Sabtu, 31 Desember 2016

Sajadah Untuk Bunda : Firasat (BENAR atau SALAH)

Hasil gambar untuk gambar firasat







Kriiinggg….!!!
Aaaarrgghh….!!!
Suara deringan jam waker-ku beradu dengan teriakanku. Betapa terkejutnya aku, semua yang terjadi barusan hanyalah mimpi. Syukurlah. Kataku dalam hati. Aku masih memegang dadaku mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang sedari bangun tadi berdegup sangat cepat lagi kencang. Sungguh tadi itu adalah mimpi yang aneh namun begitu nyata. Ahh.. tidak.. tidak.. tidak.. jangan sampai mimpi itu jadi nyata. Itu hanya bunga tidur, ya.. itu tak berarti apa-apa. Aku memotivasi diriku sendiri. Kemudian bangun dan keluar kamar menuju dapur untuk mengambil segelas air.
                “Kamu udah bangun, Le?.” Tanya pamanku.
Aku hanya mengangguk. Tak mengeluarkan satu katapun.
                “Le, tadi paman dengar kayak kamu teriak. Ada apa?.” Tanya pamanku penasaran.
                “Eng, nggak kok. Cuma tadi mimpi aja, paman.” Jawabku sekenanya. Aku merasa tidak enakan bila harus menceritakan mimpiku pada pamanku ini. Aku takut itu akan menjadi beban pikirannya.
                “Oo..walah. Mimpi kok jerit-jerit.” Goda pamanku, lalu tertawa terbahak-bahak. Akupun ikut terbawa tawa paman. Sampai bibiku masuk ke dapur setelah kembali dari warung –setidaknya begitulah yang terlihat, dengan gula dan kopi di tangannya– dan bertanya.
                “Ada apa ini? Serunya..??.” katanya dengan senyum yang senantiasa terkembang dibibirnya.
                “Oh, tidak ada apa-apa.” Jawab paman kemudian.
Mendengar itu, bibi tampak sedikit manyun. Aku tahu dia hanya pura-pura. Oleh karenanya, bukannya malah bersalah, paman malah lanjut ketawa. Kami bertiga kemudian larut dalam hawa kekeluargaan yang terasa begitu hangat. Aku sangat menyayangi mereka berdua. Mereka adalah orang tuaku selama aku bersekolah disini. Aku selalu menuruti perintah mereka, tak ingin aku melihat mereka marah. Tak sampai hatiku mengecewakan mereka, yang telah susah payah membiayai sekolahku hingga lulus dari SMA.
                Dan sekarang tiba ditahun ketigaku tinggal di rumah paman, dan juga berarti tahun ketigaku bersekolah di SMA Negeri 2 ini. Tak terasa waktuku hanya sebatang korek api lagi. Seharusnya aku sudah bisa menentukan pilihanku sekarang. Tapi, kenyataan berbanding terbalik, sangat terbalik. Aku masih bingung memilih program studi lanjutan yang sesuai dengan bakatku. Aku berani bersumpah, selama ini aku banyak dihadapi dengan pilihan. Aku harus memilih terus sekolah atau bekerja membantu ayah. Aku harus memilih antara habiskan waktuku dengan bersantai atau terbirit-birit belajar. Namun, ini adalah pilihan terbesar bagiku. Pilihan yang paling berpengaruh menentukan kehidupanku selanjutnya. Mungkinkah aku akan terus mencapai derajat tinggi atau terhenti langkah dan mengecewakan orang tuaku. Kemudian, kalimat terakhir yang terlintas dibenakku itu menjadi pengingatku. Aku sudah berjanji untuk tidak akan pernah mengecewakan orang tuaku dan semua orang yang telah bersusah payah untukku. Aku pernah mendengar seseorang berkata, “Kerbau dipegang pada tanduknya, manusia dipegang pada janjinya”. Ya, aku tak akan menarik kata-kataku.
**
                “Hei,” sapa seorang siswi kelas dari belakang sambil menepuk bahuku, membuyarkan lamunanku. Kulihat dia, ternyata terkaanku benar. Lea. Dengan rambut sebahu terurai dan kalung alphabet menggantung di lehernya. Begitu cantik. Sungguh sempurna ciptaaan Tuhan yang satu ini.
                “Masih pagi. Udah ngelamun aja.” Lanjutnya dengan nada mengejek.
Namun, aku belum bereaksi. Aku hanya tersenyum menatap parasnya indah.
                “Hei,” kataku pelan, bahkan kuyakin tak terdengar olehnya.
Kulihat dia menuju bangkunya,  kemudian duduk manis disana. Sampai seorang guru masuk dan memulai kelas.
                “Good morning students!.” Sapa seorang guru muda –sepertinya mahasiswa pelatihan–
                “Good morning, Sir.” Jawab seisi kelas serentak.
Semua penduduk kelas melongo dan saling menatap satu sama lain, pasalnya tidak ada yang mengenali sosok guru yang tengah berdiri di depan kelas itu.
                “All right guys, I’m here to change Sir Ryan for a while. Because he had another job to do.” Lanjut guru itu. Namun kami hanya melongo bak keledai dungu. Sebab ini adalah pengalaman pertama bagi kami diajari guru muda nan fasih berbahasa inggris. Selama ini, Sir Ryan pun jarang berbicara dengan bahasa inggris saat mengajar. Hanya sesekali.
                “Any question?.” Katanya.
Mendengar itu kami saling menengok kiri kanan. Lalu, satu siswi mengangkat tangannya. Lea.
                “Sir, who is your name, Sir?.” Tanyanya memberanikan diri.
                “Aha! Good question. Anything else?.” Tanyanya lagi sebelum menjawab pertanyaan Lea barusan. Namun, hampir semua murid sekelas menggeleng. Memaksa guru itu menjawab pertanyaan Lea.
                “All right, my name is Marleon Padre Effendi. And you all can call me Leon.” Kata Sir Leon.
                “Sir, usia Sir berapa?.” Tanya Feru, salah seorang siswa di kelas.
                “Yup! Here’s the rule. First, only use English. Second, if any question, rise your hand and tell your name first. Okay?.” Katanya mencengangkan kami semua.
Mau tak mau kami mematuhi peraturannya. Pikir kami, toh dia hanya guru pengganti. Hanya sekali ini saja.
                “Yes, Sir!.” Jawab kami serentak.
                “All right, if there is no more question. I’m gonna ask you something. How much that you have learn about English so far?.” Tanya Sir Leon. Namun, tidak seorangpun menanggapi pertanyaan itu. Sampai Sir Leon melanjutkan pelajaran, ditulisnya di papan tulis.
                “CERPEN”
Kemudian dilontarkannya satu pertanyaan. Tapi sekali lagi, tak seorangpun menjawab.
                “How knows?.” Katanya. Semuanya menggeleng. Kemudian aku mengacungkan tanganku, meskipun tak yakin, aku memberanikan diri agar terlihat hebat di depan Lea.
                “Cerita pendek, Sir.” Kataku. Dan yang tak kusangka, ternyata jawabanku benar.
                “Short Story, or in Indonesian we known as cerpen. Ada yang tahu cerpen itu termasuk jenis teks apa dalam bahasa inggris?.” Katanya. Seketika itu seorang siswa langsung mengacungkan tangannya, tetapi bukan untuk menjawab pertanyaan Sir Leon. Melainkan ingin mengoreksi kesalahan bahasa yang diucapkan Sir Leon.
                “Katanya tadi gak boleh pakai bahasa Indonesia.” Kata Feru –dia memang terkenal nakal dan suka membuat onar–. Sontak semua yang di kelas tertawa. Dan yang mengejutkan ialah, Sir Leon bukannya merasa marah karena dipermainkan, tetapi  dia malah tersenyum. Aku bingung dengan apa yang sedang direncanakannya. Sampai dia menjelaskan.
                “Nah, gini dong. Semangat. Semuanya tertawa. Jangan jadikan peraturan saya sebagai beban. Tujuan dari semua itu tidak lain untuk memperlancar bicara inggris kalian. Bapak tidak akan marah dan menghukum kalian jika kalian terbata-bata saat berbahasa inggris. Justru yang bapak akan hukum, mereka yang tidak berani berbicara karena harus menggunakan bahasa inggris. Meskipun tadi hanya kesengajaan yang bapak buat untuk memancing semangat belajar kalian, tetapi bapak akui tetap bersalah. Kalian boleh menyebutkan sanksi yang tepat untuk bapak. Silahkan.” Katanya panjang lebar menjelaskan maksudnya sengaja berbicara bahasa Indonesia di tengah pelajaran bahasa Inggris tadi.
                Kulihat semuanya bergerombol selayaknya sedang berdiskusi. Memang diskusi. Memikirkan hukuman untuk Sir Leon. Memberi hukuman pada seorang guru? Cari mati. Sampai Feru kembali mengangkat tangannya. Tampaknya setelah menimbang berbagai kemungkinan hukuman yang bisa saja sesuka hati diberikan sang guru kepada mereka satu saat. Akhirnya mereka memutuskan untuk memberi hukuman yang ringan dan tidak menyinggung Sir Leon –yang kuyakin itu adalah ide dari siswi kelas, karena mereka tidak tega melihat guru muda ganteng itu dikerjai anak laki-laki kelas–.
                “Tidak menggunakan spidol saat mengajar, dan tidak ada pr.” Kata Feru senang sekali tampaknya.
                Mendengar itu, Sir Leon tampak berpikir sejenak. Agaknya itu hanya gimik, aku menduga.
                “Baik, tidak ada spidol. Tidak ada pr. Now let’s start the lesson.” Kata Sir Leon.
Sebagaimana tantangan dari muridnya, Sir Leon memenuhi janjinya untuk tidak menggunakan spidol selama mengajar. Namun, seperti yang kuduga, guru muda memang banyak akal. Tidak menggunakan spidol, dia menunjuk langsung murid kelas untuk menanyakan beberapa pertanyaan. Hadeeh..
                Tidak terasa dua kali enam puluh menit telah lewat. Sir Leon mengakhiri pelajaran hari ini dengan tidak memberikan tugas satu nomorpun. Wow, dia benar-benar menepati janjinya. Kataku kagum dalam hatiku. Sekali lagi aku melihat sosok yang mudah bergaul. Sama persis dengan orang yang kukenal dulu. Adi. Sahabatku. Sekali saja dia menatap mata orang lain, dia langsung akrab dan tanpa segan bergurau dengan orang itu.
                “Lagi-lagi aku iri melihat cara bergaul orang lain. Sir Leon. Adi. Mereka sangat hebat. Bisakah aku seperti layaknya mereka?.” Begitulah kalimat yang senantiasa terngiang di kepalaku. Memikirkan hebatnya orang yang mudah bergaul.
                “Hei, Le. Bengong aja kamu.” Tegur Boy memecah konsentrasiku.
                “Eh, gak apa-apa Lea!.” Ups! Aku yang terkejut malah keceplosan menyebut nama itu.
Kulihat Boy memicingkan matanya ke arahku. Aku yang salah tingkah mencoba mengalihkan percakapan.
                “Eh? Kenapa?!.” Kataku.
                “Lea? Kenapa dia? Pacar yaaa…??.” Tanyanya iseng. Tapi justru bagiku itu adalah pertanyaan jebakan. Aku khawatir jika aku beritahu Boy tentang perasaanku pada gadis itu, bisa-bisa dia ceritakan pada semua murid di kelas. Bisa malu besar.
                Ketika pion digerakkan maju satu langkah untuk memblokir laju pion lawan, yang justru menjadikan raja dalam bahaya. Saat seperti ini, hanya ada satu jalan keluar. Saling memakan. Dengan asumsi harus ada pion kedua untuk memperkuat posisi pion pertama yang telah maju duluan. Serangan pion pertama akan dengan mudah dipatahkan, saat seperti ini, fungsi pion kedua dimaksimalkan. Pion kedua memakan pion lawan agar ancaman terhadap raja hilang dan raja kembali tenang.
                “Boy, bisa jaga rahasia kan?.” Kataku kepada Boy yang masih dengan tampang anehnya sok mencurigai aku tadi.
                “Seenggaknya, baso aja.” Katanya kecakepan.
Aku hanya bisa menggeleng. Tapi, apa boleh buat. Daripada aku diketawai sekelas. Pikirku.
                “All right. Ntar.” Kataku menyanggupi syaratnya.
                “Bener ni ye..” katanya dengan cengir kuda terkembang lebar.
**
                “Assalamu’alaikum.” Teriakku dari pintu saat aku baru masuk ke dalam rumah. Namun tak ada yang menyaut. Aku berjalan ke dapur, kujumpai bibiku sedang menggoreng ikan, tampak sedap. Mengetahui ada yang datang, bibi memutar badannya dan tersenyum melihatku.
                “Udah pulang kamu Le,” katanya penuh keramahan di nada bicaranya.
                “Iya bi, kirain tadi gak ada orang di rumah. Oh ya, paman kemana bi?.” Tanyaku saat aku menyadari aku tak melihat paman dimanapun.
                “Oh, itu. Katanya ada urusan sama Pak Ramli. Bibi juga kurang tau urusan apa, Le.” Jelasnya.
Aku tak memikirkan apa-apa. Aku hanya berpamitan untuk masuk ke kamarku. Masuk ke dalam kamar, aku meletakkan tasku disandaran kursi. Melepas satu per satu kancing bajuku. Menggantungnya di belakang pintu. Merebahkan badanku yang penat ke atas kasur tipis yang bagaimanapun aku tetap harus berrsyukur aku tidak tidur beralaskan lantai. Tak butuh waktu lama, angin sepoi yang masuk lewat jendela yang sengaja kubuka selaras dengan tubuh yang penat. Memudahkanku hanyut dalam mimpi.
**
                Aku tengah berada di sebuah persimpangan di tengah persimpangan itu ada sebuah marka jalan yang menunjukkan arah dan tujuan dari tiap ruas jalan yang terbagi dua itu. Kiri, “KEBUN TEH, PANTAI PANJANG”. Kanan, “PUSAT KOTA, BANK SYARI’AH”. Apa ini? Apa maksudnya?. Aku kebingungan, tak seorangpun juga yang bisa aku tanyai di sini. Tempat apa sebenarnya ini, aku tak mengenalinya sama sekali. Apa yang ada di ujung jalan sana? Benakku.
                Tanpa kusadari, kakiku bergerak selayaknya orang tengah berjalan. Tapi anehnya, gerakan kakiku bukan aku yang mengaturnya, tanpa kusadari aku berjalan menuju persimpangan sebelah kanan. Apa kiranya yang kudapati di jalan yang menunjukkan “PUSAT KOTA”?. Entahlah, aku hanya terus bergerak. Tiba-tiba .. Ikuti saja kata hatimu, jangan berbalik. Suara itu muncul mengagetkanku, pasalnya tak ada satu sosokpun di sini. Suara itu juga tidak familiar di telingaku. Takut. Mungkin, tapi kali ini. Karena rasa penasaran melebihi apapun saat ini. Juga, firasatku mengatakan aku akan menemukan sesuatu yang baik diujung sana. Jadi, aku lebih memantapkan langkah kakiku. Tak peduli mungkin firasatku salah, aku hanya mengikuti suara misterius yang tadi menggaung. Ikuti kata hati, jangan berbalik. Aku mengartikan itu sebagai pertanda baik. Bahwa aku akan menemukan sesuatu yang mengejutkan disana, dan untuk mencapai itu semua aku tidak boleh ragu atau setengah-setengah dalam usaha menggapainya.
                Allahu akbar.. Allahu akbar..
                Suara adzan yang menggema dari pengeras suara masjid membangunkanku. Sedikit tersentak karena menyadari aku tidak dimana-mana. Dan tadi itu hanyalah bunga tidur. Duduk sebentar sebelum bangun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu dan melaksanakan sholat Ashar.

                Dalam khusyuk aku berdo’a. Semoga apa yang menjadikan keburukan bagiku dihindarkan dan apa yang menjadikan baik bagiku diwujudkan. Amin.

Selasa, 27 Desember 2016

Sajadah Untuk Bunda : Batu Loncat Pertama



“And when you want something, the universe conspire in helping you to achieve it”
Sebuah kalimat sederhana dari Paulo Coelho. Namun bisa menjadi sebuah cambuk raksasa bagi sebagian orang yang dapat melumat kata-kata itu dengan baik. Betapa beruntungnya mereka yang dilahirkan dari keluarga dengan segala kesempurnaan dan kecukupan materil. Berbanding terbalik dengan keadaanku yang terlahir di sebuah keluarga miskin, dengan segala kesulitan dan kekurangan di tiap harinya. Meskipun begitu, bersyukurlah aku mendapatkan orang tua yang rela berkorban segala demi mewujudkan citaku. Ayahku hanya bekerja sebagai buruh serabutan. Apapunakan ia kerjakan demi mengutip rupiah demi rupiah guna membiayai sekolahku. Sedang ibuku tak bekerja, kondisi fisik yang kian menurun akibat penyakit tumor payudara yang dideritanya membuat ibuku tak kuat jika harus ikut membanting tulang. Miris sering kali terasa olehku saat kulihat ibuku merasakan sakit yang kuyakin teramat itu. Sebenarnya, ibuku sudah menjalani operasi pengangkatan tumor payudara, namun itu sudah lama sekali. Operasinya berhasil, tumor itu dapat diangkat dan dikeluarkan dari tubuh ibuku. Namun, bak mengakar kembali, rasa nyeri sesekali menyerang ibuku, dan semakin sering belakangan ini. Tak putus do’aku tiap harinya, memohonkan kesembuhan atas penyakit yang dideritanya. Anak manakah yang tega melihat ibunya, surganya, sakit-sakitan.
            Usiaku baru menginjak 9 tahun saat aku duduk di bangku kelas 5 sekolah dasar di desa tempat asalku. Satu-satunya sekolah yang ada, dengan tenaga pengajar yang seadanya pula. Namun, cukuplah untuk menjadi batu loncatan bagi siswa siswi yang memang ingin merubah takdir keluarganya. Sejak kecil aku sudah diajarkan untuk tidak mengikuti jalan orang tua. Ayahku terutama, selalu mengingatkanku satu hal.
            “Hiduplah di jalanmu sendiri, jangan pernah kau bercita-cita menjadi seperti bapakmu ini. Berdirilah, tatap dunia.Terbanglah setinggi-tingginya dan angkat bapak sama ibumu ke tempat yang tinggi.”
            Begitulah selalu kata ayahku disela istirahat kerjanya. Ayahku rela berlumuran peluh, berhujamkan terik matahari, asal aku tak putus sekolah. Katanya ia tak menuntut apapun dariku, ia hanya ingin anaknya tak mengikuti jejaknya. Dan itulah yang memacu semangatku untuk terus belajar dan belajar, tanpa mengenal penat dan bosan. Keinginan merubah nasib kedua orang tua kujadikan cambuk pari yang menyadarkanku kala penat dan rasa bosan itu muncul.
            Tahun terakhir di sekolah dasar kulalui dengan baik, Alhamdulillah aku mendapat peringkat kedua siswa dengannilai ujian tertinggi di sekolah itu. Sekalipun begitu, aku tetap bangga karena setidaknya aku berhasil melewati batu loncat yang pertama. Dan tahun depan aku siap melanjutkan ke jenjang menengah. Pun aku sekolah di satu-satunya SMP di kabupaten, aku tetap optimis, dan tekatku untuk merubah keluarga tetap tertanam kuat.
            Libur sekolah selama dua minggu, kubuat sebagai persiapan memasuki lingkungan yang lebih berilmu. Hari pertama adalah masa orientasi siswa, hari itu kujadikan saat-saat untuk mencari teman yang kupastikan suatu saat akan berguna bagiku. Aku memang bukan tipe anak yang cepat bergaul, namun, keadaan memaksaku untuk cepat bergaul atau kau akan dikucilkan.
“Hoi, aku Ale. Salam kenal.” Kataku berlaga sok akrab pada seorang anak laki-laki yang tengah duduk sembari meneguk air minumnya.
“Hendrawan Dwiki Adiguna. Panggil saja Adi, atau kamu punya nama panggilan lain buatku, silahkan saja.” Katanya begitu ramah, sebenarnya aku sedikit terkejut. Pasalnya aku baru kali ini bertemu orang yang begitu santainya berkenalan dengan orang lain. Salut aku melihat anak itu, andai aku juga bisa sepercaya diri dia. Lama kami berbincang, saling mengenal satu sama lain. Hari-hari berikutnya Adi –begitulah kuputuskan untuk memanggilnya– menjadi teman baikku sekaligus sahabatku.
**
            Masa remajaku berlalu seiring bertambahnya usia. Usiaku menginjak 16 tahun sejak dua minggu yang lalu, dan sekarang aku duduk di kelas 3 di salah satu SMA di kota. Aku pindah ke kota dan menetap bersama nenekku dan beberapa anaknya yang tidak lain adalah adik dari ibuku. Aku disini untuk melanjutkan sekolahku. Selain itu, bersekolah di kota lebih menjamin keberhasilanku untuk bisa masuk ke perguruan tinggi yang akan menuntunku pada kesempatan kerja yang lebih layak. Setidaknya begitulah kata ayahku sesaat setelah aku memberitahukannya rencanaku untuk melanjutkan SMA di kota. Aku sangat bersyukur dilahirkan di keluarga yang begitu pengertian padaku. Aku ingat salah satu teman SMP ku dulu, dia awalnya anak yang rajin. Namun, semenjak kedua orang tuanya berpisah, dia berubah 360 derajat. Dia mulai bolos sekolah, menjadi pemalas, ribut dengan guru sudah menjadi kebiasaannya. Entah apa yang terjadi padanya sekarang, aku tidak begitu tahu. Dari sanalah muncul motivasiku untuk tidak akan pernah berniat mengecewakan orang tuaku yang sudah susah payah mencari uang untuk membiayai sekolahku.
            Tahun pertama di SMA, tidak begitu buruk. Sebab, ada beberapa orang yang sudah kukenal, mereka ialah teman-temanku waktu di SMP dulu. Dan sekarang mereka juga mendaftar di SMA tempatku ini. Tapi, yang aku sedihkan, Adi tidak mendaftar disini. Dan aku juga tidak mendapat kabar apapun dimana tepatnya ia sekarang. Yang aku tahu, dia setelah kelulusan langsung pindah ke Lampung. Katanya ingin melanjutkan SMA di sana.
            Hari ini Selasa, dalam diam aku sayup-sayup mendengar teman wanita di kelasku bilang kalau hari ini guru olahraga tidak masuk. Kudengar juga alasannya karena dia sedang ada acara, semacam pernikahan? Aku tidak begitu dengar. Sudahlah, yang jelas ada jam kosong hari ini. Dengan begitu, aku jadi punya waktu untuk menyelesaikan cerita pendek karanganku ini.Aku mulai hobi menulis sejak ada seorang novelis yang datang ke sekolahku beberapa hari yang lewat. Dia bercerita bagaimana sebuah inspirasi dapat muncul, dan bagaimana menggerakkan tangan untuk menuangkan cerita itu ke lembaran kertas. Dia juga bilang kalau …
            “Hei, apaan tuh?!” Tanya Boy langsung menarik kertas yang ada di atas mejaku.
Boy, begitulah dia dipanggil. Nama aslinya Rahmat Andika. Tidak ada yang istimewa darinya. Tidak. Selain motornya, dan dari sanalah muncul nama Boy dalam kehidupannya. Karena motor. Bermodalkan motor yang mirip dengan yang dimiliki artis di tv, dia menjadi tenar bahkan dipanggil dengan nama yang sama.
            “Ohh.. nih.” Lanjutnya setelah melihat apa isi yang tertulis di kertas itu dan menyerahkannya kembali padaku.
            “Kamu hobi nulis ya?.” Tanyanya lagi.
            “Iya.” Jawabku singkat.
            “Lalu kenapa nggak kamu kembangin?.” Usulnya.
            “Aku mana punya komputer atau laptop, gimana caranya aku nyebarin ke orang orang?.” Tanyaku kemudian.
Kulihat dia berpikir sejenak. Kemudian mengacungkan jari telunjuknya.
            “I have an idea. Aku punya laptop, kamu bisa pakai kapanpun kamu mau!.” Serunya.
Aku sedikit terkejut mendengar hal itu. Aku hanya terdiam tak berkata apa-apa.
            “Kenapa?.” Tanyanya melihatku yang termenung.
            “Oh, eh, tidak. Apa tidak salah tawaranmu itu?.” Tanyaku masih tidak percaya.
            “Why not. You are my friend. Lagian, kamu juga selalu baik. Kamu gak pernah nolak saat aku minta bantuan.” Jelasnya.
Aku mengingat-ingat kejadian yang dia bicarakan. Lalu, ohh..jadi ini yang dimaksud ayah, kebaikan akan berbuah manis pada waktunya. Aku mengerti sekarang.Terima kasih ayah.
            Aku merasa sangat beruntung. Mendapat teman yang baik, dan selalu membantu disaat aku tengah dalam kesulitan.
            “Oke. Besok aku bawa laptopnya. Dan kalau kamu sudah punya cerita untuk diposting. Aku bakal bantu kamu nge-post biar diliat banyak orang.” Katanya sungguh-sungguh.
Aku berterima kasih padanya, setelah semua yang dia lakukan hari ini. Meminjamkanku laptopnya, mengajarkanku membuat blog, cara memposting cerita di blog, dan mencarikan blog serta lowongan untuk penulis pemula sepertiku.
            Aku menoleh ke arah jendela, menatap kedepan masa depanku. Akan kumulai dengan cerpen, lalu novel, lalu akan kulanjutkan dengan sebuah buku. Do’aku hari ini, lancarkanlah jalanku menjadi penulis terkenal. Amin.
**
            Minggu pertama sejak naskah cerita pendek pertamaku dipublish. Sudah ada 30 pembaca. Meskipun begitu, aku yakin dalam waktu satubulan akan bertambah banyak. Sekarang, hari-hariku disibukkan dengan menulis cerita baru. Aku tak melupakkan sekolahku, aku hanya menulis dikala ada waktu luang. Sampai satu ketika ..
            “Ale, liat nih!!.” Seru Boy dari arah  pintu.
            “Apaan?.” Jawabku singkat.
            “Nama kamu masuk dalam 10 penulis muda kreatif versi DailyTeen. Wow..!! keren kamu Le.” Kata Boy.
Aku yang tidak mudah percaya kemudian melihat handphone Boy dan benar. Namaku tertulis disana. Alexander Milo. Wow!! Aku hebat!!.
            Seminggu kemudian, aku mengirimkan naskah cerita pendek karanganku ke salah satu penerbit yang sedang mengadakan lomba bagi penulis pemula. Awalnya aku diberitahu oleh Boy, katanya hadiahnya lumayan. Mendengar itu, aku jadi termotivasi dan ikut mengirimkan naskah. Siapa tahu aku beruntung. Deadline pengiriman sudah lewat, tibalah saatnya untuk pengumuman nama-nama pemenang lomba cipta cerita pendek itu. Aku hanya bisa pasrah kepada Tuhan, karena dialah pengatur rezeki. Kalau memang ini jalanku, aku bersyukur. Kalau memang bukan, aku akan berusaha lagi di tempat lain.
            Aku tengah mengetik sebuah kalimat untuk naskah cerita pendek terbaruku, saat Boy masuk dengan muka tertunduk melangkah ke arahku.
            “What’s happen? Kenapa?.” Tanyaku penasaran.
Namun dia hanya menggeleng. Aku semakin penasaran. Lalu dia menunjukkan handphone-nya dan berteriak.
            “You win!! Kamu menang. Juara 2 lomba cipta cerpen bulanan DailyTeen.” Katanya mengagetkanku.
Aku terperangah. Benarkah? Aku menang?. Aku tidak tahu harus bicara apa. Aku hanya bisa berterima kasih kepada Tuhan.
            “Lihat ini!.” Sambungnya.
Aku membaca tulisan di handphone itu. Juara 2 mendapat hadiah Rp 250.000,00 dan karyanya akan dipublikasikan.
            “Wow! Hebat sekali!.” Kataku senang.
Aku tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Mulai sekarang aku akan lebih rajin lagi dan terus mengasah kemampuanku dalam menulis.
**
            Masa SMA merupakan masa-masa transisiku. Aku mulai dikenal banyak orang terlebih karena karyaku yang masuk dalam deretan sepuluh besar di berbagai penerbit tiap minggunya. Aku beranjak dari kelas X ke kelas XI dan ke kelas XII. Sekarang aku berada ditahun terakhirku bersekolah disini. Aku mulai jarang menulis sebab harus mempersiapkan diri untuk ujian nasional yang akan menentukan apakah aku akan lanjut ke jenjang yang lebih tinggi dengan karir yang mengikuti, atau aku akan terjebak disini dan memalukan orang tuaku.
            “Hei,.” Sapa salah seorang siswi kelas, tatkala melihatku termenung.
            “Ada apa?.” Tanyanya kemudian.
Dia Lea. Elea Cantika. Salah satu gadis pujaan di sekolah. Dia menyapa duluan membuatku merasa tak enakan jika tidak menjawab pertanyaannya. Jadi, aku jawab sekenanya saja.
            “Tidak, aku hanya takut membayangkan kedepannya aku jadi apa.” Jawabku.
Mendengar jawaban itu, ku lihat dia ikut termenung. Menatap kosong ke depan.
            “And when you want something, the universe conspire in helping you to achieve it.” Katanya sejurus kemudian.
Aku memiringkan kepala, dan menatapnya.
            “Paulo Coelho.” Katanya mengingatkanku. Tampaknya dia menyadari kalau aku lupa kata-kata itu dari siapa.
            “Uh, ya. Lupa.” Jawabku sedikit kikuk.
Entah karena reaksiku atau apa. Kulihat dia tertawa kecil. Dan menutup mulutnya. Cantik sekali. Perbedaan status diantara kami cukup menjadi pemisah dan penyedarku untuk tidak macam-macam dengan gadis itu. Orang tuanya memiliki segalanya, sedangkanku tidak. Aku harus sadar diri. Begitulah selalu terngiang di kepalaku ketika aku mulai merasakan jantungku berdegup kencang saat bersama Lea.
            “Hei, kamu udah makan belum?.” Tanyanya dan tanpa jawaban dariku ia langsung menyeretku ke kantin.
**
            Dalam diam dan sepi, aku terbayang sosok ayahku dan ibuku yang entah sedang kerja apa, yang kuyakin tidak mungkin diam saja di rumah. Aku berdo’a selalu kepada Tuhan agar diberikan-Nya kesehatan dan dirawat-Nya kedua orang tuaku.Karena aku belum bisa pulang ke desa karena masih harus menunggu ujian dan kelulusan. Mungkin libur nanti, selayaknya libur sekolah tahun-tahun sebelumnya, aku selalu pulanguntuk berjumpa dengan orang tuaku.
            Tok..tok.. tok..
            Bunyi ketukan pintu mengagetkanku. Terdengar suara pamanku dari luar pintu.
            “Le, kamu sudah makan belum?.” Tanyanya dari luar tanpa membuka pintu.
            “Sudah,” jawabku dari dalam kamar.
Tidak terdengar lagi suara pamanku di luar sana, agaknya dia sudah pergi. Akupun kembali terlarut dalam lamunanku. Udara sejuk yang masuk ke dalam kamar membuatku betah. Aku berdiri menatap ke luar jendela sebentar, lalu merebahkan tubuhku ke atas kasur. Menatap langit-langit kamar, akupun terlelap.
**
            Hari ini Selasa, 14 Juni. Setidaknya begitulah yang tertera di arlojiku. Kutatap arloji pemberian ayahku –dulu sewaktu aku akan berangkat ke kota– itu. Aku berdiri di muka gerbang sekolahku. Sekarang adalah hari penentuan bagiku. Apakah aku akan melanjutkan mengejaar mimpiku atau berhenti sekarang.
            “Now or never.” Kataku dalam hati.
Sesaat kemudian, ada seorang gadis yang sudah kukenal sekali. Lea. Dia tersenyum ke arahku.
            “Hai, kamu siap?.” Katanya.
            “For what?.” Tanyaku lugu.
            “For today, kita akan lulus dan pergi dari sini secepatnya.” Katanya begitu bersemangat.
Namun, ada begitu besar keraguan dalam diriku. Perasaan takut akan keputusan sekolah begitu lekat menghantui pikiranku.
            “Entahlah.Bagaimana kalau aku belum siap?Bagaimana kalau aku tidak bisa menerima keputusan dari sekolah? Dan..dan bagaimana kalau aku tidak lulus?!.” Kataku dan tanpa sadar nada bicaraku meninggi.
Kulihat Lea hanya diam, aku merasa bersalah.
            “Ma’af aku berteriak padamu.” Kataku kemudian.
            “Ya. Setidaknya kamu harus optimis.” Jawabnya menenangkanku.
Kami berdua lalu masuk ke dalam sekolah dan satu yang kami tuju. Ruang guru. Kami berjalan kesana untuk melihat daftar nama siswa yang lulus di papan pengumuman di samping ruang guru.
            Kelompok IPA. Tidak. Kelompok IPS. Ini dia.
Aku dan Lea memperhatikan satu persatu nama yang tertulis di daftar itu. Daftar itu acak, dimulai dari nama dengan nilai tertinggi. Yang kutahu bukan namaku.
            Adinda Putri, Suryati Rahma, Jogi Saut, Halimah Hassan, Grace Margaretha, Muhammad Aldhany, Elea Cantika. Aku berhenti membaca sejenak, lalu menatap ke orang di sampingku.
            “Hei, selamat.” Kataku.
Kulihat dia hanya tersenyum. Aku kembali ke daftar tadi. Kembali membacanya dalam hati.
            Nabila Meisaputri, Muhammad Fauzan, Irfan Fathurrahman, Tea, Jihan, Athira, Zahid, Irfan Hadiansyah, Nurul Aini, huft.. aku mulai lelah. Tapi aku tetap meneruskan membaca daftarnya, sampai kepada urutan terakhir. Aku tidak kunjung menemukan namaku. Deg! Jantungku serasa berhenti berdenyut. Darahku serasa berhenti mengalir.
            “Hei,” kata gadis yang berdiri tepat di sisiku.
Aku tak menanggap. Kemudian, ..
            “Hei, kamu gak apa-apa?.” Tanyanya kemudian, sambil memiringkan kepalanya mencari mataku.

Aku tertunduk, lalu terduduk lemas. Kakiku mati rasa. Apa ini?!. Aku tidak, LULUS??. Aku ingin teriak. Tapi, tubuhku kelewat lemas, aku mulai lunglai. Dan, .. MATI.

Selasa, 13 Desember 2016

“ Putri Tidur dan Pangeran Impian “





                Hawa dingin begitu terasa, matahari belum menampakkan dirinya. Ia masih larut dalam lelap. Tak menghiraukan dinginnya pagi, ditariknya lagi selimut itu menutupi seluruh tubuh sampai kemudian terdengar suara ketukan dari pintu.

                Tok .. tok .. tok ..

                “Ila.. bangun nak, sudah pagi. Hari ini Senin. Kamu harus cepat berangkat ke sekolah. Kalau tidak, kamu bisa terlambat upacara.” Kata ibunya dari balik pintu.
Namun, melihat tak ada tanggapan dari dalam kamar, ibunya lalu masuk.
                “Heeh.. anak gadis. Bangun dong..” seru ibunya sambil membuka tirai jendela kamar membiarkan sinar matahari yang masih sayup-sayup jingga masuk ke dalam kamar. Merasa matanya silau, Laila pun terbangun. Ibunya sudah kembali ke dapur. Segera diraihnya handuk dan masuk ke dalam kamar mandi.
                Hari ini sama seperti hari senin biasanya, tidak ada yang istimewa. Tidak. Tunggu dulu?? Hari ulang tahunku?? Tidak. Itu sudah dua minggu yang lalu. Pikirnya melayang entah kemana di depan cermin. Sampai ibunya kembali lagi ke kamar dan membuyarkan lamunannya.
                “Eh .. kok malah bengong? Ayo, udah siap belum. Tuh dimeja udah mama siapkan sarapan. Ayo cepat!.” Kata ibunya.
Sontak Ila langsung menarik tasnya dan keluar kamar untuk sarapan terlebih dahulu. Dilihatnya sepiring nasi goreng di atas meja buatan ibunya itu. terlihat enak. Tentu saja, masakan ibunya memang menjadi menu favorit Laila. Tak peduli apapun yang dimasak, yang terasa hanya sensasi lezat dari makanan itu. oleh karena itulah Laila sangat mengidolakan sang ibu.

**
                Jarak dari rumah ke sekolah yang berdekatan membiasakan gadis yang baru saja berusia 17 tahun ini berjalan kaki menuju sekolahnya. Hanya dalam hitungan menit, ia sudah menginjakkan kaki di depan pintu kelasnya.
                “Woi .. woi .. baru udah disapu niih..!!” teriak Della. Irish Della. Salah satu teman kelas Laila yang pada hari ini tengah piket kelas, dan merasa kesal karena lantai yang barusan ia sapu diinjak oleh Laila dan menjadikan lantai itu kotor lagi.
                “Iya.. iya, ma’af. Gak sengaja.” Jawab Laila tak mau kalah. Lalu duduk di kursinya. Dikelas sudah ramai, hanya beberapa siswa yang belum datang. Salah satunya teman sebangku Laila. Bernama lengkap Handio, dikenal karena sering telat. Namun hebatnya, Dio –begitu ia dipanggil– tidak pernah mendapat hukuman. Bukan karena ia anak guru atau kepala sekolah, melainkan karena dia tahu banyak jalan tikus masuk ke sekolah. Setidaknya begitulah yang selalu dibilangnya saat teman-teman lain bertanya tanpa memberi keterangan yang jelas dimana jalan rahasia itu. baru hendak Ila menanyakan Dio dengan temannya, orang yang dimaksud telah tiba.
                “Hei, tumben kamu nggak telat?” tanya Laila menggoda.
                “Eh, kamu lupa ya? Hari ini aku piket. Dan lagi, mana mau aku membuang sia-sia uang jajanku untuk membayar denda hanya karena tidak piket. Mending buat beli baso di kantin.” Jawab Dio. Laila yang mendengarnya hanya menggeleng. Dalam hatinya, begitulah Dio, sekalipun pemalas, tapi tidak pernah melanggar peraturan –selain telat, pastinya– pakaiannya pun selalu rapi, tidak seperti brandalan yang bajunya dikeluarkan dengan rambut acak-acakan.
                Jam di dinding menunjukkan pukul 07:15 WIB. Bel tanda mulai upacara berbunyi. Saatnya seluruh siswa siswi ke lapangan kecuali mereka yang ingin dibariskan di depan tiang bendera karena telat ke lapangan.
**
                Selesai upacara, semua siswa kembali ke kelas, tak terkecuali Laila. Bersama kedua teman wanitanya, ia berjalan santai menuju kelas. Sesampainya di kelas, mereka duduk dibangku masing-masing dan menunggu guru masuk dan belajar. 15 menit berlalu, namun belum ada tanda-tanda guru mata pelajaran akan masuk. Suasana kelas mulai tak hening lagi seketika berubah menjadi riuh pasar. Ada yang mengelompok membahas game, ada juga yang ngerumpi.
                “Eh, Della. Bu Nur kemana sih?!” tanya Laila ke Della. Tampaknya hanya Della yang tidak ikut mengelompok. Namun Della tak menjawab. Tak berapa lama kemudian, orang yang mereka tunggu-tunggu pun masuk. Tapi .. siapa itu? kata Laila dalam hati. bu Nur masuk kelas tidak sendirian, ada seorang anak laki-laki di sampingnya.
                “Pagi anak-anak. Ma’af ibu sedikit terlambat masuk kelas, tadi ada urusan dikit di ruang kepsek.” Kata bu Nur menjelaskan keterlambatannya.
                “Dan, hari ini kalian memiliki teman baru. Baik, sekarang silahkan kamu perkenalkan diri sama teman-temanmu.” Titah bu Nur.
Ditatapnya seisi kelas itu sejenak. Kemudian memperkenalkan diri.
                “Perkenalkan nama saya Sandi Wardana, kalian bisa memanggil saya Dana. Saya pindahan dari SMAN 3 Jambi.” Kata anak itu.
                Sesaat setelah anak itu memperkanalkan dirinya, kelas kembali riuh, beberapa anak perempuan menebar pesona ke anak baru yang memang berperawakan tampan itu.
                “Boleh tau nomer hp nya gak??” celetuk salah satu siswi. Belum sempat si anak baru menjawab, bu Nur sudah menjawab duluan.
                “Boleh, tapi setelah jam pelajaran saya selesai. Sekarang buka buku pelajaran kalian. Dan Dana kamu boleh duduk di sebelah sana.” Kata bu Nur lalu memulai kelasnya.

**
Menit per menit lewat, bel tanda pulang sekolah menyudahi kegiatan hari itu. namun meja anak baru itu tak kunjung sepi, banyak siswi berdatangan bahkan yang dari kelas lain pun berdatangan hendak berkenalan dengannya. Dasar anak baru. Gumam Laila. Entah ada magnet apa sehingga para anak baru pasti akan banyak penggemarnya. Namun setelah beberapa bulan bakal ditinggalkan juga. Benak Laila mengingat begitulah teman sebangkunya Dio, ketika baru pindah tahun ajaran lalu, sudah ada dua siswi sekaligus yang ingin berpacaran dengannya. Tapi pada akhirnya, bak bunga kehilangan wanginya, Dio tak lebih populer setelah beberapa bulan sekolah.
                Sepuluh menit berikutnya Laila sudah berada di rumah. Rumah tampak sepi. Masuk ke dalam, dilihatnya secarik kertas di atas meja di ruang tamu. Tertulis disana.
                “Ila, mama ke rumah bi Minah, mungkin agak telat pulangnya. Makanan ada di meja.”
Ila mendengus. Kemudian berjalan ke kamarnya. Diletakkannya tas di atas meja belajar dan direbahkannya tubuh letih itu ke tempat tidur. Begitu letihnya sampai hanya butuh 15 menit dia sudah terlarut dalam tidur. Tiba-tiba . . .
                “Hei ..!! kamu Laila kan?!” teriak seorang pemuda mengagetkannya.
                “Hei.. kamu tidak apa-apa? Apa yang kamu lakukan tiduran disini?!” tanya pemuda itu begitu melihat mata gadis itu berkedip cepat.
Setelah sepenuhnya tersadar, betapa bingunnya ia. Dia berada di sebuah bangku panjang di sebuah taman. Tak begitu lama, ia mengenali tempat ini.
                “A..apa??! Apa yang kulakukan?!” katanya.
                “Kau tertidur sendirian disini. Aku tak sengaja lewat dan melihat kamu, ya.. kubangunkan saja.” Jelas pemuda itu.
Masih diselimuti rasa kebingungan yang teramat, dia menatap laki-laki yang sekarang ikut duduk di sampingnya.
                “Hei, aku Dana. Kamu?” kata pemuda itu memecah kecanggungan suasana saat itu.
                “A.. aku Laila. Bukankah tadi di sekolah kita sudah kenalan.” Kata Laila datar.
                “Oh ya? Ma’af kalau aku lupa. Banyak anak perempuan yang mendatangiku tadi.” Katanya bangga.
Mendengar kata-kata pemuda itu Laila justru merasa illfeel. Percaya diri banget nih cowok, kata Laila dalam hati.
                “Eh, kamu kenapa pindah ke sini?!” tanya Laila sedikit memiringkan kepalanya. Membuat Dana tak dapat menahan tawanya.
                “Yee.. malah ketawa.” Sambung Ila.
                “Hhh.. ma’af. Aku pindah karena kamu.” Jawab Dana iseng. Namun, deg! Detak jantung Laila berhenti sejenak, mendengar perkataan Dana. Tak ingin tampak aneh, ia menyembunyikan salah tingkahnya dan malah menjawab sinis.
                “Iih.. apaan sih. Gak lucu!” katanya. Meskipun kesannya tampak sinis, tapi Dana tahu kalau Laila tersenyum dalam hatinya.
                “Hm, sebenarnya aku pidah karena ada masalah sama orang tuaku.” Kata Dana kemudian.
Mendengar jawaban Dana, Laila tahu kalau ia berkata jujur. Hendak ia menanyakan apa sebenarnya yang terjadi. Namun, ia takut itu terlalu mengusik masalah pribadiya. Anehnya, seolah-olah dapat membaca pikiran Laila, Dana menceritakan semua yang terjadi sampai dia pindah ke Bengkulu. Diceritakanya bagaimana betapa orang tuanya memaksa hendak menyekolahkannya di sekolah tempat seorang gadis yang dijodohkan untuknya. Diceritakannya juga pilihan yang diberi orang tuanya, sekolah di Jambi International School (JIM) atau sekolah di luar kota dan tinggal bersama paman dan bibinya di daerah tersebut. Dan  saat mendengar kota itu adalah Bengkulu, Dana langsung memilih untuk sekolah jauh dari orang tuanya.
                Laila hanya termenung mendengar cerita Dana. Tak ada komentar yang terlesit di pikirannya. Ia pun tak tahu harus berbuat apa jika berada diposisi Dana saat itu.
                Selesai bercerita, Dana menatap gadis yang duduk terpaku menatap ke arahnya itu. Di lambaikannya tangannya di depan muka Laila. Tak lama kemudian Laila kembali tersadar dari lamunannya.
                “Eh, iya. Ma’af. Aku tau itu berat buat kamu untuk milih. Tapi, yakinlah itu pilihan yang terbaik.” Kata Laila sejurus kemudian.
                “Hm, aku gak pernah berbagi cerita pada orang lain sebelumnya.” Kata Dana.
                “Kamu terlalu sibuk memendam sendiri beban dalam diri kamu. Terkadang berbagi beban itu kepada orang lain jauh lebih baik daripada disimpan sendiri. Selama ini kamu memikirkannya sendiri karena kamu gak tau apa yang bisa kamu dapatkan dari berbagi.” kata Laila.
Dana menatap Laila dalam, begitupun Laila melihat lebih dalam sosok anak laki-laki yang baru dia kenal beberapa waktu itu. Melihat sifat terdalam dari Dana.
                “Eh, daripada diam terus disini. Mending keliling ini taman. Yuk!!” ajak Dana menggenggam tangan Laila dan menariknya.

**

                Keduanya semakin bertambah dekat per detiknya. Layaknya sudah lama kenal, tak ada lagi tembok canggung yang membatasi jarak mereka. Buktinya hampir tak lepas genggaman tangan Laila, dan begitupun sebaliknya Laila merasa begitu nyaman berada di setiap saat bersama Dana.
                “Hei, lihat!” seru Dana menunjuk seekor kelinci nan lucu yang melompat-lompat saling berkejaran. Tampak begitu lucu. Lihatlah mereka berdua tertawa menyaksikannya.
                “Hei itu!” sekarang gantian Laila yang berteriak menunjuk dua ekor burung merpati yang tengah bertengger berdua. Sepertinya sepasang. Indahnya.
Mereka berdua terus melanjutkan perjalanan mengitari taman itu. Angin sepoi nan sejuk menyanyikan lagu cinta menyiratkan perasaan mereka berdua. Tak ingin rasanya saat-saat ini berakhir.
“Ila, kita duduk di sana yuk, capek nih jalan terus.” Ajak Dana menunjuk satu bangku kosong tepat di bawah sebuah pohon cemara rimbun.
“Iya, aku juga capek.” Sambut Laila dengan senang hati.
Disana juga banyak pasangan lain yang juga sedang duduk berduaan menikmati terpaan angin. Betapa tenangnya suasana disini.
                “Kamu haus gak?” tanya Dana.
                “Iya nih,” jawab Laila.
                “Tunggu bentar ya,” kata Dana.
                “Oke.” Laila mengiyakan.
Tak lama kemudian Dana telah kembali. Aneh, dia hanya membawa satu botol minuman. Apa lagi sekarang? Benak Laila.
                “Hei, kok cuma satu?” Laila memberanikan diri bertanya.
                “Iya, buat kamu.” Kata Dana.
Laila kebingungan.
                “Oke, trus kamu gimana?” tanya Laila.
                “Aku taruhan kamu gak bakalan habis ini satu botol sendirian.” Kata Dana dengan nada menantang.
                “Sok  tau. Dan gimana kalau habis?” tantang Laila balik.
                “Nothing. Kalau kamu bisa menghabisinya, kamu boleh minta apa aja setelah ini.” Kata Dana.
Mendengar taruhan itu, Laila percaya diri dapat memecahkan tantangan itu.
                “Dan, kalau aku, hheh.. mustahil gak bisa??” kata Laila mencibir taruhan Dana.
Mendengar itu Dana hanya tersenyum. Kemudian menjelaskan konsekuensinya.
                “Kiss me.” Jawab Dana.
Laila sedikit terkejut, tapi karena dia yakin dia bisa menghabiskan isi botol itu, dia dengan mantap menjawab.
                “Deal.” Kata Laila.
                Sesaat kemudian botol minuman itu sudah berada ditangan Laila. Dana sudah membuka tutupnya dan memberikan sedotan untuk memudahkan Laila meminumnya.
                “Silahkan.” Kata Dana memulai tantangannya.
Tegukan demi tegukan air segar mengalir di tenggorokan gadis berambut pirang itu. Dana hanya terpaku menunggu gadis itu menyerah dan tidak bisa menghabiskan minuman teh botol itu.
                “Ayo, cepat.” Goda Dana.
Namun Laila tak menggubris, ia tetap melanjutkan taruhannya. Sedikit demi sedikit air dalam botol itu mulai meninggalkan botol. Dan tak lama lagi seluruh isi botol itu akan habis. Kemudian . . .
                “Ahh . . “ Laila meletakkan botol itu di bangku tempat mereka duduk.
Hanya tinggal seperempat botol tersisa, namun Laila benar-benar sudah tak sanggup lagi meminumnya. Ia gagal. Dana tersenyum puas.
                “Hhaha.. see? Kamu gak bisa kan.” Katanya dengan nada mengejek.
Laila hanya manyun.
Sejurus kemudian Dana mengingatkan kembali taruhannya. Mendengar itu Laila tertegun dan tak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus kulakukan? Benaknya. Ia tak pernah melakukannya sebelumnya.
                “Aku berdiri disini.” Kata Dana menggoda.
Laila terpatung untuk sesaat, kemudian dia mendekati laki-laki itu. semakin dekat, hingga mata mereka saling menatap. Semakin dekat, dan . .
                “Ila, kamu sudah pulang sayang?” teriakan ibu dari arah pintu mengagetkan dan membangunkannya dari mimpi.
                “Hah?! A..apa?! Cuma mimpi??!” kata Laila kaget begitu mengetahui kalau semua itu hanya mimpi.
Tak lama kemudian ibu sudah sampai ke kamar. Dilihatnya Laila yang begitu kusut karena baru bangun tidur kemudian diperintahkannya untuk mencuci muka. Tanpa berkata apa-apa Ila hanya beringsut dan berlalu ke kamar mandi.
                Setelah mencuci mukanya, ia duduk di kursi dapur dan termenung. Ibunya yang melihat itu lalu bertanya.
                “Eh? Kamu kenapa? Kok bengong gitu??” tanya ibunya begitu penasaran.
                “Em, nggak kok ma, Cuma tadi mimpi aneh aja. Jadi, kepikiran terus deh..” jawab Laila.
Mendengar jawaban Ila, ibunya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
                “Hm, dasar kamu mah. Mangkanya jangan tidur pas perut lagi kosong. Kan jadi mimpi aneh-aneh. Lagian kamu sih, sepulang sekolah bukannya cari makanan malah tidur.” Kata ibunya dengan nada mengejek.
                “Emang, kamu tadi mimpinya gimana?” tanya ibunya menggoda.
                “Iih.. apaan sih mama, kepo deh..” jawab Laila membalas kejahilan ibunya.
Keduanya kemudian tertawa lepas seraya melupakan semua kejadian yang terjadi.
                “Ini, makan dulu.” Kata ibunya sambil menyodorkan sepiring nasi goreng yang dibawanya dari rumah bi Minah. Tak lupa masakan ibunya juga telah tertata di atas meja.
                “Selamat makan!” teriak Laila.

Sesaat kemudian Ila telah larut dalam kelezatan masakan ibunya. Dan melupakan mimpi anehnya bersama si pangeran impian.