli. Meskipun dengan
keterbatasan. Aku yakin dia bisa. Dan aku juga pasti bisa. Itulah yang kutahu
selalu diinginkan oleh ayahku. Aku bisa melakukan segalanya sendiri. Dan
membuktikannya.
“Mustahil” adalah kata yang aku dapat
setelah aku dengan sempurna mencerna perkataan Zu tadi. “Mustahil” dapat
digunakan untuk menjawab pertanyaan “Mengapa” yang memerlukan jawaban yang
panjang. Mengapa aku tidak bisa melakukan apa-apa? Jawabannya Mustahil. Dan,
bagi yang meragukan Sin. Yang di dalam otaknya tersimpan pertanyaan. Mengapa
bisa, orang buta menjadi penulis? jawabannya mustahil. Mustahil Sin tidak bisa
menulis. Karena yang dia gunakan untuk menulis adalah tangan bukan mata. -itu
adalah jawaban asli dari Sin, saat aku menanyakan tentang keraguanku padanya-
Terima kasih Tuhan, lewat perantara-Mu, Zu,
Engkau telah membuka pintu semangat yang menyimpan beribu mimpi dalam hati
kami. Dan Engkau membangkitkannya. Dan Zu, terima kasih sobat. Kau telah
menjadi pemimpin jalan kami. Aku dan Sin. Selamanya kita adalah sahabat.
