Senin, 29 Mei 2017

Puasa Terakhir



-Pukul 17:00 WIB, 78 menit sebelum waktu berbuka puasa-
              “Ndri, tolong beliin es batu di warung..!!” Teriak ibunya dari dapur.
Sebenarnya ia mendengar dengan jelas suara ibunya yang memanggilnya barusan, tapi seolah tak perduli dia kembali fokus pada gadget-nya. Hingga beberapa saat kemudian, ibunya tiba dikamar gadis itu.
              “Ndri, ini tolong belikan ibu es batu, bentar lagi udah mau buka puasa.” Kata ibunya begitu  lembut. Namun sepertinya gadis itu tetap tak ingin pergi.
“Ah ibu, Indri kan puasa, capek bu..” kata gadis itu malas.
Mendengar jawaban anaknya si ibu lantas keluar kamar dan membiarkan anaknya beristirahat. Gadis itu hanya menatap kosong melirik belakang ibunya yang perhalan menghilang seiring pergi keluar kembali menuju dapur.
              Kamar itu kembali sunyi, lantaran gadis itu tampak mengantuk dan terlihat merebahkan diri ke atas tempat tidurnya. Hawa panas begitu terasa meskipun hari telah menjelang senja. Memaksa gadis yang akrab disapa Indri itu menghidupkan pendingin ruangan hingga suhu terendah. Hingga tak lama kemudian ia terlarut dalam lelap dan melupakan kegerahan yang tadinya terasa.
               Menit berlalu tak disangka, bedug maghrib penanda usainya ibadah puasa hari itu hanya tinggal menunggu menit terakhir. Gadis itu pergi keluar kamarnya, berlari kecil menuju dapur. Matanya melilik kesemua arah, mencari seseorang yang tadi memintanya membantunya. Ibu.
               “Bu..” panggilnya. Kemudian duduk dimeja makan.
Tampak olehnya tudung nasi yang sudah rapi di atas meja itu. Tapi, tak dijumpainya sang ibu. Hatinya mulai resah, itu terlihat saat ia menompang dagunya. Seperti berpikir dan menerka kemungkinan dimana ibu sekarang berada.
              “Apa ibu pergi ke warung?.” Tanya nya dalam hati. “Ah, sebaiknya aku susul aja deh.” Lanjutnya kemudian.
               Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai di warung dekat rumah. Namun, dari kejauhan tidak ada sosok yang ia cari. Tapi gadis itu tetap mendekat memastikan.
              “Bu, apa tadi ibu saya kemari?.” Tanya Indri pada ibu-ibu pemilik warung.
              “Iya ndri, tadi ibu kamu kesini, dia beli es batu. Terus langsung pulang.” Jelas si pemilik warung.
Tampak gadis itu menunduk tak senang mendengar jawaban barusan karena jelas-jelas ibunya tidak ada di rumah. Ia kembali memikirkan tempat yang mungkin sekarang ibunya berada.
               “Baiklah, kalau begitu. Indri pulang ya bu. Terima kasih.” Katanya sopan kepada ibu pemilik warung itu. Dan si pemilik warung hanya tersenyum membalasnya.
               Bertambah risau hatinya, berjalan agak goyah pulang ke rumah. Ia tau kalau ibunya tidak ada di rumah bahkan saat ia tiba nanti. Kemana lagi harus ia cari. Sebentar lagi waktunya berbuka puasa. Gadis itu pulang sendirian menyusuri sepanjang jalan pulang sambil sesekali melirik kearah rumah tetangga, barangkali ibunya masih mengobrol dengan para ibu tetangga. Tapi, tak ada.

-Pukul 18:03 WIB, 15 menit sebelum berbuka puasa-
                Diliriknya arloji ditangannya, terlihat semburat senyum disana. Tampaknya itu bukan jam tangan biasa, ya memang bukan. Itu adalah hadiah pemberian ibunya saat ulang tahunnya yang ke-17 minggu lalu, tepatnya hari ke 3 puasa. Ya, gadis bernama lengkap Indri Ramadhania itu lahir bertepatan dengan hari-hari berat sang ibu yang tengah berpuasa. Matanya memerah sekarang, kemudian gadis itu berlari pulang kerumah.
               Berjarak 3 buah rumah dari tempatnya berdiri sekarang, dilihatnya rumahnya ramai orang. Aneh. Perasaan apa ini? Takut. Seketika itu buyarlah pikiran gadis itu, bayangan negatif yang sedari tadi berusaha dijauhkannya dari kepala sekarang berkumpul menakuti gadis itu. Ada apa ini?! Teriaknya dalam hati. Matanya membelalak. Perasaan cemas dan hawa yang dingin suasana senja dan rumah yang didatangi para tetangga. Jangan-jangan?!. Ia mematung didepan pintu, saat seorang bibi dari ibunya memeluknya. Pecah tangis gadis itu. Orang-orang hanya dapat melihat, seolah tak ada yang dapat membantu menenangkannya. Lalu sang bibi dengan nada bicara yang hampir tak terdengar mencoba memberitahukan Indri perihal semuanya.
              “Ndri, ini bibimu, ibu kedua kamu. Bibi sayang kamu sama seperti anak bibi sendiri. Mulai sekarang, kamu mau minta apaaa aja, bilang sama bibi ya?” ujar bibinya lirih.
Namun gadis itu tampak bingung dengan tatapan kosong, hingga kemudian bibinya menemani gadis itu masuk ke dalam rumah. Tak dapat dielak lagi, kembali pecah tangis gadis itu. Memekik ia kuat. Lemas tubuhnya seketika, terjatuh disamping tubuh sang ibu yang terbaring kaku. Dekapnya tubuh hampa itu kuat-kuat, diguncangnya bak membangunkan orang yang tengah tertidur. Tetapi, bukan tidur. Benar hanyalah jasad yang tertinggal itu. Sang ibu telah tiada. Mati rasa sekujur tubuh gadis itu. Memucat wajahnya, sang bibi yang duduk disampingnya sebagai penguat hanya dapat melihat tanpa berkomentar. Hingga benar saja, tak lama kemudian tubuh yang lunglai sejak tadi itu terhenyuh, jatuh ke lantai. Untung sang bibi sigap menangkapnya. Ditepuknya pipi gadis itu mencoba menyadarkannya.
                “Ndri.. Ndri.. heii.. nak.. bangun..” panggil bibinya.
Namun tak ada reaksi, begitu sedihnya dan hancurnya perasaan gadis itu. Bibinya mengetahui itu.
                “Ndri.. Indrii... bangun..” teriak bibinya lagi.
Tetap saja belum ada reaksi. Hingga tiba-tiba, gadis itu membuka mata. Dan..
                “Ibuu...!!!!!.” pekiknya tersadar.
                “A..apa.. apa ini?!!. Cuma mimpi?!.” Katanya begitu tersadar dari tidur. Gadis itu tampak sangat kebingungan. Apa yang baru saja terjadi? Benarkah ibu.. ibu.. ibu? Oh iya, ibu. Teriaknya dalam hati lalu melompat dari tempat tidur dan berlari ke dapur.
                “Ibuu..” teriak gadis itu.
                “Iya, ada apa?.” Balas sebuah suara dari dapur.
Terbelalak matanya, memerah menampung air mata. Berlari dan dipeluknya ibunya sat itu juga. Sang ibu yang tidak mengerti hal yang terjadi kebingungan.
                “Eh, eh.. ada apa ini??” tanya ibunya.
                “Indri sayang ibu.” Jawab gadis itu singkat.
                 Berdua itu lalu duduk di kursi meja makan, dengan mata yang masih berair, Indri meminta maaf pada ibunya.
                 “Bu, maafin Indri ya, Indri udah nakal gak mau nurutin kata-kata ibu tadi buat bantuin ibu beliin esa batu. Indri benar-benar minta maaf bu.” Ujar gadis itu.
Mendengar itu, lapanglah dada sang ibu. Meskipun tak tau persis yang terjadi, ibunya senang anaknya sekarang sudah tak gengsi meminta maaf atas kesalahannya pada orang tuanya sendiri.
                 “Indri janji gak bakal nakal lagi, Indri minta maaf bu.” Lanjutnya seraya menunduk.
Tampak ibunya bangun dari kursi, dan memeluk Indri erat.
                 Gadis itu sekarang tersadar dan banyak belajar dari mimpinya yang tadi. Entah seberapa beratnya halangan saat seorang ibu memintamu melakukan sesuatu, janganlah menolak dan berkata tak mau. Bersyukurlah saat masih ada orang yang hendak meminta bantuanmu, itu artinya dirimu dan hidupmu masih berarti. Hingga tak ada yang memintamu lagi, saat itulah hidupmu hampa. Kosong. Setidaknya begitulah yang Indri sadari, dan syukuri bahwa ini bukanlah puasa terakhirnya, bersama orang terkasihnya.

Kamis, 30 Maret 2017

Kembali, lagi..









                Aku sedang tak enak badan kala memaksakan jemariku untuk mengetik cerita ini. Harap-harap tak lupa setiap detilnya  kenangan itu, saat ketika aku bertemu untuk pertama kalinya dengan kedua sosok malaikat penjaga gadis pujaanku. ELSA. Ah! Kepalaku mumet, sesekali aku menyandarkan punggungku ke sandaran kursi menengadah ke atas berharap rasa nyeri ini cepat hilang, agar dapat segera menyelesaikan kisah ini.
                Berawal pada satu pagi, dimasjid sekolah. Aku baru selesai sholat dhuha hendak memasang sepatu untuk kembali ke kelas. Saat, seorang temanku memanggil. Aku mendekat menghampiri.
                “Ada apa?.” Tanyaku.
                “Bisa bicara sebentar?.” Kata Thoriq –teman satu angkatan, yang kebetulan sekelas dengan mendiang gadis pujaanku–. Begitu aku mengangguk mengiyakan, dia langsung menarikku mengingat tempat kami berdiri ini masih ramai siswa siswi yang bergantian sholat. Tampak ia tak ingin pembicaraan ini didengar orang lain, aku hanya mengikut saja.
                “Do, kamu ingat cerita yang kamu tulis tentang mendiang Elsa?.” Tanyanya. Aku mendengar pertanyaan itu sontak bingung. Apa yang terjadi? tanyaku dalam hati.
                “Iya, emang kenapa?.” Tanyaku balik.
                “Sebenarnya, cerita yang kamu tulis di blog itu sudah dibaca sama orang tuanya Elsa.” Jelasnya.
Betapa terkejutnya aku. Perasaan senang, bangga, tapi juga takut. Pasalnya, aku menulis karangan itu tanpa sepengetahuan dan izin dari orang tuanya. Gawat! Apa aku bakal dituntut?!. Segitunya khawatir aku akan apa yang bisa saja menimpaku. Namun, keterperangahan itu tak sampai di situ saja. Lebih tekejut aku mendengar kata-kata Thoriq berikutnya.
                “Do, ibunya Elsa, suka cerita kamu. Dan katanya dia sangat ingin bertemu langsung dengan si penulis. Emang sih, di blog kamu ada foto. Cuma, kamu tau kan, itu foto yang keliatan cuma mata doang. Lagian itu foto sok cool Do. Mangkanya ibunya pengen ketemu sama kamu.” Lanjutnya.
Mendengar itu, serasa terbang aku ke langit biru. Pasalnya, senang teramat aku mendengar ada orang yang sebegitunya menyukai karyaku samai-sampai ingin bertemu. Perasaan bahagia ini baru pertama kalinya aku rasakan. Akhirnya karyaku disukai orang lain!. Teriakku dalam hati.
                “Terus, kapan kita ke sana?.” Tanyaku. Aku menyebut kita karena tak mungkin bagiku untuk pergi sendirian. Aku tak sepercaya diri itu.
                “Iya, tidak sekarang pastinya. Mungkin lain hari, nanti aku kabari lagi.” Katanya. Aku hanya tersenyum mengiyakan perkataannya. Kemudian berlalu kembali ke kelas.
                Masuk ke kelas aku berlagak tak terjadi apa-apa. Sebab, tak ada yang tahu aku sering menulis di berbagai media dan blog selain aku. Aku bukan tipe orang yang senang mengumbar kepandaian. Aku juga bukan tipe orang yang kurang bersosialisasi. Aku adalah introvert, tapi aku belajar cara untuk mengendalikannya. Aku memanfaatkan kelebihan introvertku untuk menciptakan karya dengan mediaku. Pun, seorang yang introvert bukan tak bisa bersosialisasi hanya tak pandai. Aku selalu berusaha untuk tak ketinggalan laju perkembangan teknologi ataupun berita terbaru. Dengan begitu mudah bagiku untuk mencampur bersama teman-teman yang lain, dan juga dengan orang yang baru kutemui.
                Hari ini Jum’at, 13 Januari. Aku mendapat sms dari Thoriq, dia bilang hari ini semua teman kelasnya akan berkunjung ke rumah orang tua Elsa. Selepas sholat Jum’at nanti siang. Aku tak sabar menunggu jam demi jam lewat. Dia juga bilang selepas sholat langsung berkumpul di depan gerbang sekolah supaya bisa berangkat berbarengan. Aku hanya mengikut saja, toh aku tak tahu arah rumahnya. Kemudian..
Ah! Kepalaku mumet lagi. Bayangan hari itu ikut menghilang. Aku tak bisa melanjutkan cerita, kali ini kepalaku benar-benar pusing dan kurasa aku butuh istirahat. Aku membaringkan badanku ke tempat tidur berharap tidur akan memburamkan rasa nyeri ini. Kutatap laptop-ku di atas meja, cerita yang masih menggantung belum terselesaikan. Mau dikatakan apa, aku memang butuh istirahat bak beberapa jam. Kukosongkan pikiran, kutatap langit-langit kamarku, pikiranku melayang membawa serta jiwaku kealam bawah sadarku lebih cepat dari aliran sungai manapun. Aku terlelap dalam tidur sampai kemudian aku terhenyak dan terbangun. “Astaga! Sudah jam 4 sore, aku bahkan belum sholat ashar.” Kataku sambil memegang pelipisku. Segeralah aku mengambil wudhu dan sholat. Diakhir do’aku tak lupa kuhantarkan al-fatiha untuknya. Selesai itu semua, aku kembali merebahkan tubuh, dan menutup mataku.
“Eh, ternyata kamu disini. Kami udah siap berangkat nih!.” Kata Thoriq.
Aku yang masih setengah sadar mencoba mengenali tempatku berada sekarang. “Ini, perpustakaan. Aku di sekolah?.” Tanyaku dalam hati.
                “Lah, dia malah bengong. Jadi ikut gak nih!.” Kata Thoriq kemudian menyadarkan lamunanku.
                “Eh, i.. iya. Ikut.” Balasku tergagap. Pasalnya aku tak ingat kenapa aku bisa berada disini.
Sebenarnya aku sedikit gugup, sebab hanya aku orang asing disini. Aku bukan siapa-siapa sedang mereka teman sekelasnya. Aku takut kehadiranku akan mengganggu saja. Tapi, keinginanku untuk bertemu orang tuanya lebih besar dibandingkan ketakutan itu. “Haah.. sudahlah. Tak perlu dipikirkan, kalau memang mereka tak suka, ya pergi saja.” Kataku pura-pura memotivasi diri sendiri.
                Tak kurang sepuluh menit kami sekarang berada didepan sebuah rumah bercat kuning selaras dengan rumah disebelahnya. Kami masuk satu persatu, menyalami kedua insan berhati mulia yang menyambut dengan penuh ramah dan tawa. Kedua orang tuanya sangat baik, tak heran anaknya juga demikian baiknya. Kami dipersilahkan masuk dan duduk dikursi tamu di dalam rumah. Ada beberapa temanku yang diluar, tampaknya mereka lebih suka menikmati angin diluar sana. Aku duduk disebuah soffa panjang diruang tamu bersama dua temanku lainnya. Ibunya duduk di kursi lain sisi kananku. Kehangatan begitu terasa memadati ruangan ini. Keramahan ibunya yang dengan baik hati menyediakan air bagi kami semua. Aku jadi mengerti betapa kehilangannya mereka.
                “Oh, jadi ini nak Redho ya?.” Kata ibunya dengan senyum terbentang penuh keikhlasan padaku. Semakin guguplah aku. Tak lantang bicaraku dibuatnya. Jadi dengan tergagap aku jawab iya.
                “Kamu sepertinya anak baik, Elsa pasti sangat senang punya teman seperti kamu. Seperti kalian maksud ibu.” Lanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum mendengar semua pujian yang dilontarkan sosok pemurah hati didepanku itu.
                Sejak awal, perhatianku tertuju pada salah satu foto yang terpajang ditembok tepat diatas tempat ibunya duduk. Tak berpaling aku, memandangi penuh kerinduan pada gadis difoto itu. Bahkan setelah tahun berlalu, aku tak pernah lupa dengan lengkungan manis lukisan Tuhan yang tercipta di senyum seorang gadis nan cantik difoto itu.
                “Eh, ayo nak, diminum.” Kata ibunya membuyarkan lamunanku.
                “Eh, iya bu.” Aku membalas dengan senyum pula.
Untuk beberapa saat kami hanya diam, sampai ibunya kembali bercerita. Kami mendengarkan dengan sesekali tertawa, penuh emosi dalam setiap bait cerita ibunya. Temanku serius sekali memperhatikan cerita, aku juga mendengarkan namun perhatianku lebih tertuju pada foto-foto di sekitar ruangan ini. Terutama yang itu. Foto anak perempuan dengan baju merah disana. Begitu manis, begitu cantik. Saat aku baru saja akan hanyut kembali dalam lamunanku, ibunya yang sepertinya sedari tadi melihatku melihat foto itu berdeham.
                “Ya, itu adalah fotonya ketika masih kecil. Kalau tidak salah ibu itu saat umurnya 10 tahun. Waktu itu, dia masih kelas 3 SD.” Kulihat ibunya tersenyum sejenak mengingat masa itu sepertinya. Kemudian kembali menyambung cerita,
                “Dia anak yang periang, mudah bergaul. Dia juga tidak pilih-pilih kawan tapi senantiasa menjaga diri.” Lanjut ibunya. Tiba-tiba.. deg! Aku mati rasa. Kenapa aku seperti melihat sesuatu di belakang sana.
                “Kenapa do?.” Tanya ibunya tatkala melihatku terpelongo.
                “Uh, eh, nggak kok tante. Cuma tadi ngeliat ada yang lewat.” Kataku apa adanya.
                “Oh, mungkin itu si Willy, adeknya.” Jawab ibunya menenangkanku.
                “Hehe.. iya.” Kataku kikuk.
Andai yang kulihat tadi memang benar dia, kuharap dapat melihatnya lagi.
                Tak terasa hari sudah petang, kami mohon izin pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Sungguh pertemuan yang luar biasa dengan kedua malaikat penjaga gadis pujaanku itu. Aku harap ini bukan yang terakhir kalinya aku akan berkunjung kesini. Aku akan merindukan kehangatan keluarga ini.
                “Jangan bosan kemari ya, dan hati-hati di jalan.” Pesan ibunya ketika kami sudah siap berangkat pulang.
                Diperjalanan, aku masih terpikirkan kejadian aneh saat dirumah ibunya tadi. “Apa benar yang kulihat itu dia, atau itu haya halusinasiku saja? Mungkin karna aku terlalu berlebihan memikirkannya. Haah.. sudahlah.” Aku kembali memacu sepeda motorku, sesekali kumenatap langit dan tersenyum. “Aku tahu kamu disana sedang melihatku. I miss you.” Kataku dalam hati.
                Aku berhenti disebuah persimpangan lampu merah. Sepertinya ini sudah jam pulang kantor, sesak kendaraan memadati jalan.
                “Tunggu dulu, itu.. itu..” Aku tergugup tatkala melihat sosok gadis yang berada diseberang jalan sana yang sekejab hilang saat aku mulai menyebut namanya.
Aku mengedipkan mataku berulang kali. Tak percaya apa yang kulihat.
                “Elsaa..!!.” Teriakku berulang kali, namun yang kupanggil tak nyaut bak sekalipun.
                “Elsa.. Elsa.. Woi bangun woi..!!.” Teriak Rio, kakak sepupuku yang baru tiba dari Palembang.
Aku mengernyitkan dahiku. Mimpi? Hanya mimpi??
                “Lah, kok kakak disini??. Lah, aku?. Kok disini.” Kataku kelabakan kebingungan sendiri.
Kulihat kak Rio menggelengkan kepalanya.
                “Mimpi kau ya?. Haha.. mangkanya jangan tidur siang bolong.” Ledeknya.
Aku yang sekarang sudah sadar sepenuhnya hanya tertunduk masih tak percaya dengan semua yang kualami. “Apa benar itu semua hanya mimpi? Tapi kok nyata sekali?” kataku dalam hati. “Tapi kalau benar itu semua mimpi, berarti aku belum pergi dong kerumah orang tuanya Elsa?.” Masih dengan wajah kebingungan, kakakku duduk di kursi belajar tempat laptop-ku yang notabenenya masih menyala karena tadi hanya ku sleep-kan. Kulihat dia menyalakannya. Aku tak menggubris, aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
                “Ooh, jadi ini nama yang kamu teriakkan tadi?.” Katanya dengan senyum usil kearahku.
Aku menengadah sedikit, sekedar untuk merespon perkataannya.
                “Lah, tapi kok gak selesai?.” Dia kembali bertanya.
                “Tadi kepalaku pusing kak, jadi gak tau mau nulis apa.” Kataku sekenanya.
Kulihat dia mengernyitkan dahinya, mikirin apa dia? Terkaku dalam hati.
                “Tulis aja, mimpi kamu barusan.” Katanya sambil nyengir kambing.
Aku terkejut, bagaimana dia bisa tahu kalau aku tadi bermimpi tentang semua itu?. Haah.. sudahlah. Tapi, ada benar juga.
                “Ciee.. yang sampe kebawa mimpi??.” Katanya mengesalkan.
                “Apa si Lo..!!.” Teriakku dan melempar bantal yang ada disampingku spontan.
Segera setelah dia keluar, aku duduk di depan laptop-ku dan mencoba melanjutkan ceritaku. Kutulis semua mimpiku barusan, apa adanya.
                Terkadang, hal yang terberat dari melupakan adalah ketidak mampuan untuk menghilangkan bayangan yang indah dari masa lalu yang secara detil terukir dipikiran. Ketidak mampuan itulah yang membuat kita tidak bisa melupakan kenangan masa lalu dan seolah semuanya kembali, lagi..