Aku sedang tak enak badan kala memaksakan jemariku untuk mengetik cerita ini.
Harap-harap tak lupa setiap detilnya
kenangan itu, saat ketika aku bertemu untuk pertama kalinya dengan kedua
sosok malaikat penjaga gadis pujaanku. ELSA. Ah! Kepalaku mumet, sesekali aku menyandarkan punggungku ke
sandaran kursi menengadah ke atas berharap rasa nyeri ini cepat hilang, agar dapat segera
menyelesaikan kisah ini.
Berawal
pada satu pagi, dimasjid sekolah. Aku baru selesai sholat dhuha hendak memasang
sepatu untuk kembali ke kelas. Saat, seorang temanku memanggil. Aku mendekat
menghampiri.
“Ada
apa?.” Tanyaku.
“Bisa
bicara sebentar?.” Kata Thoriq –teman satu angkatan, yang kebetulan sekelas
dengan mendiang gadis pujaanku–. Begitu aku mengangguk mengiyakan, dia langsung
menarikku mengingat tempat kami berdiri ini masih ramai siswa siswi yang
bergantian sholat. Tampak ia tak ingin pembicaraan ini didengar orang lain, aku
hanya mengikut saja.
“Do,
kamu ingat cerita yang kamu tulis tentang mendiang Elsa?.” Tanyanya. Aku
mendengar pertanyaan itu sontak bingung. Apa
yang terjadi? tanyaku dalam hati.
“Iya,
emang kenapa?.” Tanyaku balik.
“Sebenarnya,
cerita yang kamu tulis di blog itu sudah dibaca sama orang tuanya Elsa.”
Jelasnya.
Betapa terkejutnya aku. Perasaan senang, bangga, tapi juga
takut. Pasalnya, aku menulis karangan itu tanpa sepengetahuan dan izin dari
orang tuanya. Gawat! Apa aku bakal
dituntut?!. Segitunya khawatir aku akan apa yang bisa saja menimpaku.
Namun, keterperangahan itu tak sampai di situ saja. Lebih tekejut aku mendengar
kata-kata Thoriq berikutnya.
“Do,
ibunya Elsa, suka cerita kamu. Dan katanya dia sangat ingin bertemu langsung
dengan si penulis. Emang sih, di blog kamu ada foto. Cuma, kamu tau kan, itu
foto yang keliatan cuma mata doang. Lagian itu foto sok cool Do. Mangkanya ibunya pengen ketemu sama kamu.” Lanjutnya.
Mendengar itu, serasa terbang aku ke langit biru. Pasalnya,
senang teramat aku mendengar ada orang yang sebegitunya menyukai karyaku
samai-sampai ingin bertemu. Perasaan bahagia ini baru pertama kalinya aku
rasakan. Akhirnya karyaku disukai orang
lain!. Teriakku dalam hati.
“Terus,
kapan kita ke sana?.” Tanyaku. Aku menyebut kita karena tak mungkin bagiku
untuk pergi sendirian. Aku tak sepercaya diri itu.
“Iya,
tidak sekarang pastinya. Mungkin lain hari, nanti aku kabari lagi.” Katanya.
Aku hanya tersenyum mengiyakan perkataannya. Kemudian berlalu kembali ke kelas.
Masuk
ke kelas aku berlagak tak terjadi apa-apa. Sebab, tak ada yang tahu aku sering
menulis di berbagai media dan blog selain aku. Aku bukan tipe orang yang senang
mengumbar kepandaian. Aku juga bukan tipe orang yang kurang bersosialisasi. Aku
adalah introvert, tapi aku belajar cara untuk mengendalikannya. Aku
memanfaatkan kelebihan introvertku untuk menciptakan karya dengan mediaku. Pun,
seorang yang introvert bukan tak bisa bersosialisasi hanya tak pandai. Aku
selalu berusaha untuk tak ketinggalan laju perkembangan teknologi ataupun
berita terbaru. Dengan begitu mudah bagiku untuk mencampur bersama teman-teman
yang lain, dan juga dengan orang yang baru kutemui.
Hari
ini Jum’at, 13 Januari. Aku mendapat sms dari Thoriq, dia bilang hari ini semua
teman kelasnya akan berkunjung ke rumah orang tua Elsa. Selepas sholat Jum’at
nanti siang. Aku tak sabar menunggu jam demi jam lewat. Dia juga bilang selepas
sholat langsung berkumpul
di depan gerbang sekolah supaya bisa berangkat berbarengan. Aku hanya mengikut
saja, toh aku tak tahu arah
rumahnya. Kemudian..
Ah! Kepalaku mumet lagi. Bayangan hari itu ikut
menghilang. Aku tak bisa melanjutkan cerita, kali ini kepalaku benar-benar
pusing dan kurasa aku butuh istirahat. Aku membaringkan badanku ke tempat tidur
berharap tidur akan memburamkan rasa nyeri ini. Kutatap laptop-ku di
atas meja, cerita yang masih menggantung belum terselesaikan. Mau dikatakan
apa, aku memang butuh istirahat bak beberapa jam. Kukosongkan pikiran, kutatap
langit-langit kamarku, pikiranku melayang membawa serta jiwaku kealam bawah
sadarku lebih cepat dari aliran sungai manapun. Aku terlelap dalam tidur sampai
kemudian aku terhenyak dan terbangun. “Astaga! Sudah jam 4 sore, aku bahkan
belum sholat ashar.” Kataku sambil memegang pelipisku. Segeralah aku
mengambil wudhu dan sholat. Diakhir do’aku tak lupa kuhantarkan al-fatiha
untuknya. Selesai itu semua, aku kembali merebahkan tubuh, dan menutup mataku.
“Eh, ternyata kamu disini. Kami udah siap
berangkat nih!.” Kata Thoriq.
Aku yang
masih setengah sadar mencoba mengenali tempatku berada sekarang. “Ini,
perpustakaan. Aku di sekolah?.” Tanyaku dalam hati.
“Lah, dia malah bengong. Jadi
ikut gak nih!.” Kata Thoriq kemudian menyadarkan lamunanku.
“Eh, i.. iya. Ikut.” Balasku
tergagap. Pasalnya aku tak ingat kenapa aku bisa berada disini.
Sebenarnya
aku sedikit gugup, sebab hanya aku orang asing disini. Aku bukan siapa-siapa
sedang mereka teman sekelasnya. Aku takut kehadiranku akan mengganggu saja.
Tapi, keinginanku untuk bertemu orang tuanya lebih besar dibandingkan ketakutan
itu. “Haah.. sudahlah. Tak perlu dipikirkan, kalau memang mereka tak suka,
ya pergi saja.” Kataku pura-pura memotivasi diri sendiri.
Tak kurang sepuluh menit kami
sekarang berada didepan sebuah rumah bercat kuning selaras dengan rumah
disebelahnya. Kami masuk satu persatu, menyalami kedua insan berhati mulia yang
menyambut dengan penuh ramah dan tawa. Kedua orang tuanya sangat baik, tak
heran anaknya juga demikian baiknya. Kami dipersilahkan masuk dan duduk dikursi
tamu di dalam rumah. Ada beberapa temanku yang diluar, tampaknya mereka lebih
suka menikmati angin diluar sana. Aku duduk disebuah soffa panjang
diruang tamu bersama dua temanku lainnya. Ibunya duduk di kursi lain sisi
kananku. Kehangatan begitu terasa memadati ruangan ini. Keramahan ibunya yang
dengan baik hati menyediakan air bagi kami semua. Aku jadi mengerti betapa
kehilangannya mereka.
“Oh, jadi ini nak Redho ya?.”
Kata ibunya dengan senyum terbentang penuh keikhlasan padaku. Semakin guguplah
aku. Tak lantang bicaraku dibuatnya. Jadi dengan tergagap aku jawab iya.
“Kamu sepertinya anak baik, Elsa
pasti sangat senang punya teman seperti kamu. Seperti kalian maksud ibu.”
Lanjutnya. Aku hanya dapat tersenyum mendengar semua pujian yang dilontarkan
sosok pemurah hati didepanku itu.
Sejak awal, perhatianku tertuju
pada salah satu foto yang terpajang ditembok tepat diatas tempat ibunya duduk.
Tak berpaling aku, memandangi penuh kerinduan pada gadis difoto itu. Bahkan
setelah tahun berlalu, aku tak pernah lupa dengan lengkungan manis lukisan
Tuhan yang tercipta di senyum seorang gadis nan cantik difoto itu.
“Eh, ayo nak, diminum.” Kata
ibunya membuyarkan lamunanku.
“Eh, iya bu.” Aku membalas
dengan senyum pula.
Untuk
beberapa saat kami hanya diam, sampai ibunya kembali bercerita. Kami
mendengarkan dengan sesekali tertawa, penuh emosi dalam setiap bait cerita
ibunya. Temanku serius sekali memperhatikan cerita, aku juga mendengarkan namun
perhatianku lebih tertuju pada foto-foto di sekitar ruangan ini. Terutama yang
itu. Foto anak perempuan dengan baju merah disana. Begitu manis, begitu cantik.
Saat aku baru saja akan hanyut kembali dalam lamunanku, ibunya yang sepertinya
sedari tadi melihatku melihat foto itu berdeham.
“Ya, itu adalah fotonya ketika
masih kecil. Kalau tidak salah ibu itu saat umurnya 10 tahun. Waktu itu, dia
masih kelas 3 SD.” Kulihat ibunya tersenyum sejenak mengingat masa itu
sepertinya. Kemudian kembali menyambung cerita,
“Dia anak yang periang, mudah
bergaul. Dia juga tidak pilih-pilih kawan tapi senantiasa menjaga diri.” Lanjut
ibunya. Tiba-tiba.. deg! Aku mati rasa. Kenapa aku seperti melihat sesuatu
di belakang sana.
“Kenapa do?.” Tanya ibunya
tatkala melihatku terpelongo.
“Uh, eh, nggak kok tante. Cuma
tadi ngeliat ada yang lewat.” Kataku apa adanya.
“Oh, mungkin itu si Willy,
adeknya.” Jawab ibunya menenangkanku.
“Hehe.. iya.” Kataku kikuk.
Andai yang
kulihat tadi memang benar dia, kuharap dapat melihatnya lagi.
Tak terasa hari sudah petang,
kami mohon izin pamit untuk pulang ke rumah masing-masing. Sungguh pertemuan
yang luar biasa dengan kedua malaikat penjaga gadis pujaanku itu. Aku harap ini
bukan yang terakhir kalinya aku akan berkunjung kesini. Aku akan merindukan
kehangatan keluarga ini.
“Jangan bosan kemari ya, dan
hati-hati di jalan.” Pesan ibunya ketika kami sudah siap berangkat pulang.
Diperjalanan, aku masih
terpikirkan kejadian aneh saat dirumah ibunya tadi. “Apa benar yang kulihat
itu dia, atau itu haya halusinasiku saja? Mungkin karna aku terlalu berlebihan
memikirkannya. Haah.. sudahlah.” Aku kembali memacu sepeda motorku,
sesekali kumenatap langit dan tersenyum. “Aku tahu kamu disana sedang
melihatku. I miss you.” Kataku dalam hati.
Aku berhenti disebuah
persimpangan lampu merah. Sepertinya ini sudah jam pulang kantor, sesak
kendaraan memadati jalan.
“Tunggu dulu, itu.. itu..” Aku
tergugup tatkala melihat sosok gadis yang berada diseberang jalan sana yang
sekejab hilang saat aku mulai menyebut namanya.
Aku mengedipkan
mataku berulang kali. Tak percaya apa yang kulihat.
“Elsaa..!!.” Teriakku berulang
kali, namun yang kupanggil tak nyaut bak sekalipun.
“Elsa.. Elsa.. Woi bangun
woi..!!.” Teriak Rio, kakak sepupuku yang baru tiba dari Palembang.
Aku
mengernyitkan dahiku. Mimpi? Hanya mimpi??
“Lah, kok kakak disini??. Lah,
aku?. Kok disini.” Kataku kelabakan kebingungan sendiri.
Kulihat kak
Rio menggelengkan kepalanya.
“Mimpi kau ya?. Haha.. mangkanya
jangan tidur siang bolong.” Ledeknya.
Aku yang
sekarang sudah sadar sepenuhnya hanya tertunduk masih tak percaya dengan semua
yang kualami. “Apa benar itu semua hanya mimpi? Tapi kok nyata sekali?” kataku
dalam hati. “Tapi kalau benar itu semua mimpi, berarti aku belum pergi dong
kerumah orang tuanya Elsa?.” Masih dengan wajah kebingungan, kakakku duduk
di kursi belajar tempat laptop-ku yang notabenenya masih menyala karena
tadi hanya ku sleep-kan. Kulihat dia menyalakannya. Aku tak menggubris,
aku sibuk dengan pikiranku sendiri.
“Ooh, jadi ini nama yang kamu
teriakkan tadi?.” Katanya dengan senyum usil kearahku.
Aku
menengadah sedikit, sekedar untuk merespon perkataannya.
“Lah, tapi kok gak selesai?.”
Dia kembali bertanya.
“Tadi kepalaku pusing kak, jadi
gak tau mau nulis apa.” Kataku sekenanya.
Kulihat dia
mengernyitkan dahinya, mikirin apa dia? Terkaku dalam hati.
“Tulis aja, mimpi kamu barusan.”
Katanya sambil nyengir kambing.
Aku
terkejut, bagaimana dia bisa tahu kalau aku tadi bermimpi tentang semua itu?.
Haah.. sudahlah. Tapi, ada benar juga.
“Ciee.. yang sampe kebawa
mimpi??.” Katanya mengesalkan.
“Apa si Lo..!!.” Teriakku dan
melempar bantal yang ada disampingku spontan.
Segera
setelah dia keluar, aku duduk di depan laptop-ku dan mencoba melanjutkan
ceritaku. Kutulis semua mimpiku barusan, apa adanya.
Terkadang, hal yang terberat
dari melupakan adalah ketidak mampuan untuk menghilangkan bayangan yang indah
dari masa lalu yang secara detil terukir dipikiran. Ketidak mampuan itulah yang
membuat kita tidak bisa melupakan kenangan masa lalu dan seolah semuanya
kembali, lagi..
