Selasa, 12 April 2016

The Gift


Pagi ini aku terbangun dari fantasi malamku, sejenak aku terdiam mencoba mengingat kembali alur demi alur cerita di dalam mimpiku tadi malam. Dan sampailah aku kepada satu bagian mimpi dimana aku bertemu seorang gadis nan rupawan yang tengah duduk di satu bangku panjang di sebuah taman kota, dari bawah kulihat kaki yang jenjang, tubuh yang meliuk indah nan ramping, gadis itu memiliki bola mata berwarna biru cerah dan mancung hidungnya kulihat. Dan takkan kulupa, rambutnya yang terurai lurus hingga bawah bahu menambah keindahan gadis itu dimataku. Aku mengenali gadis itu pikirku, namun satu hal yang pasti, aku tak bisa mengingat namanya.
Dan kemudian mimpiku berlanjut, sekarang aku berada dalam satu perayaan entah acara apa itu, mungkin pesta ulang tahun pikirku, karena di sekeliling ruangan tempatku berdiri sekarang penuh dengan dekorasi-dekorasi dari pita dan di tembok sebelah timur tepatnya yang berhadapan dengan pintu tertulis kata “Happy Birthday …”. Aneh, aku tidak bias melihat siapa nama orang yang tertulis di sana. Aku beringsut dari tempatku berdiri mencoba mencari sudut pandang lain agar aku bisa melihat nama orang yang sedang berbahagia itu. Tapi, semakin jauh aku bergeser semakin aku jauh dari kerumunan orang ramai, dan sama sekali tidak dapat mengetahui nama yang tertulis di tembok itu. Di sini, aku berdiri sendirian. Kulihat ke arah kanan, “ohh..ternyata itu kerumunan pesta tadi.” Pikirku. Ku lihat lagi sekeliling, tak ada siapapun aku benar-benar sendiri. Kecuali jika aku kembali ke sana mungkin aku akan berjumpa seseorang yang aku kenal. “Ah, tidak, aku lebih nyaman di sini. Sendiri, sunyi nan senyap. Ya, aku suka di sini.” Pikirku.
Beberapa saat berlalu dan aku masih sendiri, sampai seorang wanita berjalan perlahan ke arahku berdiri sekarang. Tidak telihat wajahnya Karena tempatku berdiri ini tak ada penerangan seperti di dalam ruangan sana. Yang terlihat hanya gaun putihnya yang semakin lama semakin jelas menunjukkan kalau penglihatanku memang tidak salah, itu memang adalah seorang wanita. Tapi, “hendak apa seorang wanita berjalan sendiri ke tempat gelap?.” Pikirku heran. Dan sebelum aku sempat menjawab sendiri pertanyaanku, wanita itu sudah sampai di hadapanku. Cantik. Dalam balutan gaun putih yang menutupi hingga ujung kaki itu, wanita itu kelihatan begitu cantik. Terpatung. Itulah satu kata yang sesuai menggambarkan keadaanku waktu itu.
“Hai..” sapanya lembut.
Entah apa yang ada di pikiranku kala itu, aku larut dalam lamunan sampai akhirnya dia menyapa untuk yang kedua kalinya.
“Hai, apa kamu baik-baik saja?” sapanya dan tampak sedikit khawatir.
“Uh, eh, iya, hai, aku..aku tidak apa-apa.” Jawabku terbata-bata. Aku merasa kikuk dan terlihat bodoh. Padahal aku sedang berada di hadapan seorang wanita cantik. “aku harap dia tidak merasa aneh.” Kataku dalam hati.
“Apa yang kamu lakukan di tempat gelap ini? Bukankah di sana lebih terang dan ramai?.” Katanya.
“Oh, iya, itu memang sebuah pesta, dan aku tidak tahu itu pesta siapa, atau bahkan aku tidak tahu apakah aku diundang ke pesta itu.” jawabku.
Kulihat sunggingan senyum di bibirnya. Kemudian dia melanjutkan percakapan.
“Apa yang membuatmu berpikir kalau kamu tidak diundang kesana?.” Tanyanya.
“Aku tidak tahu siapa nama orang yang tertulis di sana, -aku menunjuk ke arah tembok tempat tadi tulisan ulang tahun itu berada-. Aku juga tidak bertemu dengan orang bahagia yang ulang tahunnya sedang dirayakan itu.” Kataku.
Sekarang kulihat dia semakin sulit menahan tawanya. Sambil tersenyum dia berkata.
“Bagaimana mungkin kamu tahu nama orang itu, karena yang tertulis di sana adalah namamu.” Mendengar jawaban wanita itu aku hanya terdiam bingung.
“Ha?.” Aku bingung mendengarnya.
“Dan bagaimana mungkin kamu bertemu dengan orang yang sedang berulang tahun di sana, karena orangnya sedang berada di sini. Di hadapanku.” Kata wanita itu sambil memegang pundakku sebelah kanan.
Aku yang tadinya tertunduk, kemudian menatap wanita itu penasaran. Dan bertanya.
“Lalu, siapa kiranya nama orang yang sekarang berdiri di hadapanku ini?.” tanyaku.
Dengan senyum dia menjawab.
“Aku adalah gadis yang tadi kamu temui di taman. Aku ke sini hanya ingin mengucapkan selamat ulang tahun, dan memberikanmu ini,…” katanya lalu menyodorkan sebuah kotak berukuran tidak terlalu kecil ataupun besar. Kotak itu ringan. Aku mencoba menerka isinya, tapi, sepertinya tidak sopan menebak hadiah pemberian orang lain. Biar nanti kubuka saja.
“Terima kasih, aku sangat senang dengan ini.” Kataku, menunjuk kotak hadiah pemberiannya.
“Dan, apa yang kamu tanya tadi, semuanya ada di dalam kotak ini. “ lanjutnya kemudian berlalu pergi meninggalkanku sendiri di sini, di kegelapan ini.
Setelah gadis itu tak terlihat, aku mencoba membuka kotak hadiah yang tadi diberikan gadis itu sebagai hadiah ulang tahunku. Betapa terkejutnya.
“I..i..ini, ini kan...”
Aku mengambil hadiah dari dalam kotak itu dengan gemetar. Memegangnya dengan kedua tanganku. Sehingga menjatuhkan kotak yang kosong ke tanah. Topi. Sebuah topi. Itulah yang diberikan gadis itu padaku. Tapi, aku tahu itu bukan topi biasa. Itu adalah topi khusus, para Purna Paskibraka Indonesia. Terlihat di bagian depan topi itu adalah lambang kebesaran Paskibraka. Kemudian kulihat sisi kanan topi itu, tertulis di sana “PURNA PASKIBRAKA INDONESIA”. Ya, perkiraanku benar. Kemudian kulihat sisi sebaliknya dari topi itu, di sana tertulis nama dari pemilik topi. Yang tidak lain adalah gadis itu. Sebuah nama yang selalu mengingatkanku padanya. Nama yang selalumeng ingatkanku pada gadis pujaanku. “ELSA DAVA SELGIA”. Air mataku menetes, tak terbendung dan menangis. Sedih, bahagia, lalu terbangun dan menyadari kalau semua itu hanya mimpi.


Sejenak aku terdiam, sekarang aku sudah terjaga, dan semua fantasi indah itu menghilang. Semua kisah itu begitu nyata, dan aku bahkan bisa mengingat dengan jelas rupa gadis yang kutemui semalam, karena aku tidak pernah lupa. Takkan pernah lupa. Aku akan selalu mengingatnya. Tak kira berapapun masa  yang lewat, dia tetap dalam ingatanku, tetap berada dalam hati terdalamku, dialah gadis pujaanku. ELSA.